Rudolfus Paskalis Dhika menyebut ruas jalan Ndete-Tanah Merah berjarak tidak sampai 5 kilometer. Tetapi waktu tempuh dengan kendaraan bermotor bisa lebih dari 30 menit karena jalan yang penuh dengan lubang. Ketangkasan pelintas dan ketahanan ke daraan bermotor menjadi faktor penting ketika melintasi ruas jalan ini.
Menurut dia, ruas jalan ini cukup ramai setiap harinya, karena menghubungkan 2 desa sentra tanaman pangan terbesar di Kecamatan Magepanda, bahkan Kabulaten Sikka.
Ruas jalan ini terakhir diaspal pada tahun 2004, saat Kabupaten Sikka dipimpin Bupati Alexander Longginus. Lalu, 13 tahun kemudian, di masa Bupati Yoseph Ansar Rera, diperbaiki dengan rabat sekitar 900 meter. Hingga kini, setelah 8 tahun, tidak ada lagi intervensi pembangunan pada ruas jalan tersebut. Kini, keluh dia, dari Ndete hingga Woloboa, ruas jalan ini seperti tidak lagi diingat dalam peta prioritas pembangunan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dan kami bertanya dengan nada lembut. Berapa lagi nyawa yang harus jadi berita? Berapa lagi ibu hamil yang harus mempertaruhkan keselamatan di atas batu dan lumpur? Berapa ton padi yang harus terguncang sebelum perhatian benar-benar datang?” tanya Rudolfis Paskalis Dhika.
Dia mengatakan warga Magepanda tidak meminta yang mewah. Warga hanya meminta jalan yang layak agar sakit tidak berubah jadi maut hanya karena terlambat sampai, agar hasil panen tidak rusak sebelum tiba di pasar, agar warga desa tidak merasa menjadi warga kelas dua di tanahnya sendiri.
“Pemkab Sikka, dengarlah suara dari Magepanda.
Pembangunan bukan hanya soal angka di laporan. Pembangunan adalah tentang akses hidup yang adil, tentang hadirnya negara di saat rakyatnya membutuhkan. Jalan Ndete-Tanah Merah bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah soal kemanusiaan.
Dan kemanusiaan tak boleh ditunda,'” seru dia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












