


Maumere-SuaraSikka.com: Dinamika di Terminal Lokaria dan Terminal Madawat di Kabupaten Sikka mulai memanas akibat amburadulnya pengaturan kendaaran penumpang. Tidak adanya keseriusan penertiban, bisa berdampak konflik. Pemerintah daerah setempat diminta jangan tinggal diam.
Situasi terbaru terjadi pada Kamis (29/1). Puluhan sopir angkutan dalam kota (Angkot) melakukan aksi ke Kantor Dinas Perhubungan Sikka dan Kantor UPTD Pengelola Prasarana Teknis Perhubungan Wilayah III. Mereka mempersoalkan fungsi terminal, bebasnya kendaraan AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) membawa penumpang ke dalam kota, pikup yang mengangkut penumpang, serta aktivitas ojek di dalam terminal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Galang, salah satu sopir Angkot menyebut persoalan ini mengganggu sekali operasional Angkot. Dampaknya, kata dia, penumpang yang harusnya menggunakan jasa Angkot, malah sudah tersandera menggunakan kendaraan AKDP, pikup dan ojek.
Buat Galang dan para sopir Angkot, persoalan ini sudah terjadi sekian tahun. Mereka sudah sering kali mengeluhkan hal ini. Namun ironinya, tidak ada penyelesaian yang pasti. Sementara itu Organda Sikka sebagai wadah dalam bidang angkutan bermotor di jalan raya ternyata mati suri.
“Kami ke Dinas Perhubungan, lalu diarahkan ke UPTD, datang ke sini malah dibilang urusan Dinas, jadi lembaga mana yang harus urus kami punya keluhan. Kalau tidak ada yang bisa urus, ya kami urus dengan cara kami,” ungkap Galang kesal.
Galang memastikan persoalan yang dihadapi para sopir Angkot sangat bersampak kepada pendapatan mereka. Penumpang menjadi sepi, sehingga pendapatan menurun drastis. Padahal, kata dia, biaya operasional cukup tunggi, termasuk di antaranya angsuran kredit Angkot.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












