PADA akhir tahun 2021, orang ramai bicara tentang wacana pembangunan menara lonceng. Diskursus seru terjadi pada berbagai ruang dan waktu. Banyak yang ragu jika rencana tersebut dapat diwujudnyatakan.
Tidak perlu butuh waktu lama. Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dengan gaya dan caranya berhasil menghentikan pro kontra itu.
Bersama Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu — 2 Pebruari 2022 — Bupati Sikka melakukan peletakkan batu pertama pembangunan menara lonceng di Gelora Samador da Cunha Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Sikka menjawab keraguan para pihak yang belum percaya dan ragu akan rencana tersebut. Dia seakan menepis predikat “tukang janji” yang sering dilekatkan pada dirinya.
Suasana penuh kegembiraan terlihat pada wajah Bupati Sikka. Dia pantas bergembira, karena gagasan besar itu akhirnya mulai diwujudnyatakan.
Sejak hari itu, nama Bupati Sikka semakin populis. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan sebagai seorang kepala daerah, Menara Lonceng kian menaikkan popularitas dan daya tawar.
Banyak orang tidak segan-segan memberikan jempol dan apresiasi. Bahkan ada yang mulai berspekulasi politis, dengan menggiring opini kelayakan Bupati Sikka berlanjut 2 periode.
Yah, menara lonceng, kebijakan flamboyan pada akhir-akhir masa jabatan, seakan ikut menggetarkan denyut politik penghuni Kabupaten Sikka.
Satu tahun berlalu. Hari ini, 2 Pebruari 2023, mestinya fisik menara lonceng sudah berkisar 50 persen, bahkan lebih.
Itu kalau merujuk kepada keyakinan Ketua Pembangunan Menara Lonceng Adrianus Firminus Parera bahwa pembangunan direncanakan dalam 2 tahun.
Ternyata! Jangankan 50 persen. Satu batu tambahan pada peletakkan batu pertama, itu saja tidak ada. Aduhhhh, mama sayang eeeee.
Saya kembali teringat pernyataan Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera yang adalah Ketua Panitia Pembangunan Menara Lonceng, 4 hari setelah peletakkan batu pertama. Waktu itu sama sekali tidak ada progress pembangunan.
Adrianus Firminus Parera beralasan Panitia sedang konsolidasi penetapan rencana operasional.
Oh, sebuah argumentasi yang begitu luar biasa. Argumentasi yang meyakinkan sekali, seolah menggambarkan bagaimana situasi kerja cepat, kerja cerdas, dan kerja hebat Panitia.
Pertanyaannya, adakah konsolidasi sebagaimana dimaksud Sekda Sikka? Kalau ada, seperti apakah hasil konsolidasi?
Sekarang sudah hari ke-365. Masih adakah omong kosong tentang konsolidasi penetapan rencana operasional? Semoga tidak ada lagi banyolan-banyolan baru untuk menyelamatkan dan mengamankan diri.
Yah, gegap gempita dan semangat yang menggebu-gebu satu tahun lalu, ternyata hanya sebuah prank. Boleh dibilang ini adalah bentuk prank paling konyol di dunia.
Menara lonceng benar-benar menjadi prank yang sukses menipu banyak orang. Di satu sisi, satu dunia tertipu oleh kesombongan intelektual. Di sisi lain, satu dunia tertipu oleh miskinnya kemampuan berpikir.
Alhasil, gagasan menara lonceng yang mulia itu, naga-naganya hanya mau menggambarkan kekerdilan ide dan menunjukkan kebekuan otak.
Mereka yang terlibat dalam megaproyek Rp 12 miliar ini, sepertinya terkungkung dalam cara berpikir dan bertindak sendiri. Mereka menganggap diri sok cerdas dan sok hebat.
Fakta 1 tahun usia peletakkan batu pertama, tidak bisa dipungkiri bahwa ada yang salah dengan rencana pembangunan menara lonceng. Salahnya di mana?
Dengan kondisi kekinian hari ini, semua orang bisa saja meyakini terjadi kesalahan yang sangat kompleks dan tidak berdiri sendiri. Akar dari kesalahan yang sangat kompleks ini adalah leadership.*** (vicky da gomez)















