Oleh Bung Rogger Evantino, Sekretaris Jendral Lembaga Kajian Organisasi Politik dan Strategi (KORPS) Nusantara
“TERIMA KASIh Pak Ganjar telah mengubur dan menghancurkan M
mimpi besar kami untuk bermain di Piala Dunia U-20 di hadapan rakyat sendiri. Semoga suatu saat Bapak merasakan kekecewaan dan sakit hati yang sangat mendalam seperti yang kami rasakan” (tweet Striker Timnas Indonesia U-20, (@rabbanitasnim).
Saat ini, sepak bola bukan lagi sekedar sebuah cabang olahraga. Tetapi sudah menjadi sebuah industri sekaligus spirit bagi insan penggemarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepak bola menjelma dan hadir, kemudian mengakar di kalangan masyarakat, memiliki makna implisit dalam konteks sosio-historisnya, termasuk juga politik di dalamnya.
Sepak bola kini telah menjelma menjadi sebuah identitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Atau dengan kata lain sepak bola menjadi pembeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya.
Pada konteks internasional, sepak bola kemudian menjadi sebuah pembeda suatu bangsa dengan bangsa lainnya, serta sebagai simbol harkat dan martabat bangsanya dengan bangsa lainnya. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan pemahaman post- colonialism.
Prestasi negara-negara post-colonialism yang diwakili Asia dan Afrika dalam ajang sepak bola internasional, dapat dikatakan berbanding lurus dengan nasibnya setelah terjajah.
Meski banyak negara maju di Asia, tetapi tetap saja sulit bagi negara-negara Asia dan Afrika bersaing dengan negara Eropa dalam sepak bola.
Negara-negara Amerika Selatan yang juga dapat dianggap sebagai negara post-colonialism bisa dikatakan menjadi pengecualian.
Di masa pemerintahan Adolf Hitler, tim nasional Jerman digunakan sebagai mesin politik untuk membangkitkan semangat rakyat Jerman yang terpuruk krisis ekonomi di tahun 1930-an agar bangkit dari keterpurukan.
Dengan dipadu berbagai mesin politik lainnya, rakyat Jerman bangkit dari keterpurukan sebagai akibat dari kekalahan dalam Perang Dunia Pertama.
Pada saat Perang Saudara melanda Spanyol pada dekade 1930-an, Jendral Franco yang berkuasa di Spanyol menggunakan klub Real Madrid untuk mengembangkan popularitasnya.
Pemimpin Italia saat Perang Dunia Kedua, Bennito Mussolini juga dikenal sebagai penggemar setia klub Serie A Lazio.
Sebagaimana Hitler dan Jendral Franco, Mussolini menggunakan tim nasional Italia sebagai media untuk mengampanyekan popularitasnya.
Di era modern, Silvio Berlusconi memanfaatkan AC Milan sebagai media komunikasi politiknya dalam merebut jabatan Perdana Menteri Italia.
Antusias Pecinta Sepak Bola Tanah Air
Perhatian kita kemudian tertuju kepada dinamika sepak bola dalam negeri tatkala harapan publik kemudian tertuju kepada sosok Erick Tohir, setelah terpilih untuk membenahi sepak bola nasional.
Publik menaruh harapan besar pada sosok eks pemilik saham Inter Milan FC ini karena rekam jejak dan dianggap telah mendapat restu dari Presiden Joko Widodo.
Sehingga masyarakat Indonesia sangat optimis akan kemajuan dan keberlangsungan sebuah wajah baru persepakbolaan tanah air.
Iven internasional Piala Dunia U-20 yang seharusnya digelar tahun 2021 terpaksa ditunda ke tahun 2023 dengan ditetapkannya Indonesia sebagai tuan rumah oleh FIFA.
Kesempatan ini adalah momen sekaligus ajang Indonesia untuk show of kepada dunia, agar Garuda dapat terbang tinggi dan menjadi sebuah kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa yang dipercaya FIFA menjadi penyelenggara.
