Bukan tidak mungkin bakal terjadi, di belakang SEN, di belakang YY, bisa saja akan muncul kasus-kasus kematian berikutnya. DBD dan Rabies sudah “membunuh” banyak warga Kabupaten Sikka. Lalu apakah masyarakat Kabupaten Sikka harus menerima peristiwa duka ini sebagai hal yang biasa?
Sesungguhnya DBD dan Rabies bisa dicegah. Terlalu banyak cara dan strategi untuk menghentikan keganasan dua penyakit mematikan ini.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak cara dan strategi yang telah dilakukan pemerintah daerah, instansi teknis, termasuk berbagai kelompok elemen masyarakat. Namun harus diakui bahwa seluruh energi itu belum maksimal. Buktinya, masih saja ada korban yang “mati sia-sia”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu sejatinya Paskah yang kita rayakan sebagai kemenangan, sebagai peralihan dari duka menuju kegembiraan, dari belenggu menuju kebebasan, dari keadaan yang lama menuju yang baru, perlu dimaknai sebagai momentum kebangkitan melawan DBD dan Rabies.
Seluruh rakyat Kabupaten Sikka, baik kelompok masyarakat maupun lembaga-lembaga, dalam koordinasi pemerintah yang berperspektif melindungi rakyatnya, harus bangkit dalam kesadaran dan gerakan bersama mengenyahkan DBD dan Rabies dari muka bumi Nian Sikka.
Kesadaran dan gerakan bersama, mungkin ini yang kurang diefektifkan selama ini. Padahal praktiknya sangat sederhana. Misalnya, kesadaran untuk memberantas nyamuk aedes aegypti dengan setiap saat melakukan 3M Plus. Atau kesadaran untuk vaksinasi hewan penular rabies. Hal yang sederhana, tapi nyatanya sukar dilaksanakan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












