Bagi AHP, peristiwa bunuh diri seorang anak sekolah dasar tidak bisa dilihat sebagai persoalan tunggal. Doa menilai terdapat indikasi masalah sosial yang lebih luas, mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar.
“Bagaimanapun, peristiwa ini merupakan tamparan untuk kita sebagai masyarakat ketika seorang bocah meninggal tragis karena putus asa, hilangnya perhatian, hilangnya kasih sayang dari keluarga, dari masyarakat,” ujar dia.
Menurut dia, tanggung jawab sosial seharusnya mendorong semua pihak untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak-anak, terutama di wilayah dengan keterbatasan ekonomi dan akses layanan sosial. Idealnya, kata dia, tanggung jawab sosial masyarakat seharusnya terusik untuk menjadi tumpuan menyelamatkan generasi anak-anak agar ini tumbuh dewasa, menjadi manusia yang kemudian berguna bagi masyarakat, daerah dan bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
AHP mengakui negara belum sepenuhnya mampu mengentaskan kemiskinan. Namun, hemat dia, faktor ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya alasan pembenar atas tragedi yang merenggut nyawa seorang anak.
“Negara belum mampu mengentaskan kemiskinan, iya. Tapi faktor keluarga, faktor masyarakat, sekolah, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tentu juga seharusnya bertanggungjawab, paling tidak sangat prihatin dengan peristiwa ini,” ujar dia.
Sebelumnya diketahui YBR, siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada meninggal dunia karena bunuh diri. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa dan menyebut sosok ibu korban.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












