“Masalah air bersih, MCK, cuci baju dan cuci alat makan perlu diantisipasi. Jika tidak, maka penyakit diare akan muncul dan dengan segera meluas di antara para pengungsi,” kesan awal Dokter Asep Purnama.

Dapur Umum
Di depan SDK Hikong terdapat dapur umum yang dikelola para pejuang kemanusiaan lainnya terdiri dari Tagana, TNI, unsur pemerintahan desa, dan lain-lain.
Setiap hari mereka menanak nasi sebanyak 135 kilogram untuk sekitar 1.300 pengungsi dan warga sekitar. Untuk makan pagi, makan siang dan makan malam, masing-masing dimasak 45 kilogram beras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini pekerjaan tidak mudah. Bayangkan setiap hari memasak bagi 1.300 pengungsi setiap hari. Artinya bagian dapur umum ibaratnya melakukan pesta pernikahan dengan undangan 1.300 orang, dan pesta pernikahan itu berlangsung setiap hari sampai waktu yang tidak terbatas. Sampai erupsi gunung Lewotobi berhenti,” ujar dia prihatin.
Sebagaimana pantauannya, dari aspek logistik permakanan, bahan kering seperti supermie, sarden, corned dan lain-lain masih tersedia. Problem utama pada bahan basah seperti sayur-sayuran. Beruntung terdapat bantuan freezer, sehingga bisa menampung bantuan sayur-sayuran dan ikan basah.
Salah seorang pengungsi yang sedang aktif memotong sayuran di dapur umum nampak menangis. Ibu separuh baya itu meratapi kepergian adiknya yang menjadi korban erupsi Gunung Lewotobi


Ikuti Kami
Subscribe












