“SAYA TANTANG seorang Marianus Gaharpung sang idola Medsos Nian SIKKA untuk maju Pilkada SIKKA 2024…siapa tau SIKKA bersih dan Indah dari semua KASUS”.
Sengaja Saya kutip postingan di atas, yang ditulis pemilik akun Facebook bernama Yoche Mali, 3 hari lalu.
Saya menangkap postingan ini sebagai sebuah situasi emosional seorang Yoche Mali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi emosional yang beragam: ada tantangan, ada realitas, ada harapan. Tantangan muncul karena pengakuan yang jujur akan realitas Kabupaten Sikka yang buruk akhir-akhir ini. Dan untuk itulah dia menaruh harapan kepada Saya.
Dalam waktu sekejap, muncul lagi postingan, yang kian memastikan situasi batin Yoche Mali.
“CUMAN bisa BEROPINI di MEDSOS
membuat DIRI seperti KUNCI INGGRIS
tau segala hal…ternyata seorang pesuruh juga dan hanya sebuah TONG KOSONG”.
Meski tidak menyebut siapa bidikannya, postingan ini bisa ditebak ke mana cara berpikir Yoche Mali. Sebuah cara berpikir yang kekanak-kanakan atas berbagai kritikan konstruktif Saya.
Komitmen Sikap
Sikap kritis membedah realita penerapan hukum tata kelola administrasi pemerintahan dan pembangunan Nian Tana tidak pernah berhenti. Itu sudah menjadi komitmen akademik untuk Nian Tana.
Daya kritis itu sudah berkarakter. Dan ini sudah dialirkan sejak beberapa generasi kepemimpinan Kabupaten Sikka, dari Bupati Paulus Moa, Alexander Longginus, Sosimus Mitang, Yoseph Ansar Rera, dan hingga kini Bupati Robi Idong.
Nanti setelah Robi Idong lengser pada September 2023, dan siapapun yang mendapat mandat politik masyarakat pada Pilkada 2024 mendatang, sikap kritis tidak akan kendor.
Kami akan beri apresiasi jika apa yang dilakukan sang pemimpin berdampak positif terhadap pembangunan Nian Tana.
Sebaliknya, jika realitanya negatif, apalagi yang dipertontonkan terutama maraknya korupsi, maka nurani akademik pasti berontak untuk membedahnya dari aspek hukum.
Siapapun di Nian Tana tidak bisa mencegah hal ini. Kami berhenti beropini jika Nian Tana sudah mengalami kemajuan.
Karena misi akademik yang positif dan progresif adalah bagaimana talenta akademik bisa berperan serta memberikan kontribusi pemikiran untuk Nian Tana.
Kami mempunyai alasan rasional yakni
memiliki awareness yang tinggi, dan memosisikan diri dengan sikap tegas tanpa tedeng aling-aling.
Kami selalu berusaha berpikir analitis logik argumentatif dan tidak pernah menyerang pribadi pemimpin siapapun.
Persoalan maraknya korupsi, uang fee proyek, proyek mangkrak, jual beli bendera proyek, penggunaan dana pinjaman daerah yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Predikat WTP hanya simbol semu penuh tipu daya. Sertipikat hak milik pribadi Neldis bendahara pembantu yang kini tersangka dana BTT 2021 diambil begitu saja tanpa penetapan pengadilan dijamin demi meraih WTP dalam tata kelola keuangan Pemkab Sikka.
Semua realita ini Bupati Sikka Robi Idong harus bertanggungjawab sebagai pemimpin yang menjalankan kewenangan desentralisasi di Kabupaten Sikka.
Kami melakukan kajian hukum, selalu berpikiran terbuka dan tidak merasa paling benar. Dengan harapan ada feedback (umpan balik) melalui pemikiran ilmiah cerdas, logik serta argumentatif pula dari putra putri unggul Nian Tana.
Harapan itu tidak pernah terwujud. Entahlah. Ada banyak alasan tentunya. Salah satunya, mungkin saja, orang lebih suka menampilkan kekanak-kanakan, seperti gaya main Yoche Mali.
Kritik Bupati Sikka, Bukan Robi Idong
Saya bersama Pa Petrus Selestinus datang ke Nian Tana Sikka, ikut kampanye akbar di Lapangan Umum Kota Baru untuk Paket Roma (Robi dan Romanus).
Kami terjun ke situ, bukan untuk kepentingan perut kami. Juga bukan untuk mendapatkan sesuatu berupa materi. Tidak juga untuk mendapatkan jabatan.
Kami berada dalam pusaran Roma, karena kami temukan ada harapan baru dalam diri pribadi seorang Robi Idong.
Dia anak muda yang gagah, pintar, dan hampir pasti bagi kami, dia bakal bisa memberikan amunisi segar dan baru buat Nian Tana yang lebih baik.
Suatu waktu, dalam perjumpaan di Nara Room, sempat ada diskusi yang melibatkan sejumlah orang, termasuk Robi Idong dalam status sebagai Calon Bupati Sikka.
Saya meyakinkan bahwa Robi Idong pasti jadi Bupati Sikka. Tekanan Saya waktu itu adalah harus bekerja jujur.
Sambil itu ada sejumlah catatan wanti-wanti kepada Robi Idong terkait penegakkan hukum dalam tata kelola administrasi pemerintahan.
