“Misalnya pada perempuan ada pertanyaan yang berkaitan dengan kanker payudara atau kanker serviks. Pada laki-laki tidak ada pertanyaan seperti itu. Untuk anak remaja juga ada pertanyaan khusus. Maka hasil skrining riwayat kesehatan secara mandiri akan menjadi penentu proses selanjutnya. Jika hasilnya berisiko maka akan dilanjutkan pemeriksaan lebih lanjut pada FKTP atau laboratorium yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan,” jelas Dina Anjayani.
Dia menambahkan proses pendeteksian dilakukan agar tidak terjadi sakit yang lebih parah dan dapat diobati sejak awal. Beberapa peserta yang berisiko juga diwajibkan untuk menjalani hidup yang lebih sehat. Dina Anjayani mengajak seluruh masyarakat mau dan segera melakukan skrining riwayat kesehatan.
“Saya mengajak seluruh peserta JKN untuk segera melakukan skrining riwayat kesehatan. Hal ini wajib dilakukan peserta JKN usia 15 tahun ke atas. Pengisiannya juga mudah dan hanya dibutuhkan waktu paling lama 5 menit. Dari langkah kecil ini kita telah menyelamatkan kehidupan kita dan keluarga,” tambah dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini telah digencarkan ke sekolah-sekolah melalui GENZIS (Gen Z Isi Skrining). Salah satunya SMA Negeri 1 Maumere. Para siswa memperoleh informasi dan langsung melakukan skrining riwayat kesehatan. Hal ini mendapat tanggapan positif dari seluruh peserta yang hadir.
Maria Paulina Yuni, salah seorang guru yang turut hadir mengaku sangat senang dengan kegiatan ini. Menurutnya kegiatan ini sangat bermanfaat karena dia bisa mengetahui bahwa dapat mendeteks irisiko penyakit melalui skrining riwayat kesehatan secara mandiri.
“Saya senang kegiatan ini dilakukan, kita jadi mengetahui risiko penyakit dengan skrining riwayat kesehatan, termasuk peserta didik kami yang usianya sudah bisa masuk dalam syarat skrining riwayat kesehatan,” ujar dia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












