BELUM reda kedukaan atas berpulangnya Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, Minggu, 19 Nopember 2023 lalu, dan Kamis, 23 Nopember 2023 dimakamkan dengan khidmat dan agung di Ende.
Datang lagi berita mengejutkan dari Maumere. Siflan Angi, politisi dan aktivis pemberani itu telah meninggal dunia, sesaat setelah berorasi dalam aksi demonstrasi damai terkait kasus penyelewengan dana sertifikasi guru di depan Kantor Kejaksaan Negeri Sikka.
Refleks saya berkata, Siflan sudah siap, Mgr Sensi menyayangi Siflan. Selamat jalan Aji neku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti Alexander Agung itu, mati muda dalam peperangan atau gerakan perjuangan adalah suatu kejayaan.
In Memoriam
Siflan mula-mula di masa awal reformasi tahun 2000-an bergabung dalam Partai Katolik Demokrat (PKD) pimpinan Markus Mali.
Saya sempat melihat Siflan ikut memanggul peti jenazah abang saya, AHM Harry Say di Bandara Waioti menuju ke rumah duka. Abang saya ini sempat cuti sebagai diplomat untuk ikut kontestasi Pileg DPR RI, 1999, sebagai caleg PKD dari Flores.
Ketika bertugas di Dili Timor Leste, dia meninggal dunia, Agustus 2003 karena serangan jantung. Lalu diterbangkan ke Maumere via Jakarta.
Setelah PKD menjadi PKDI, saya dengar bahwa Siflan, kader tangguh asal Mbengu Paga ini berpindah partai ke Partai Patriot. Kemudian saat ini bergabung dengan Partai Nasdem.
Siflan pernah 2 atau 3 kali menjadi anggota DPRD Sikka. Siflan di Maumere terkenal vokal dan lantang.
Dalam Pilkada Sikka 2008, saya sempat bersinggungan dengan Siflan. Semula Siflan mendukung Aleks Longginus dan Henyo Kerong (AYO).
Namun di akhir kontestasi, Siflan justru menjadi salah satu motor utama yang memenangkan Sosimus Mitang dan Damianus Wera (SODA) di wilayah Lio.
Saat pengumuman hasil Pilkada Sikka 2008 oleh KPUD Sikka di Hotel Benggoan Maumere, Siflan sempat berbisik kepada saya,” Ka’e jangan marah, ini permainan politik saja“.
Tahun 2009-2010, dalam aktivitas saya sebagai salah satu Koordinator Program Konservasi Terumbu Karang (COREMAP) di Maumere, saya sering datang bertugas ke wilayah Wolowiro, Maulo’o dan Paga. Kampung halaman Siflan. Saya tak pernah bertemu Siflan di sana.
Tetapi nama Siflan sangat tenar di sana. Ketika berbincang bincang dengan para sesepuh dan pemuda di sana seperti bapa Herman Dato, Om Mbomba, atau Yoli Gama, nama Siflan sering jadi topik pembicaraan yang menarik.
Siflan misalnya disebut dalam Pileg 2009 pernah berjanji kepada masyarakat Paga bahwa bila dia dipilih dan didukung orang Paga, maka dia akan mendorong Paga menjadi destinasi pariwisata baru dengan menghadirkan wisatawan dari Australia. Jadi orang Paga punya kesempatan berjodoh dengan bule-bule dari Australia.
Tahun 2019, di awal kekuasaan Bupati Robi Idong di Maumere, ketika Siflan didukung pengacara Doktor Stefanus Roy Rening, SH, berniat melaporkan Bupati Sikka itu kepada polisi atas dugaan mark up tunjangan ADPRD Sikka dan pencemaran nama baik.
Saya sempat mengirimkan pesan kepadanya agar bersedia cooling down dan memberi kesempatan bagi Bupati Robi Idong yang baru terpilih itu untuk mulai bekerja.
Siflan membalas pesan saya dengan menegaskan bahwa demi kebenaran dia siap melawan.
5 tahun belakangan ini, Siflan di Maumere dikenal sebagai pegiat kemanusiaan dan HAM yang gigih dan selalu turun ke jalan untuk memprotes berbagai kebijakan dan langkah pemerintah daerah yang dianggapnya sebagai penyelewengan kekuasaan.
Dalam suatu giat advokasi bersama Truk F Maumere dan Padma Jakarta terhadap suatu permasalahan ketenagakerjaan di Maumere, Siflan setahun yang lalu pernah datang ke Jakarta bertemu berbagai pihak terkait, termasuk melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi 3 DPR RI di Senayan.
Perjuangan Siflan yang sempat disiarkan oleh berbagai media saat itu nampak penuh semangat dan bernyali.
Jelang pileg 2024, tepatnya di antara bulan April-Mei 2023, saya sempat beberapa kali menemani Roy Rening, SH keliling Flores, melakukan sosialisasi dirinya sebagai Bacaleg Perindo.
Roy Rening adalah rekan Siflan di PMKRI. Hubungan personal di antara keduanya sangat dekat. Siflan menghormati Roy. Demikian pun sebaliknya.
Siflan walaupun sudah bergabung dengan Nasdem, tetap datang bertemu Roy Rening di Hotel Wailiti Maumere dan berdiskusi tentang mapping, taktik dan strategi pemenangan bagi Roy Rening kelak, khususnya di wilayah Maumere.
Bagaimana pun saat itu, Siflan pernah berbisik dalam nada menyesal kepada saya, “Ka’e kenapa Roy mesti membela Lukas Enembe yang korup itu?”.
Saya hanya bisa menjawab bahwa itu adalah bagian dari profesi pengacara.
Tangkap, Gantung, Kebiri
Orang Lio Maumere dalam panggung politik memiliki beberapa figur yang menonjol.
Di level nasional tentu saja nama Frans Seda dan Sentis da Costa. Nama Daniel Woda Palle sebagai politisi birokrat juga tercatat berkibar di Maumere maupun Kupang.
Sekira 20 tahun belakangan ini, Siflan Angi, entah ketika sebagai wakil rakyat di DPRD atau tidak, dia selalu tampil menonjol, vokal dan lantang dengan karakter khas Lio. Wajahnya legam dan garang, suara baritonnya tegas, dan kata-katanya tajam mengiris ulu hati.
Di panggung orasi atau pun di media sosial, tak tanggung-tanggung, Siflan biasa menyerukan tangkap, gantung dan kebiri bagi pelaku korupsi dan penyelewengan kekuasaan lainnya.
Sikap dan nyali Siflan ini mengingatkan saya pada Sentis da Costa muda, ketika dia memimpin demonstrasi menolak sistem kerajaan di Maumere, 1953 dengan semboyan BEKU. Atau ketika Sentis yang konsisten dan loyal, teguh mempertahankan Pancasila dan UUD 45 di Konstituante, 1956-1959.
RIP Aji Siflan
Beberapa sahabat dekat Siflan di PMKRI pasti tahu betul bahwa jiwa korsa, loyalitas persahabatan, respek kepada senior panutan adalah sisi-sisi personal lain Siflan yang gemar bergurau ini.
Dia seperti paham ilmu huruf Jawa. Bila dihormati dia akan merunduk. Sebaliknya bila direndahkan maka dia akan melawan sehabisnya. Sangat khas Lio.
Jalan bae-bae Ade.***
Catatan GF Didinong Say, warga diaspora NTT, tinggal di Jakarta


Ikuti Kami
Subscribe












