Karena sudah tidak lagi bekerja sebagai sopir di Labuan Bajo, laki-laki ini pun memutuskan kembali ke Maumere. Dia terpaksa banting stir menjadi petani dan pekerjaan lain demi menafkahi istri dan anak-anak. Iuran JKN pun mulai tertunggak.
“Kewajiban saya sebagai peserta untuk membayar rutin, namun tidak disangka kondisi ekonomi berubah-ubah,” terang dia.
Dalam kondisi terhimpit ekonomi, Matias bersyukur karena perangkat desa mendata keluarga yang tidak mampu, dan mendaftarkan dia dan keluarganya menjadi peserta JKN tanggungan pemerintah. Matias dan keluarga terdaftar pada segmen Peserta Bantuan luran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang iurannya rutin dibayarkan pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Puji Tuhan saya sudah terdaftar lagi menjadi peserta JKN. Saya tidak habis pikir waktu jadi peserta mandiri saya sering menunggak. Menjadi peserta JKN dengan bantuan pemerintah saat ini membuat saya lega sekali. Saya tenang karena istri dan anak-anak juga kepesertaan JKN nya aktif. Saya merasa tenang, walaupun saya tidak ingin sakit. Tapi kemungkinan di depan kita tidak tahu akan seperti apa,” cerita dia.
Sejak pertama menjadi peserta JKN, Matias memilih Puskesmas Waigete sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempatnya terdaftar. Dia memilih FKTP tersebut karena lebih dekat dari tempat tinggalnya. Kalau anak-anak sakit dia selalu membawa berobat ke Puskesmas Waigete.
“Anak-anak kadang sakit panas, batuk, pilek. Biasanya istri saya bawa berobat di Puskesmas. Di sana kami dilayani dengan sangat baik. Dokter maupun perawat melayani dengan sangat baik. Kami diberikan obat dan semua sudah ditanggung Program JKN. Kami tidak pernah diminta biaya,” ujar dia gembira.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