Euforia masyarakat terhadap sepak bola telah merasuk dalam sanubari setiap insan Indonesia, dengan berbagai dinamika dukungan dan antusiasme yang beragam.
Di samping itu mimpi Timnas Indonesia untuk bermain di piala dunia menjadi sebuah motivasi oleh hampir semua manusia Indonesia.
Riuh rendah penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah dalam gelaran Piala Dunia U-20 seolah menjadi pengobat kerinduan terbesar walaupun hanya di level usia di bawah 20 tahun.
Presiden Jokowi pun bergerak cepat dalam koordinasi dan berbagai persiapan jelang iven U-20 tersebut dengan berjibaku antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyiapkan segala infrastruktur dan persiapan teknisnya.
Publik tanah air bersorak riang penuh optimisme dengan harapan iven ini akan membangkitkan pariwisata, UMKM dan juga sektor jasa lainnya pasca pandemi.
Kehadiran Presiden FIFA di Istana Negara pada 18 Oktober 2022 yang bertemu Presiden Joko Widodo seolah mengonfirmasi akan kesiapan jelang ajang tersebut.
Peserta dalam ajang ini diikuti 24 negara peserta. Wakil CAF (Afrika) yakni Gambia, Nigeria, Senegal, dan Tunisia. Zona CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) juga memiliki empat wakil, yakni Amerika Serikat, Republik Dominika, Guatemala, dan Honduras.
CONMEBOL (Amerika Latin) diisi Brasil, Ekuador, Kolombia, dan Uruguay. Lalu OFC (Oseania) cuma mendapatkan jatah dua wakil yang diraih Fiji dan Selandia Baru. Sedangkan Eropa punya lima wakil dalam ajang ini, yaitu Inggris, Prancis, Italia, Solvakia, dan Israel.
Ukraina selaku juara bertahan tak ambil bagian dalam ajang ini karena gagal di kualifikasi.
Asia menjadi benua terakhir yang melengkapi, yakni Uzbekistan, Jepang, Korea Selatan, dan Irak.
Empat negara tersebut meraih tiket setelah menembus semifinal Piala Asia U-20 2023. Dan juga Indonesia yang otomatis menjadi peserta karena faktor tuan rumah.
Publik kemudian terhenyak, ketika status tuan rumah Indonesia dalam ajang ini dicabut oleh FIFA, imbas penolakan atas keikutsertaan Timnas Israel.
Gelombang penolakan muncul seolah mencampuradukkan sepak bola dan sikap politik Indonesia.
Pembatalan tersebut diumumkan oleh FIFA sendiri setelah Presiden Jokowi mengutus Ketua Umum PSSI Erick Tohir bertemu Presiden FIFA Gianni Invantino di Qatar, Rabu 29/03/2023.
Bagaimana tidak, persiapan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari, runtuh seketika kala FIFA mengambil keputusan akan keberlanjutan iven internasional ini.
Sikap Pemerintah
Presiden Joko Widodo tampak serius menyiapkan berbagai infrastruktur sepak bola tanah air dalam menyambut gelaran Piala Dunia U-20.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) meminta kucuran dana sekitar Rp 400 miliar untuk pelaksanaan Piala Dunia U20 tahun 2021 yang diundur menjadi Piala Dunia U-20 tahun 2023.
Pada Juni 2022 lalu, Zainudin Amali yang saat itu masih menjabat Menpora meminta tambahan dana sebesar Rp 3 triliun, di mana sebesar Rp 500 miliar digunakan untuk persiapan Piala Dunia U-20.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun 2020 telah mengalokasikan sekitar Rp 400 miliar dengan skema dalam kontrak tahun jamak.