Kami mewanti-wanti agar dia menghindari perilaku koruptif di kalangan oknum-oknum pejabat. Perilaku koruptif itu seperti uang fee proyek, mark up, dan memeras kontraktor.
Apa reaksi Robi Idong? Dengan penuh keyakinan pula, sambil menyapa Saya dengan panggilan Om, dia merespon positip apa yang kami sampaikan.
Jawaban atas sikap kami itulah yang mendorong kami ikut terlibat menjadi juru kampanye saat kampanye akbar untuk paket Roma.
Ternyata, realita hari ini, keadaan Nian Tana justeru berbalik 180 derajat. Dugaan korupsi antri, fee proyek bergentayangan pada oknum-oknum ASN/pejabat, perilaku meras kontraktor, proyek gagal di mana-mana, uang pinjaman daerah tidak jelas realisasinya, dan masih banyak masalah yang semuanya terang benderang di mata publik Nian Tana.
Fakta-fakta ini kemudian menggugah dan mengganggu jiwa akademisi kami. Lalu, apakah kami harus terus “hosana” terhadap Bupati Sikka yang gagal?
Di sinilah, letak perbedaan antara akademisi untuk Nian Tana dengan oknum-oknum oportunis yang tidak punya harga diri. Oknum-oknum itu berkeliaran di Nian Tana Sikka dengan terus menyerang pribadi kami dan Pa Petrus Selestinus.
Bisa saja, dalam benak oknum-oknum opportunis, lebih berpikir dangkal, emang gue pikirin terpenting idolaku selalu the best.
Padahal realita menggambarkan terjadi aksi demonstrasi aktifis PMKRI Maumere, Jaringan HAM Sikka, dan aktifis Cipayung Plus, terhadap tata kelola pemerintahan Bupati Sikka yang jelek.
Apakah kami sakit hati terhadap Bupati Sikka? Jawaban jelas, ya sakit hati. Kami sakit hati karena janji dan realita ternyata berbanding terbalik alias nol putul.
Kami sakit hati bukan karena tidak mendapatkan keuntungan ekomomis seperti layaknya oknum-oknum oportunis.
Kaum Opportunis
Kritik yang logik serta argumentatif bagi kami lumrah. Itu makanan keseharian di dunia perguruan tinggi.
Justeru kami sangat kaget ketika jawaban atas kritik kami ternyata melalui serangan pribadi kami, termasuk dengan menggunakan akun palsu.
Ternyata oknum-oknum ini jiwanya kerdil, opportunis, karena ketidakmampuan memberikan kritik dengan narasi yang logik dan argumentatif.
Mereka selalu menganggap setiap tulisan (opini) kami menyerang pribadi Robi Idong.
Oknum-oknum seperti ini jika terus terpelihara jangan berharap Nian Tana akan berkembang. Sebab dalam benaknya, hanya ada logika transaksional yang sempit “saya omong apa, entar saya dapat apa“.
Yoece Mali salah satu dari akun akun asli dan palsu Nian Tana yang terus bergentayangan. Saya membaca statemen anak muda ini.
“Kamu maju calon Bupati 2024 sudah…biar SIKKA ini bersih…siapa tau garis tangan dirimu sangat berpihak daripada kamu terus berkoar di medsos….”
Ada lagi, “Sakit hati ya….mari ke Maumere…bawa bukti2mu….dripada berkoar di medsos”.
Jujur kami sangat kaget. Anda ini kan, kalau tidak salah, pesuruh (pegawai) di Kantor Notaris/PPAT yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia hukum. Seharusnya nalar hukummu logik dan argumentatif ketika memberi kritik.
Saya hanya mulai bilang kepada Yoche Mali pendukung setia orang nomor satu Nian Tana ini. Jika Anda termasuk salah satu orang muda masa depan Nian Tana, mari berpolemik dengan opini hukum yang logik argumentatif serta prediktabilitas. Bukan dengan gaya cerdik dangkal dan seakan merendahkan dirimu sendiri yang berkecimpung di kantor notaris.
Salah satu contoh kedangkalan pemikiran Anda……..”sakit hati ya mari ke Maumere bawa bukti buktimu”.
Ternyata Anda ini tidak mampu membedakan dalil pembuktian dalam perdata dan pidana. Sehingga ketika Saya mendalilkan dalam opini bahwa Bupati Sikka harus diperiksa Kejaksaan, maka Anda suruh harus membawa bukti.
Lucu! Rendah sekali nalar hukummu.
Ingat! Jangan menghentikan nurani akademik untuk Nian Tana yang lebih baik.
Kami terus mengkritisi siapapun pemimpin Nian Sikka termasuk Bupati Sikka idolamu itu, jika korupsi terus menggurita antara oknum pejabat, kontraktor serta tim sukses.
Sebab ciri orang-orang opportunis,
tak pernah mau berusaha memperhatikan perkataan orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.
Gemar mengolok-olok pihak lain, tak teratur dalam bertutur serta suka ngeyel.
Kami tunggu narasi ilmiahmu membela Bupati Sikka agar Anda tidak dicap termasuk oknum opportunis Nian Tana. Semoga.***
Ditulis oleh Marianus Gaharpung, dosen FH Ubaya, tinggal di Surabaya















