


SEPAK BOLA NTT akhir-akhir ini diramaikan dengan kehadiran supporter militan. Seperti pemain keduabelas, mereka juga ikut berlaga dengan cara dan bentuk yang lain.
Para gila bola militan ini mengenakan jersey tim kebanggaan. Mereka menyatu dalam soliditas dan daya juang yang tinggi. Menyanyi dan menyanyi, dari pluit kick off sampai selesai pertandingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rata-rata lagu yang dinyanyikan masih adopsi dari supporter di Jawa sana. Mereka tinggal menyesuaikan saja. Belakangan ada yang mulai sedikit kreatif, membuat dan menciptakan sendiri lagu-lagu perjuangan.
Supporter militan seperti ini biasanya tidak peduli hasil yang diraih tim kebanggaan. Itu terlihat dari sepenggal syair, menang kalah dan seri, ku tetap bernyanyi.
Sikka punya Persami Mania. Ende dengan Red Boys 58. Ngada punya Ngada Mania. Lembata ada Lomblen Mania. Juga Flotim dengan Perseftim Mania.
Makin asyik lagi, para supporter ini mengusung jargon-jargon unik. Hanya satu kata, menggunakan bahasa daerah masing-masing. Tapi maknanya sangat dalam.
Teriakan Horo, pasti dari Sikka. Kalau Rore, sudah pasti untuk Ende. Meju, itu punya Ngada. Baleo, hanya ada di Lembata.
Sejarah
Supporter militan yang terkoordinir, mulai terlihat pada edisi ETMC 2015 di Kabupaten Sikka. Saat itu terbentuk kelompok supporter pendukung Persami Maumere yang diberi nama Persami Mania.
Persami Mania dibentuk berawal dari kekalahan tim tuan rumah Persami 1-2 dari Persadaya SBD pada laga pembukaan.
Hasil buruk ini tentu saja membuat malu fans Persami. Mereka tidak ingin Tim Hijau Putih terus-menerus dipermalukan di kandang sendiri.
Sekelompok anak muda mulai bergerak membentuk pemain keduabelas. Malam itu juga langsung dilakukan pertemuan.
Anak-anak muda ini kemudian setiap hari latihan menyanyi, dengan chan-chan yang diadopsi dari supporter tim-tim ternama di Malang, Surabaya dan Jakarta.
Persami Mania mulai eksis pada laga kedua Persami. Ekspresi dan kreatifitas mereka terus ditingkatkan setiap kali Persami berlaga. Gelora Samador da Cunha yang kering dan tandus spontan berubah segar akibat lautan hijau.
Persami yang kalah di pertandingan pembuka, seolah mendapat suntikan stamina baru dari Persami Mania. Alhasil Laskar Nian Tana keluar sebagai juara.
Dua tahun kemudian, edisi ETMC 2017 di Kabupaten Ende, muncul lagi Ultras Ende. Stadion Marilonga menjadi merah setiap kali Perse bermain.
Ngada Mania ikut meramaikan suasana saat itu. Persami Mania tidak diam. Mereka pun away ke kandang lawan.
ETMC 2019 di Kabupaten Malaka, hanya Persami Mania yang tampil gagah. Supporter lain sepertinya belum berani away. Tidak kelihatan supporter pendukung PS Malaka.
Di Kabupaten Lembata tahun 2022, antusias makin tinggi. Persami Mania dan Red Boys 58 muncul di Tanah Lomblen.
Mereka tidak sendiri. Lomblen Mania tampil perdana mendukung Persebata. Muncul juga perdana Perseftim Mania mendukung Perseftim.
Memang ada catatan buruk di tahun itu. Supporter Perseftim mengamuk, lalu merobohkan pagar batas dan bench, hingga mengganggu jalannya pertandingan Perseftim dan Perse.
Kini di Kabupaten Rote Ndao, edisi 2023. Persami Mania masih setia away sejak laga pembuka. Red Boys 58 datang kemudian. Begitu juga Lomblen Mania dan Perseftim Mania. Dalam perjalanan muncul juga supporter PS Kota Kupang.
Bagaimana suppporter tuan rumah? Tidak ada yang terkoordinir secara baik. Hanya terlihat sekelompok anak sekolah dasar yang semangat mendukung Perserond.
Mereka menyanyi 1 chan yang diulang-ulang terus, sambil diiringi dentuman drum band.
Ya, pemain keduabelas selalu memberi warna tersendiri pada turnamen sekelas Liga 3 ETMC.
Persami Mania, Red Boys 58, Lomblen Mania, Perseftim Mania, setidaknya telah memberikan hiburan khas kepada kaum gila bola dan masyarakat Rote Ndao.
Mereka anti rusuh. Mereka anti rasis. Mereka cinta damai. Sepak bola NTT terus bergairah dengan kehadiran kelompok-kelompok supporter seperti ini.*** (vicky da gomez)















