Mengasah Parang, Mengasa Rezeki

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 31 Juli 2019 - 19:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 164 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Carolus Boromeus pengrajin parang dan pisau di Desa Nele Barat Kecamatan Nele

Carolus Boromeus pengrajin parang dan pisau di Desa Nele Barat Kecamatan Nele

Seorang lak-laki tua, tanpa mengenakan baju. Tampak duduk menepi di sudut tedang. Dia asyik memainkan gurinda. Benda tajam itu menari-nari pada sebatang  besi. Matanya terus melotot tak berkedip pada besi itu. Percik-percik api keluar dari persinggungan gurinda dan batang besi. Setelah 2-3 menit dia berhenti.
Lalu Carolus Boromeus, laki-laki itu, memperhatikan besi sepanjang 50 centimeter yang jadi objek pekerjaannya. Dia membolak-balik, melihatnya dengan mata telanjang. Kemudian gurinda kembali menari-nari. Setelah itu dia berhenti dan mencermati lagi besi itu. Berkali-kali seperti itu. Sampai dia yakin besi yang digurinda sudah berubah bentuk menjadi parang yang layak dijual.
Mengasah parang, demikian rutinitas setiap hari laki-laki berusia 50-an tahun itu. Sudah lebih dari 30 tahun, dia bergelut setia sebagai pengrajin parang. Hari itu, Senin (29/7), keasyikan bekerja, sampai dia tidak menghiraukan hiruk-pikuk tetangga yang berebutan air bersih dari mobil tangki milik BPBD Sikka.
Warga Dusun Natarlorong Desa Nele Barat Kecamatan Nele Kabupaten Sikka itu, setiap hari menghasilkan 5 buah parang dan pisau. Jika sudah banyak terkumpul, sekitar 20-30 buah, dia menjualnya di Pasar Alok Maumere. Biasanya dia ke Pasar Alok pada setiap hari Selasa, hari pasar. Pengalamannya, pada hari pasar banyak konsumen yang membutuhkan parang atau pisau.
Sebilah parang dijualnya dengan harga Rp 150.000. Berbeda dengan satu bilah pisau yang dihargai Rp 100.000. Jika sedang mujur, setiap hari pasar, Carolus Boromeus bisa melepas 10-15 pisau dan parang. Kalau lagi benar-benar beruntung, pisau dan parang yang dia bawa semuanya laris terjual. Sebaliknya, kalau lagi apes, dia terpaksa pulang tangan hampa.
Carolus Boromeus bekerja secara mandiri. Batang fer mobil yang tidak terpakai, itulah bahan baku utama. Biasanya dia membeli batang fer dari pengumpul besi tua. Satu kilogram harganya Rp 12.000. Dia selalu berupaya membeli secukupnya, karena terbentur modal.
Mengasah Parang, Mengasa Rezeki
Yohanes Nong Vivi sedang menempa parang yangdibentuk dari batang fer mobil
Kalau batang fer sudah ada, Carolus Boromeus mulai memotongnya sesuai ukuran dan bentuk parang atau pisau. Lalu parang dan pisau yang masih kasar itu, dia panaskan di bara api. Setelah itu dia mulai menempa dengan hammer yang besar, untuk mendapatkan ketebalan. Terkadang dia dibantu keluarganya. Seperti hari itu, dia dibantu Yohanes Nong Vivi, seorang pemuda yang berusia sekitar 30-an tahun.
Proses memotong batang fer, membakarnya di bara api, dan menempa, dilakukan di belakang rumah. Carolus Boromeus membangun sebuah pondok, dijadikan semacam dapur, untuk memperlancar kerjanya. Dari tempat itu dia berpeluh keringat, mengasa rezeki.
Dia punya tiga anak yang masih kecil. Semuanya masih sekolah. Dari usaha mengasah parang, Carolus Boromeus menghidupkan keluarganya. Istrinya hanya seorang ibu rumah tangga sederhana, yang rutinitas mengurus rumah tangga.
Bicara modal usaha, pria berbadan gempal kekar itu tampak senyum saja. Ada banyak pengrajin parang di tempat itu, tapi semuanya bermodalkan sendiri-sendiri. Dia mendambakan jika dibentuk kelompok, lalu mendapat bantuan modal melalui dana desa. Tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menembus kebuntuan itu.*** (vicky da gomez)
Baca Juga :  Belum Kembalikan Kelebihan Tunjangan Perumahan Rp 1,4 Miliar, Jaksa Periksa Anggota DPRD Sikka

Berita Terkait

Belum Kembalikan Kelebihan Tunjangan Perumahan Rp 1,4 Miliar, Jaksa Periksa Anggota DPRD Sikka
TKA SMP Digelar 6 April 2026, Ini Jumlah Soal, Materi, dan Waktu Pelaksanaannya
Koordinasi Dinas PKO dan Kemenag Sikka Tidak Efektif, Anggaran TPG THR dan Gaji 13 Kurang Rp 986 Juta Lebih
Hasil Audit Inspektorat Sikka, Fisik Puskesmas Tuanggeo Mentok di 55,79 Persen
Sikka dan Lembata Raih UHC Award Kategori Pratama
Bupati Sikka Lantik 17 Pejabat Eselon 2, Delapan OPD Masih Kosong
Isu Rotasi Mutasi di Sikka Menguat, Pelantikan Dikabarkan Sebelum Tutup Tahun
Wakil Ketua Komisi XIII Andreas Hugo Pareira Apresiasi Karya Jurnalistik Perspektif HAM

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:49 WITA

Bantuan Sapi Kurban Presiden dari APBN Tuai Kontroversi, Gerindra Sebut Sah dan Tidak Langgar Aturan

Rabu, 27 Mei 2026 - 23:04 WITA

Kemendikdasmen Umumkan Hasil TKA SD dan SMP 2026, Ini Hasilnya!

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:53 WITA

Melchias Mekeng Kutuk Keras Pembubaran Ibadah di Bantul

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:45 WITA

Dirut BPJS Kesehatan Dorong Generasi Muda Cegah DM dan Hipertensi melalui Fun Run 2026

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:37 WITA

Final FA Cup, Semenyo Tabur Garam di Atas Luka The Blues

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:17 WITA

Prabowo Resmikan 1.061 Kopdes Merah Putih

Minggu, 26 April 2026 - 08:29 WITA

Agnes Aditya Rahajeng asal Banten Raih Puteri Indonesia 2026

Minggu, 12 April 2026 - 23:38 WITA

Puluhan Bupati Jadi Dalang Korupsi, Bukti Ketamakan Akut Pejabat

Berita Terbaru