Dan pada tahun 2023 ini, Kementerian PUPR telah mengucurkan dana sebesar Rp 175 miliar untuk revitalisasi stadion yang akan dipakai untuk perhelatan Piala Dunia U-20 2023. Lima stadion yang dipakai ada di Palembang, Bandung, Solo, Bali, dan Surabaya.
Jika dihitung sejak awal persiapan hingga H-60 maka total modal yang dikeluarkan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 telah menghabiskan Rp 1,4 triliun. Bukan sebuah angka kecil.
Konsistensi sikap Indonesia telah disampaikan oleh Joko Widodo. Bahwa perjuangan mendukung kemerdekaan Palestina adalah sikap yang telah sesuai dengan amanat konstitusi.
Namun, sikap yang sama juga harus kontekstual ketika kepercayaan oleh FIFA diberikan untuk menjadi tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U-20 pada tahun 2019 yang lalu.
Jokowi menekankan bahwa FIFA memiliki statuta yang harus dihormati. Semua pihak hendaknya bersikap secara fair dan kontektualistik mengenai polemik penolakan Timnas Israel.
Hal ini juga merupakan sikap Duta Besar Palestina untuk Indonesia yang patut dijadikan contoh oleh seluruh insan Indonesia agar tidak menyatukan politik dan sepak bola.
Erick Tohir kemudian diutus Joko Widodo untuk menjelaskan dan meyakinkan FIFA akan sikap Pemerintah Indonesia terhadap iven ini.
Namun terlambat. FIFA seolah telah merekam semua dinamika yang berkembang saat ini tentang penolakan Timnas Israel.
Paling tidak kesimpulan yang dapat ditarik adalah FIFA menginginkan sebuah gelaran turnamen yang tidak harus dicampurkan dengan sikap politik, sikap satu frekuensi dan kesamaan pandangan serta memperlakukan tamu negara peserta turnamen dengan baik.
Karena penolakan Ganjar dan Koster serta pihak lain yang masih menjadi polemik di Indonesia, maka FIFA kemudian mencabut status tuan rumah tersebut.
Bak pil pahit yang harus ditelan pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, hanya karena Ganjar dan Koster, dua kader PDIP, yang pernyataannya kemudian menjadi sorotan utama.
Penolakan Ganjar dan Wayan Koster
Hari ini, 31 Maret 2023 yang merupakan tanggal pelaksanaan drawing Piala Dunia U-20 yang sedianya dilaksanakan di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar Bali, dibatalkan FIFA.
Pembatalan tersebut diasumsikan bahwa FIFA melihat belum adanya kesamaan frekuensi atau istilah satu suara rakyat Indonesia akan penyelenggaraan ajang ini.
Pemerintah dan masyarakat seolah sedang melaksanakan ‘Tarik Tambang’ dalam konteks ini dan terlihat masih sama kuat.
Namun, munculnya sosok Ganjar Pranowo yang merupakan Gubernur Jawa Tengah dan Wayan Koster Gubernur Bali dengan manuvernya baik melalui surat kepada Menpora maupun statemen di media sosial, diduga menjadi penyebab utama batalnya drawing, berujung pada dicabutnya status Indonesia sebagai tuan rumah.
Keduanya adalah orang nomor 1 kader PDIP di wilayah masing-masing yang mana Jawa Tengah dan Bali merupakan venue penyelenggaraan iven ini.
Timnas Israel menjadi alasan utama Ganjar dan Koster dan beberapa pihak yang menolak kehadirannya di tanah air.
Keikutsertaan Israel seolah menjadi momok bagi mereka yang sok Sukarnois dan pongah dengan menamakan dirinya titisan Bung Karno atau penganut ideologi Soekarno.
Optimisme publik akan sepak bola tanah air yang sedang dibangun Erick Tohir, sosok yang dianggap independen dan bukan merupakan kader partai politik, seketika hancur berkeping-keping karena politik dicampurkan dengan olahraga.
Ganjar beralasan bahwa penolakannya terhadap kehadiran Timnas Israel yang akan bertanding di Indonesia adalah sikap yang didasarkan pada komitmen Bung Karno.
