Kisah Pedih di Balik Gempa Flores

0
318
Kisah Pedih di Balik Gempa Flores
Sebuah bangunan di Kota Maumere yang jadi korban gempa dan tsunami 12 Desember 1992 (foto istimewa)
Jumali, 42 tahun, warga Pulau Babi, baru delapan bulan menikahi Wasa’a. Sang istri tercinta sedang hamil 6 bulan. Pasutri baru itu tengah asyik merancang sebuah masa depan. Mimpi itu buyar. Wasa’a tewas tersapu tsunami.
“Sejak hari itu saya tidak pernah melihat lagi istri saya,” ungkapnya lemas.
Guncangannya kuat sekali, kisah Jumali, yang waktu itu sedang mencari nener, anakan bandeng, di tepi Pantai Tanjung Darat.
Begitu gempa mengguncang, air laut surut sekitar 100 meter dari bibir pantai. Dan tidak lama berselang tsunami datang. Jumali dan kawan-kawan lari ke gunung, kurang lebih 300 meter dari pantai. Jumali melihat gelombang laut menghajar Pulau Babi.
“Saat itu saya langsung lemas karena saya pikir kampung kami pasti tenggelam,” cerita dia.
Lain lagi kisah Iradat. Saat itu dia masih duduk di Kelas III sekolah dasar.
“Begitu air laut naik, saya mencoba lari. Tetapi, tahu-tahu saya sudah dihanyutkan air hingga tersangkut di puncak pohon kelapa,” ujar warga Pulau Babi ini.
Dia kehilangan tiga anggota keluarga, bibinya, dan kakak adiknya. “Kejadiannya seperti mimpi, serba singkat, dan tiba-tiba semuanya sudah habis,” cerita Iradat.
Nurdin Buton, warga lainnya, juga mengalami nasib serupa. Dia tersapu tsunami ketika hendak mengambil Base, kakaknya, dan Bongko, istrinya yang sedang hamil 3 bulan. Nurdin sempat membawa Johora, mamanya yang lumpuh, menuju masjid.
Namun saat hendak menyelamatkan kakak dan istrinya, tsunami sudah menerjang. Bahkan masjid yang dijadikan tempat pengungsian ikut roboh disapu gelombang. Nurdin pingsan. Dia baru siuman ketika air laut sudah surut, dan dirinya tersangkut di bukit. Mayat bergelimpangan, sebagian terperosok ke dalam rekahan tanah. Di rekahan tanah itulah mayat kemudian dikubur massal.
Ini sepenggal kisah 12 Desember 1992. Flores mengguncang dunia. Tepat pukul 13:29 Wita, gempa bumi berkekuatan 7,8 SR melanda pulau bunga. Gempa itu memicu longsor bawah laut. Kombinasi “maut” itu membangkitkan tsunami setinggi 36 meter dan menerjang 300 meter ke daratan. Amuk marahnya menyapu bersih semua yang berada di pesisir Laut Flores. Sikka, Ngada, Ende, Flores Timur remuk redam.
Terbetik kabar sebanyak 2.500 jiwa melayang, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, 5.000-an orang mengungsi. Lalu 18.000-an rumah hancur, 113 sekolah porak poranda, 90 tempat ibadah rusak.
Pusat gempa terletak di kedalaman laut, 35 kilometer arah barat laut Kota Maumere. Dan, jadilah Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, sebagai yang terparah, 1.000 bangunan hancur dan rusak berat.
Bayangkan di Wuring waktu itu. Tsunami setinggi 3,2 meter, sementara kampung itu hanya 2 meter di atas permukaan laut. Wuring tenggelam. Kira-kira 1.400 orang tersapu gelombang. Sebanyak 87 orang tewas di sana.
Atau di Desa Riangkroko, di sisi timur Pulau Flores. Tinggi gelombang mencapai 26,2 meter. Jauh melampaui Riangkroko yang hanya 2 meter di atas permukaan laut. Tewaskan 137 orang.
Paling parah di Pulau Babi, kurang lebih 40 kilometer arah timur laut Kota Maumere. Beberapa saksi mata menggambarkan tsunami mencapai pulau ini hanya 3 menit setelah terjadi gempa. Gelombang dahsyat itu datang dari arah selatan. Dari 1.093 jiwa di pulau itu, kurang lebih 700 jiwa menjadi korban.
Tentu masih banyak segudang cerita lara dari berbagai daerah. Flotim punya cerita. Ngada punya cerita. Ende punya cerita. Masih banyak kenangan pahit dari para korban selamat. Ada banyak studi yang sudah diungkapkan pemerhati geologi dan pakar-pakar gempa tsunami. Dari banyak referensi itu, kita bisa dapatkan kisah utuh tentang duka Flores 25 tahun silam.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kondisi geologis yang secara tektonik sangat labil. Wilayah ini merupakan pertemuan Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pacifik, dan Lempeng Laut Filipina. Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat kejadian gempa yang tinggi di dunia, dan sangat rawan mengalami tsunami.
Hampir 90 persen kejadian tsunami di Indonesia disebabkan gempa tektonik. Sekitar 85 persen tsunami terjadi di wilayah Indonesia Timur, termasuk Flores, NTT. Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), sepanjang tahun 1629-2014, Indonesia dilanda 174 tsunami. Sebanyak 60 persen di kawasan Indonesia timur. Daerah Flores, khususnya Maumere, merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang cukup tinggi. Ini karena Maumere berada dekat zona subduksi Lempeng Tektonik Australia dan Eurasia serta dipengaruhi sesar-sesar aktif di sepanjang Pulau Flores. Secara geografis Pulau Flores terletak di perbatasan zona konvergensi antara 2 megaplates, yakni lempeng Hindia-Australia dan lempeng Eurasia.
Gempa bumi dan tsunami 27 tahun lalu, setidaknya menjadi bahan refleksi dan pembelajaran. Sebagai daerah yang rentan gempa, kita perlu selalu berhati-hati. Meskipun kita tidak tahu kapan peristiwa itu terjadi. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk tetap waspada.
Korban manusia dan harta benda, antara lain karena reruntuhan bangunan. Jangan lupa, “mesin pembunuh” yang paling menakutkan adalah dampak ikutan gempa itu sendiri, seperti tsunami, longsor, dan likuifaksi.
Karenanya masyarakat dan pemerintah perlu memiliki konsep sadar bencana. Bangunan tahan gempa harus jadi prioritas. Kearifian lokal dapat menjadi pilihan utama. Tidak perlu membangun rumah di daerah potensi longsor. Hindari berada di zona merah. Menanam bakau di pesisir pantai, cukup efektif untuk meredam ganasnya tsunami. Program dan kegiatan penanggulangan bencana perlu terus digulirkan, sebagai langkah antisipatif.*** (vicky da gomez)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini