Di balik kalimat permintaan maaf Simon, tersimpan kenyataan getir bahwa hari ini Pertamina tidak sedang baik-baik saja. Permintaan maaf dari pucuk pimpinan bukan hal yang biasa dalam kultur BUMN yang cenderung defensif. Namun, inilah pil pahit yang harus ditelan. Publik pantas kecewa karena negara dirugikan trilunan rupiah, dan kepercayaan terhadap tata kelola energi terguncang.
Namun di sisi lain, permintaan maaf ini bisa menjadi momentum awal bagi PT Pertamina untuk penataan ulang. Dalam konteks budaya korporasi BUMN yang cenderung feodal dan tertutup, sikap Simon ini merupakan anomali sekaligus harapan. Permintaan maaf Simon adalah isyarat bahwa ada kesadaran dari dalam Pertamina sendiri bahwa sistem mereka bermasalah.
Namun permintaan maaf saja tidak cukup. Perlu langkah nyata seperti audit menyeluruh, rotasi pejabat larna yang terindikasi bermain mata, serta keterbukaan terhadap aparat hukum dan publik. Ini bukan saatnya melindungi reputasi institusi dengan diam, tetapi saatnya membangun kembali kepercayaan rakyat dengan tindakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Permintaan maaf Simon meskipun pahit, bisa menjadi pijakan moral untuk babak baru reformasi PT Pertamina. Namun pertanyaan terbesarnya adalah apakah maaf ini akan diikuti oleh keberanian untuk bersih-bersih tanpa kompromi, atau akan berhenti sebagai kalimat manis penenang amarah publik?
Harapan Baru Tata Kelola Energi Nasional
Jika bicara tentang tata kelola energi dalam mendukung ketahanan energi nasional, maka tidak bisa tidak, harus terlebih dahulu membersihkan rumah dari dalam. Ketahanan energi bukan hanya soal kapasitas produksi, kilang modern, atau subsidi yang tepat sasaran.
Tata kelola energi nasional juga sangat bergantung pada integritas sistem distribusi, transparansi pengadaan, dan akuntabilitas manajemen. Apa gunanya cadangan energi melimpah jika sistem yang mengelolanya penuh lubang korupsi?


Ikuti Kami
Subscribe