Alasan ini saya anggap merupakan sebuah sikap yang keblinger atau salah memahami sejarah sehingga aktualisasinya sudah pasti melenceng dan berbeda.
Ganjar menempatkan Soekarno sebagai sosok yang perlu ditiru sikapnya, pembelaan dan nasionalismenya. Tetapi Ganjar pun sepertinya tidak paham akan konteks yang berbeda antara sikap Soekarno di masa lalu dengan saat ini di dunia olah raga khususnya sepak bola.
Ganjar seolah memaksakan Indonesia harus kembali ke era tahun 1960-an ketika Soekarno menolak Timnas Israel di Asean Games ke IV tahun 1962.
Buntut dari penolakan tersebut status keanggotaan Indonesia di IOC ditangguhkan, dan dilarang tampil pada Sea Games V 1964. Soekarno marah lalu membuat Olimpiade tandingan bernama Ganefo.
Ganjar dan Koster yang merupakan representasi sekaligus legitimasi politik PDIP adalah pihak yang telah mencampuradukan urusan politik dan sepak bola.
Dan dapat saya katakan sebagai pihak yang keblinger dengan sejarah dan tidak memahami konteks sejarah masa lalu, dan tidak piawai dalam mengaktualisasikannya dengan dua konteks yang berbeda yakni sepak bola dan politik.
Penilaian Masyarakat dan Pembelaan PDIP yang Terlambat
Indikator Politik, sebuah lembaga survei, telah melakukan survei akan dinamika saat ini. Mayoritas rakyat Indonesia yang menginginkan Timnas Israel hadir di Indonesia berkisar di angka 53-59%.
Burhanudin Muhtadi CEO Indikator Politik menyampaikan hal tersebut dalam satu sesi pod-cast Total Politik beberapa hari lalu.
Duka bagi Timnas Indonesia U-20 dan rakyat Indonesia. Pasca Erick Tohir dan Presiden FIFA bertemu status Tuan Rumah Indonesia dibatalkan. Sontak publik sangat terpukul dengan keputusan ini.
Di lain pihak pemerintah terlihat pasrah menghadapi keputusan tersebut, dan harap-harap cemas akan sanksi yang akan dijatuhkan FIFA.
Proses penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah telah melalui proses bidding dan seleksi yang panjang. Tapi kemudian dicederai oleh penolakan yang dimotori Ganjar dan Koster.
Hasto Kristianto, Sekjen PDIP, bergerak cepat menglarifikasi tudingan akan tuntutan masyarakat. Terlihat sangat gelagapan di hadapan publik.
Dirinya memilih melaksanakan konferensi pers di Gelora Bung Karno, untuk membangkitkan semangat kolektif sejarah masa lalu.
Namun terlihat pincang dan tidak berguna, karena status tuan rumah Indonesia telah dibatalkan dan bahkan Soekarno atau Megawati sendiri pun tak bisa merubah keputusan FIFA tersebut.
Sebuah sikap yang patut saya katakan kampungan dan merupakan akumulasi dari kepongahan akan identitas Soekarno yang selama ini selalu diklaim mereka, dan ingin menunjukan bahwa hanya merekalah yang paling Soekarno-is dan Marhaen-is dari orang Indonesia lainnya.
Hal ini selalu muncul dan menjadi tafsir publik ketika sikap mereka kerap kali mempertontonkan klaim sepihak tersebut di setiap kesempatan.
Penegasan Hasto bahwa HUT PDI Perjuangan yang sedianya hendak dilaksanakan di GBK pada Januari lalu, terpaksa dipindahkan ke Kemayoran merupakan bentuk dukungan terhadap ajang Piala Dunia U-20.
Namun bukan di situ letak persoalannya untuk mengumbar kebaikan PDIP ke publik di saat semua rakyat Indonesia sedang kecewa hari ini.
