Dia lalu membeberkan problem klasik yang dimaksudkan seperti persoalan kemiskinan, masih rendahnya produktivitas pertanian peternakan dan perikanan, serta masih terdapat banyak keluarga yang tidak mampu berobat lantaran jaminan kesehatan daerah dihentikan.
Selain itu, kata dia, terdapat banyak anak yang terpaksa putus sekolah, kesejahteraan ASN dan tenaga honor belum diperhatikan serius, infastruktur dasar masih belum memadai, masih terdapat 20 ribu rumah belum layak huni, ekonomi daerah masih dikendalikan pemodal, BUMD masih berorientasi menghabiskan dana hibah minus inovasi, dan masih banyak problem lainnya.
“Menghadapi masalah-masalah tersebut, tentu rakyat bertanya quo vadis Kabupaten Sikka?” tanya dia.

Bagi Stef Sumandi. pertanyaan tersebut sesungguhnya sudah dijawab rakyat dengan memilih pemimpinnya pada Pilkada Tahun 2024 lalu. Pemilu, kata dia, bukan sekadar kontestasi figur, melainkan juga pertarungan ide, gagasan bahkan pertarungan ideologi. Sebagai wakil rakyat yang kian hari menyelami kedalaman nurani rakyat, Stef Sumandi menemukan bahwa harapan itu sungguh serius pada saudara Juventus Prima Yoris Kago dan Simon Subandi Supriadi.
“Rakyat sadar bahwa Kabupaten Sikka bukan daerah kaya raya. Daerah yang hanya memiliki PAD 10 persen dari total pendapatan daerah. Untuk itulah rakyat menaruh kepercayaan penuh kepada pemimpin yang memiliki jaringan kencang ke tingkat pusat agar dapat mengakses anggaran yang cukup untuk pembangunan daerah ini. Figur itu hanya ditemukan dalam diri paket JOSS: Jaringan Oke, Sikka Sejahtera,” ungkap dia.
Stef Sumandi mengatakan cita-cita luhur dan harapan rakyat tersebut, telah tertuang dalam dokumen Ranperda RPJMD Kabupaten Sikka tahun 2025-2029 yang telah ditetapkan hari itu. Dokumen RPJMD ini telah berproses sesuai mekanisme peraturan yang berlaku dan telah melalui tahapan evaluasi di Propinsi NTT.


Ikuti Kami
Subscribe












