



Maumere-SuaraSikka.com: Pemerintah Kabupaten Sikka di bawah kepemimpinan Bupati Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Bupati Simon Subandi Supriadi dituding gagal melaksanakan pengentasan kemiskinan. Salah satu indikator yang jelas terlihat yakni bantuan pendidikan pada tahun 2025.
Anggaran beasiswa penuh dialokasikan sebesar Rp 1,5 miliar. Faktanya, yang terealisasi hanya sekitar Rp 455 juta untuk 75 mahasiswa. Padahal anggaran ini dialokasikan untuk mendukung program unggulan Bupati Sikka 1 keluarga miskin ekstrim 1 sarjana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Fraksi Perindo Lukas Lero mengaku prihatin atas gagalnya pelaksanaan anggaran bantuan pendidikan dengan tingkat serapan anggaran hanya 30,5 persen.
“Kami ingin menegaskan dengan sangat jelas bahwa ini bukan sekadar persoalan administratif, ini adalah kegagalan serius dalam menjalankan program yang menyasar kelompok paling rentan dalam masyarakat,” tegas Lukas Lero dalam Pendapat Akhir Fraksi atas LKPJ Bupati Sikka Akhir Tahun 2025, Jumat (27/3).
Menurut Fraksi Partai Perindo, jika dihitung secara sederhana, dengan rata-rata bantuan sekitar Rp 6 juta per mahasiswa, maka anggaran Rp 1,5 miliar seharusnya mampu menjangkau sekitar 250 mahasiswa dari keluarga miskin ekstrim. Namun kenyataannya, hanya 75 mahasiswa yang menerima. Artinya, terdapat sekitar 175 anak dari keluarga miskin ekstrim yang kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
“Padahal, di saat yang sama, kita mengetahui bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Sikka masih berada pada angka 11,25 persen, dan masih terdapat kelompok masyarakat dalam kategori miskin ekstrim,” ungkap dia.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