Hasto mencoba untuk beretorika dan terlihat gelagapan ketika awak media mencoba menghubungkan penolakan kader PDIP yang mengapa baru dilakukan saat ini.
Penegasan tersebut seolah memohon kembali agar rakyat tidak menghukum Partai Banteng dan para petugas partainya terutama Ganjar Pranowo di tahun 2024 mendatang.
Beda sikap Puan Maharani dalam kapasitas sebagai Ketua DPR-RI pada iven Inter Parliamentary Union (IPU) 2022 yang lalu terhadap kehadiran parlemen Israel di Bali kemudian menjadi pertanyaan masyarakat.
Komitmen PDIP akan JASMERAH-nya dipertanyakan seolah memberi pengecualian bagi Parlemen Israel dan tidak untuk Timnas Israel.
Sikap Puan terlihat santai saat acara tersebut, dibanding Ganjar yang kini digadang-gadang menjadi Capres dari PDIP 2024 mendatang, yang menolak.
Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo yang juga merupakan kader PDIP nampak kecewa akan keputusan FIFA.
Persiapan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari dan juga jeri payah semua pihak dalam mempersiapkan iven tersebut, akhirnya tidak berguna sedikit pun.
Gibran bahkan meminta awak media untuk menafsirkan sendiri siapa sosok yang paling bertanggungjawab.
Gibran dan Ganjar seolah tidak sejalan, padahal keduanya adalah kader PDIP yang lahir dan menjadi pemimpin dari rahim PDIP.
Ganjar kemudian muncul lagi di media sosial pasca keputusan FIFA, dan ikutan kecewa. Sebuah sandiwara kampungan yang dilakukan Gubernur berambut putih ini, seolah dirinya bebas dari rekam jejak digital yang telah direkam publik beberapa hari lalu.
Petugas Partai yang tadinya menolak kedatangan Timnas Israel, kini ikutan kecewa karena Indonesia gagal menjadi tuan rumah. Sikap lempar batu sembunyi tangan Ganjar ini pun kemudian dicemooh seantero publik.
Penilaian masyarakat tentu semakin jelas. Siapa saja mereka yang menjadi penyebab FIFA membatalkan status tuan rumah Indonesia dalam gelaran Piala Dunia U-20.
Ganjar dan PDIP tengah sibuk dan panik mengambil langkah klarifikasi dan juga rasionalisasi dengan berbagai cara agar masyarakat tidak marah.
Sebuah sikap yang sudah bukan rahasia yakni “Playing Victim” patut disematkan pada mereka yang selalu merasa paling Marhaen dan paling Soekarnois selama ini.
Rakyat berhak marah dan kecewa kepada Ganjar. Sosok yang tadinya diharapkan menjadi penerus Jokowi dengan identitas rambut putihnya, kini mulai dibenci dan dihujat sekaligus diminta pertanggungjawaban atas sikap keblingernya.
Jokowi seolah berjalan sendiri dengan para kader PDIP lainnya. Sikap Jokowi yang sangat lihai dalam melihat perpolitikan Indonesia dan enggan mencampuradukannya dengan sepak bola, gagal ditiru Ganjar dan seolah menjadi antitesa dari pribadi Jokowi sendiri.
Kesedihan Publik dan Punggawa Timnas Indonesia U-20
Luapan emosi berseliweran di jagat media sosial tanah air paska Indonesia dicabut statusnya sebagai tuan rumah.
Para pemain Timnas Indonesia U-20 pun kompak bersama warganet mengutarakan kekecewaannya kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melalui kolom komentar postingan akun Instagram pribadi Ganjar (@ganjar_pranowo).
