Simon bukanlah pemilik dosa lama itu, tetapi faktanya hari ini, dia harus memikulnya. Dia diwariskan sebuah sistem yang telah lama dikotori oleh aktor-aktor yang mengatur soal harga dan distribusi. Dalam posisi ini, Simon tidak punya banyak pilihan selain berani membersihkan lantai tempat dia berdiri, atau tenggelam bersama kotoran yang ditinggalkan para pendahulunya.
Sosok Simon Aloysius Mantiri berbeda dengan pendahulunya yang cenderung reaktif dan gemar menyalahkan sistem. Simon tampil dengan pendekatan yang lebih tenang namun tegas. Dia tidak membela diri, tidak menyalahkan pihak lain, tapi memilih bertanggung jawab secara moral di hadapan publik.
Saat publik masih terkejut atas terbongkarnya korupsi tersebut, Simon mengambil langkah yang tidak biasa dengan tampil menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini bukan sekadar gestur politis, tetapi sinyal kuat bahwa kepemimpinannya berangkat dari kesadaran moral dan komitmen untuk membenahi institusi dari dalam dengan kekuatan leadership yang tinggi.
Kepemimpinan Simon layak dicatat dalam lembar sejarah BUMN karena dia mengambil alih komando di tengah badai. Dia bukan bagian dari masa lalu, namun tidak mengelak dari beban masa lalu itu. Dia tidak rnencuci tangan, dan tidak berlindung di balik argumen baru menjabat, tetapi mengambil posisi bertanggungjawab atas krisis yang diwarisi.
Kepemimpinan di Pertamina hari ini tidak bisa lagi hanya soal manajemen korporasi. Ini soal pertaruhan harga diri bangsa. Saat publik menjerit karena harga BBM dan distribusi energi tidak merata, para mafia di ruang gelap masih mengatur permainan dengan wajah tenang. Maka, satu satunya jalan adalah “zero tolerance” terhadap mereka yang terlibat, baik itu dari internal Patra Niaga maupun aktor lain di sekitarnya. Mandat Presiden Prabowo yang ingin menegakkan kedaulatan energi kini ada di tangan Simon Mantiri.


Ikuti Kami
Subscribe












