
Maumere-SuaraSikka.com: Kasus 30 ekor babi mati di Kabupaten Flores Timur, cukup meresahkan. Apalagi diberitakan babi yang mati tersebut didatangkan dari Bali.
Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Denpasar Dr. Hary Suhada, S.Pt,M.Sc, terpaksa harus angkat bicara terhadap simpang siurnya berita tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ditemui di Go Hotel Maumere, Rabu (18/1), Hary Suhada menegaskan babi yang mati di Flotim bukan didatangkan dari Bali.
“Saya mau pastikan 30 ekor babi yang mati di Flotim, bukan didatangkan dari Bali,” ujar dia tegas.
Dia menjelaskan Bantuan Ternak Babi Tahun Anggaran 2022 sejumlah 300 ekor dan pakan ternak babi sejumlah 18 ton, merupakan aspirasi dari Anggota DPR RI Dapil NTT 1 Julie Sutrisno Laiskodat.
Bantuan tersebut dilaksanakan oleh Satker BPTU-HPT Denpasar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Bantuan ini dialokasikan untuk Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Hingga Rabu (18/1) bantuan ternak yang telah didistribusikan berjumlah 150 ekor. Rinciannya Flores Timur 50 ekor didistribusi tanggal 19 Desember 2022, lalu Kabupaten Sikka 50 ekor didistribusi tanggal 19 Desember 2022, dan Ende 50 ekor didistribusi tanggal 12 Januari 2023.
Hary Suhada selaku Kepala BPTU-HPT Denpasar memastikan semua ternak babi bantuan tersebut berasal dari wilayah Propinsi NTT.
Dia menegaskan ternak babi yang sudah didistribusikan ke 3 kabupaten tersebut, semuanya dalam keadaan sehat.
Hal ini, ujar dia, dibuktikan dengan sertifikat veteriner (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dan Sertifikat Pelepasan Karantina Hewan.
“Sehingga dapat dipastikan ternak didistribusikan dalam keadaan sehat,” tegas dia.

Sementara itu Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi NTT drh. Melky Angsar, M.Sc memastikan tidak ada babi yang diambil dari luar Propinsi NTT.
Dia meyakini sekali karena adanya Instruksi Gubernur Nomor 01/Disnak/2022 yang melarang Pemasukan Ternak Babi dari luar NTT ke dalam wilayah NTT.
Melky Angsar menambahkan sebelum ternak babi didistribusikan, telah dilakukan uji laboratorium dengan metode PCR untuk penyakit ASF.
“Hasil uji menunjukkan negatif,” ujar dia.
Melengkapi hal ini, Medik Veteriner Madya BBVet Denpasar Dr. drh. I Nyoman Dibia, M.P. memastikan uji tersebut dilakukan di Laboratorium UPTD Veteriner NTT yang terakreditasi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur Sebas Sina Kleden mengungkapkan sebanyak 30 ekor babi di Kabupaten Flores Timur, mati dalam waktu sebulan terakhir.
Berdasarkan sampel yang diperiksa, babi tersebut positif mengandung virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Sebas Sina Kleden mengatakan seluruh anakan babi yang mati tersebut merupakan bantuan dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk tiga kelompok peternak di Flores Timur.
Babi tersebut dikirim dari Bali melalui Satuan Kerja (Satker) Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijaukan Pakan Ternak Denpasar.*** (eny)