“Makasih Banyak Pak. O Iya Pak Kami Tau Pak Nasib Bapak Sudah Terjamin, Masa Depan Bapak Juga Sudah Baguss, Sedangkan Kami Pak? Kami Baru Mau Merintis Karir Menjadi Lebih Baik, Tapi Batu Lompatan Kita Udah Diancurin Sm Bapak,” tulis salah satu pemain Timnas U-20, Hokky Caraka (@hokkycaraka_), dikutip Kamis (30/3/2023).
Ekspresi Kekecewaan Punggawa Timnas U-20
Tidak hanya Hokky, gelandang Timnas Indonesia U-20 Marselino Ferdinan juga meluapkan kekecewaannya kepada Ganjar. Dia menggunakan bahasa Jawa.
“Sehat-sehat nggeh pak. Rapopo pak ra ngamuk kok aku. Pokok e seger waras nggeh (Sehat-sehat, ya, pak. Enggak apa-apa, pak, enggak marah, kok, saya. Pokoknya sehat-sehat, ya,),” tulis Marselino Ferdinan (@marselinoferdinan10).
Striker Timnas Indonesia U-20 Rabani Tasnim memposting hal berikut.
“Terima Kasih
Pak Ganjar Telah Mengubur Dan Menghancurkan Mimpi Besar Kami Untuk Bermain Di Piala Dunia U-20 di Hadapan Rakyat Sendiri. Semoga suatu saat Bapak merasakan kekecewaan dan sakit hati yang sangat mendalam seperti yang kami rasakan”. Tweet Striker Timnas Indonesia U-20, Rabbani Tasnim (@rabbanitasnim).
Ganjar dan Koster Antitesa Jokowidodo
Sikap yang ditunjukan Ganjar dan Koster adalah merupakan antitesa Joko Widodo dan menjadi menarik untuk dibahas.
Ganjar sudah berbeda dengan Jokowi. Sosok Wayan Koster yang merupakan Gubernur Bali tidak terlalu disorot. Lain halnya dengan Ganjar Pranowo. Ganjar dianggap menjadi biang kerok pembatalan status tuan rumah Indonesia bersama Koster.
Wajar saja, Ganjar belakangan sangat popouler di setiap lembaga survei dan dipercaya publik menjadi penerus Jokowi. Namun kini berbeda sikap 180 derajat.
Pengamat politik tanah air dan juga pegiat media sosial ramai-ramai menyerang Ganjar. Sebagian beranggapan bahwa harapan Ganjar sebagai penerus Jokowi kini telah sirna karena sikap dan keblingeran akan pemahaman sejarahnya. Sebuah konsekuensi yang harus diterima Ganjar akan kemarahan rakyat Indonesia.
Dirinya tak lagi dianggap memenuhi kriteria penerus Joko Widodo, karena telah melukai hati pecinta sepak bola tanah air dan seluruh masyarakat Indonesia.
Patut kita nantikan harapan masyarakat akan sosok penerus dan pengganti Joko Widodo haruslah sosok yang bukan merupakan antitesa, tetapi harus seiring sejalan dengannya sekaligus menjadikan Jokowi sebagai role model dalam setiap konteks permasalahan yang akan dijawab dengan sikap, kebijakan baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
Loyalitas dan totalitas tanpa batas oleh mereka yang selama ini digadang-gadang menjadi penerus Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2024 mendatang, hendaknya menjadi acuan masyarakat dalam memilih pemimpin masa depan yang mampu berpikir dan bertindak secara kontekstual termasuk dalam hal sepak bola dan politik.
Siapakah sosok yang dinilai loyal dan total terhadap Jokowi selama ini?? Jawabannya bukan diperoleh melalui pemandangan di sawah di Kebumen, tetapi ada di Timur
Matahari yang sudah terpatri dalam relung hati para pembaca sekalian. Terima kasih.***
Ditulis oleh Rogger Evantino, mantan Ketua Komisiariat GMNI STTNAS Yogyakarta,
Komisiaris PT MEDIA KORPS NUSANTARA, saat ini Berdomisili di Jakarta















