“Jangan sampai kehadiran SPBU malah justeru membunuh Sub Penyalur BBM dan orang-orang yang ada di belakangnya,” ujar dia.
Konflik politik para politisi asal Kecamatan Nita ini makin dipertajam dengan pendapat Leonardus Winarto. Dia meminta pemerintah agar bertindak mengikuti aturan.
“Kembali ke aturan, konsultasi ke Pertamina dan BPH Migas. Contoh di Rote Ndao, Sub Penyalur angkat kaki setelah ada penyalur,” tegas dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yuslin Nursivin Dua Botha kemudian menentang pendapat soal keadilan ekonomi. Bagi dia, keadilan ekonomi sangat tergambarkan ketika konsumen akan memilih harga jual BBM yang lebih murah dari SPBU dibandingkan harga dari Sub Penyalur BBM.

Dirut CV Cino Lako Jaya Yohanes Susilo Widi Yanto menyebut usaha Sub Penyalur BBM sudah dia rintis sejak tahun 2016 ketika masih dalam status Pom Mini. Dia baru bisa beroperasi pada tahun 2021.
“Proses yang begitu rumit, lama, dan saya menunggu dengan sabar hingga bisa beroperasi. Saya hanya memohon agar saya juga bisa dimanusiakan sebagai manusia,” ujar lelaki berdarah Nita kelahiran Jakarta itu.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












