“Jadilah Guru yang Terus Bergerak dan Menggerakkan Sesama, Menginspirasi, Memberi Contoh, Membimbing, Memotivasi, dan Mengapresiasi“
Memilih profesi sebagai guru bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Menjadi guru berarti menjadi motor penggerak sekaligus mesin produksi sumber daya manusia bangsa yang aktif, kreatif, inovatif, produktif, dan berkualitas.
Profesi dan profesionalisme guru sebagai motor penggerak bertujuan untuk mendorong kelajuan dan kemajuan bangsa menuju kualitas peradaban dan persaingan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah melalui Kemendikbud Ristek telah memulai revolusi pendidikan sejak tahun 2019 di tingkat dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi. Konsep yang diusung dalam revolusi ini adalah merdeka belajar di semua aspek pendidikan formal.
Konsep merdeka belajar menjadi salah satu alternatif kebijakan Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang sudah dan sedang dijalani saat ini.
Konsep merdeka belajar mencakup empat perubahan pokok antara lain, pertama, Ujian Nasional digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerasi yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA (Programme for International Student Assesment).
Berbeda dengan UN yang dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan, asesmen akan dilaksanakan di kelas 5, 8, dan 11. Hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
Kedua, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diserahkan ke sekolah. Sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
Ketiga, penyederhanaan RPP sebagai administrasi guru diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan kompetensi Peserta Didik.
Dan keempat, sistem penerimaan peserta didik baru melalui zonasi.
Peran Guru yang Merdeka
Revolusi pendidikan mengundang kehadiran guru dalam konteks merdeka belajar tidak sekedar mengisi dan mentransfer pengetahuan.
Namun, guru harus menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dengan menghargai segala pengalaman belajar peserta didik, minat, bakat, serta potensi-potensi peserta didik yang sudah ada, sehingga dapat bersinergi dalam pembelajaran kontekstual sesuai target cita-cita harapan masa depan bangsa.
Di lingkungan sekolah, guru dan peserta didik harus menjadi warga sekolah yang paling merdeka dan menikmati kemerdekaan pembelajaran yang terstruktur sesuai perencanaan kurikulum pembelajaran.
Guru yang merdeka akan menjadi kompas dalam tujuan pembelajaran, proaktif merancang dan membimbing kebutuhan belajar peserta didik sesuai visi dan misi yang ingin dicapai.
Guru yang merdeka harus mampu mentransformasikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik sehingga ada target dan hasil pencapaian serapan kurikulum merdeka belajar berupa hard skill dan soft skill.
Guru yang merdeka akan terus bergerak dan menggerakkan perkembangan belajar peserta didik, selalu memberi inspirasi, memberi contoh, memotivasi, mengapresiasi, serta menguatkan pertumbuhan belajar peserta didik secara holistik dan komprehensif sesuai bakat dan minat yang dimiliki peserta didik.
Guru yang merdeka dapat membentuk dan menciptakan generasi milenial yang merdeka, pelajar Pancasila harapan bangsa yang cerdas, terampil, dan berkarakter tangguh.
Kembali kita menggarisbawahi makna pendidikan sesungguhnya sebagai pusat pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian sehingga terbentuknya kognitif, psikomotorik, afektif peserta didik yang berkualitas.
Peran guru sebagai tenaga pendidik di lingkungan sekolah sekurangnya dapat memfasilitasi dan menguatkan pertumbuhan dan perkembangan merdeka belajar secara holistik dan komprehensif.
Secara holistik artinya seorang guru mampu mengelola pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan dan utuh melalui pengembangan seluruh potensi sosio-emosi, potensi intelektual, penguatan moral, dan spiritual, serta penguatan kreativitas.
Sedangkan secara komprehensif artinya, menuntut guru untuk mengelola pembelajaran kontekstual yang dapat menggerakkan, membimbing, dan menguatkan peserta didik sehingga memiliki kemampuan utuh, menangkap atau menerima, serta menunjukkan wawasan yang luas dan lengkap dalam pelayanan kehidupan di lingkungan masyarakat.
Nah, untuk mendorong perkembangan belajar secara holistik dan komprehensif, maka guru harus dibekali konsep yang luas dan keterampilan yang memadai dalam kolaborasi pembelajaran konseptual dan kontekstual.
Program Guru Belajar harus menjadi syarat mutlak untuk memacu kemerdekaan berpikir guru.
