Catatan tentang Konservasi Komodo dan Padar

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 2 Agustus 2022 - 12:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 121 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

G.F. Didinong Say

G.F. Didinong Say

Kebijakan konservasi hewan purba di Pulau Komodo dan Pulau Padar dibarengi dengan penetapan tarif masuk baru yang meningkat drastis di kedua pulau tersebut, telah menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat belakangan ini.

Kebijakan ini semakin mendapatkan resistensi, terutama di kalangan pegiat wisata di Labuan Bajo karena mengingat sosialisasi yang minim dan tergesa-gesa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikuatirkan akan segera berdampak pada penyusutan omzet di berbagai tingkat supply chain. Mengamati fenomena pengelolaan kekuasaan di NTT, muncul pula bias asumsi konspiratif terkait agenda monopoli kapitalistik.

Tampilnya BUMD PT Flobamor yang nyaris tak memiliki track record dalam hal konservasi Komodo maupun soal soal tourism services menimbulkan pertanyaan besar.

Ada pihak yang menilai bahwa kebijakan konservasi yang dibarengi penaikan tarif masuk itu setali tiga uang dengan privatisasi.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pernah berkoar akan bersaing dengan Australia. Wakil Gubernur NTT Yoseph Nae Soi pernah dengan penuh semangat menghayalkan Komodo Jurassic Park yang menampilkan atraksi pertarungan antar komodo serta pesta kawin satwa purba yang langkah itu.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Visi Vikjoss ini tentu serta merta berhubungan dengan long term and big investment. Dari mana duitnya, itu hanya soal financial engineering.

Jelang zaman metaverse ini, bahkan lahan di Monas dan Istana Negara juga bisa dikapitalisasi.

Sesungguhnya, program konservasi dan environmental itu sangat penting. Kehadiran biawak komodo bukan sekedar mengenai kepurbaan tetapi juga tentang kemampuan mensiasati masa depan.

Kepariwisataan dengan menjual kepurbaan serta syahwat biawak komodo itu hanya hiburan buat anak-anak atau penggemar foto selfie dan mungkin untuk pengidap kelainan sex.

Seorang turis menginap di Sea World Club Maumere 1989, ketika saya tanya apakah berminat ke pulau Komodo, lalu berujar bahwa dia berlibur ke Indonesia not for that stupid animal.

Maka program konservasi seharusnya terkait dengan riset dan pengembangan. Terlalu banyak peluang investasi juga di situ. Bekerja sama dengan lembaga riset internasional di bidang farmasi, misalnya akan mampu mendatangkan uang banyak.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Di sisi lain, peningkatan tarif masuk di lahan konservasi dengan sistem pengelolaan yang terkesan monopolistik dari kedatangan hingga kepulangan turis itu juga terkesan kemaruk mengeliminir peran enterpreneur lokal lainnya.

Pengelolaan konservasi yang tertutup itu juga sangat terbuka bagi penyelewengan. Kontrol publik atas aset negara akan semakin minim.

Bukan tidak mungkin dalam kawasan TNK kelak akan muncul amfiteater gladiator biawak komodo untuk menghibur kaum haus darah? Atau restricted area untuk kaum nudis dan prostitusi? Atau arena perjudian?

Dugaan-dugaan seperti ini bukan nyinyir atau mengada ada. Investasi kapitalisme itu profit oriented bukan lembaga sosial. Kalau bisa untung kenapa buntung?***

Ditulis oleh Drs. G.F Didinong Say, diaspora Flobamora di Jakarta

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:26 WITA

237 Penyintas Gempa di Gelora Samador da Cunha Maumere Pulang ke Rumah

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:08 WITA

Bupati Sikka Serius Pilkades Serentak Digelar Tahun Ini, Golkar dan Demokrat Tolak

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:31 WITA

Dugaan Korupsi Bencana di Sikka, Bantuan Seng untuk 5.000 Rumah Belum Teralisir

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:01 WITA

Cair! Rp 200 Miliar dari Presiden untuk Penanggulangan Bencana di NTT

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:35 WITA

BTT di Sikka Naik Seribu Persen Lebih, DPRD Ingatkan Potensi Pidana

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WITA

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Uskup Maumere Kunjungi 92 Pasien RSUD TC Hillers Maumere yang Dirawat di Tenda Darurat

Berita Terbaru

Petugas kesehatan dari TNI memeriksa kesehatan penyintas gempa bumi yang hendak pulang ke rumah, Senin (24/8)

Bencana Alam

237 Penyintas Gempa di Gelora Samador da Cunha Maumere Pulang ke Rumah

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:26 WITA

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sewaktu berkunjung ke Maumere, Rabu (19/8)

Bencana Alam

Cair! Rp 200 Miliar dari Presiden untuk Penanggulangan Bencana di NTT

Selasa, 25 Agu 2026 - 07:01 WITA

Suasana Rapat Paripurna DPRD Sikka, Senin (24/8)

Bencana Alam

BTT di Sikka Naik Seribu Persen Lebih, DPRD Ingatkan Potensi Pidana

Senin, 24 Agu 2026 - 21:35 WITA