Selain itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dan ilmiah dipastikan sedapat mungkin membuka ruang gerak kurikulum tingkat satuan pendidikan sehingga mampu mewadahi kesempatan bagi peserta didik dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas belajar yang religius, berkarakter, merdeka, berdaulat, adil, beradab, dan makmur dalan konsep pendidikan gotong royong yang lebih merdeka.
Magang Bahasa dan Seni
Kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya merupakan wujud nyata semangat awal Merdeka Belajar SMPK Frater Maumere (Spater Mof) yang berpusat pada siswa. Siswa diberi ruang kreativitas dan inovasi yang seluas-luasnya untuk belajar menggali minat dan menguatkan bakatnya melalui pembelajaran yang lebih kontekstual.
Beberapa uraian fundamental di atas kemudian melahirkan salah satu program kerja SMPK Frater Maumere berupa kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya Tahun Ajaran 2021/2022.
Kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya melibatkan peserta didik SMPK Frater Maumere Kelas 7, 8, dan 9 sebanyak 1.025 peserta.
Semangat awal kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya SMPK Frater Maumere merupakan wujud nyata partisipasi guru-guru terbaik SMPK Frater Maumere untuk menolong penguatan peran generasi mileneal dan semangat kaum kuda Spater Mof dalam merawat peradaban bangsa.
Kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya menjadi salah satu produk Program Kerja SMPK Frater Maumere yang bertujuan memberi layanan pendidikan secara kontekstual pada SMPK Frater Maumere.
Kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya memberi wadah bagi peserta didik Spater Mof untuk dilatih, dibimbing, dibentuk sehingga memperoleh pengalaman hard skill dan soft skill.
Berdasarkan pengakuan dari peserta didik yang sekaligus merupakan peserta Magang Bahasa dan Seni Budaya bahwa mereka merasakan ada suasana baru dalam pembelajaran di lingkungan belajar SMPK Frater Maumere Tahun 2021.
Para peserta didik merasakan kebahagiaan tersendiri karena diberikan kesempatan untuk tampil berkarya dan berkreasi melalui panggung pameran dan panggung pementasan Spater Mof yang akan dilaksanakan pada puncak kegiatan magang pada tanggal 20 November 2021.
Transformasi Peran Guru
Kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya Spater Mof juga membuktikan bahwa peran pendidikan tak semata-semata hanya pada kegiatan mentransfer pengetahuan, tetapi transformasi peran guru dari peran sebagai pengajar yang lokus dan fokusnya pada pembelajaran kelas yang konseptual telah berubah menjadi pembelajaran yang kontekstual.
Lakon guru pun berubah menjadi Guru Fasilitator, Guru Penggerak, Guru Motivator, Guru Pelatih, dan Mentor untuk peserta didik.
Lokus guru pun lebih leluasa, bisa di luar ruangan kelas atau pun di lingkungan masyarakat sekitarnya yang dapat diajak berkolaborasi dalam pembelajaran.
Memang ada kata bijak yang sering kita dengar bahwa guru bukanlah orang-orang hebat. Namun, guru bermutu bisa melahirkan orang hebat dengan sejuta karya hebatnya. Guru bermutu tak hanya mengisi atau mentransfer pengetahuan, tetapi harus mampu menggerakkan pengalaman belajar peserta didik pada ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan orientasi kreativitas cipta dan karya.
Guru hebat tidak hanya bercerita, tetapi mampu menumbuhkan mimpi-mimpi peserta didik dan mampu memotivasi generasi pembelajar untuk terus belajar.
Akhir catatan refleksi ini, sebagai guru sekaligus Ketua TBM SMPK Frater Maumere, saya mengajak para guru terbaik SMPK Frater Maumere untuk terus bergerak dan menggerakkan sesama dengan semangat hati yang berbela rasa.
Kerja sama dan semangat kebersamaan dalam kegiatan Magang Bahasa dan Seni Budaya adalah wujud nyata spirit pelayanan hati kita yang sejalan dengan ketulusan Bunda Hati Kudus dan pelindung kita Santo Yoseph.
Kita adalah guru yang merdeka untuk hadir membersamai peserta didik dan menolong masa depan generasi mileneal Sikka dan NTT umumnya.
Sekali lagi, terima Kasih para guru terbaik Mardiwiyata, Guru-Guru Terbaik SMP Katolik Frater Maumere.
Salam Literasi!
Maumere, 28 Oktober 2021
Ditulis oleh Carlos Toulwala, S.Pd, staf pengajar pada SMPK Frater Maumere, staf Bidang Kesiswaan SMPK Frater Maumere,
Ketua TBM SMPK Frater Maumere, tinggal di Maumere















