


“Hai Vicky, kau sudah di sini? Telingamu banyak sekali”.
Ini sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Suster Monika Nata Eustochia, SSpS, ketika melihat saya berada di halaman Sekretariat Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK), Selasa, 15 Juni 2021, sekitar pukul 16.00 Wita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suster Esto — demikian dia biasa disapa — hari itu tengah berhadapan dengan kasus eksploitasi anak. Sebanyak 17 anak di bawah usia, diamankan Polda NTT dari tempat kerja mereka pada 4 pub di Kota Maumere.
Sehari setelah penangkapan, Polda NTT kemudian memutuskan menitipkan anak-anak tersebut kepada pemerintah daerah setempat. Berhubung tidak memiliki rumah penampungan, pemerintah kemudian menitipkan sementara ke TRuK.
Pengungkapan kasus eksploitasi anak berlangsung senyap. Hampir tidak terdengar publik. Karena itu, pantaslah Suster Esto sepertinya kaget ketika melihat saya sudah berada di situ, tidak lama setelah proses penyerahan 17 anak dari Polda NTT ke Pemkab Sikka, dan selanjutnya dari Pemkab Sikka ke TRuK.

Suster Esto memang sangat akrab dengan wartawan. Ungkapan “telingamu banyak sekali”, mempertegas keakraban tersebut, sekaligus memberi kesan kuat bahwa beliau cukup memahami tugas jurnalistik.
Meski akrab dengan wartawan, bukan berarti Suster Esto gampang mempublikasikan segala hal terkait kerja dan kinerja TRuK, lembaga yang dia pimpin sejak tahun 1998.
Tidak mudah mendapatkan informasi dari Suster Esto. Apalagi terkait penanganan terhadap persoalan yang menimpa perempuan dan anak. Suster Esto selalu “berkelit” diplomatis.
Ini bukan berarti Suster Esto pelit informasi atau berupaya menutupi sesuatu di balik masalah perempuan dan anak yang ditangani TRuK. Dia punya alasan khusus kenapa harus seperti itu.
Suster Esto sangat paham kapan waktu yang tepat untuk buka suara kepada wartawan. Kalau pun waktunya itu tiba, tidak semua hal akan dia beberkan. Suster Esto cukup cerdas “menyimpan” banyak hal.
Dalam sebuah obrolan lepas, Suster Esto pernah mengungkapkan alasan khusus tersebut. Kasus perempuan dan anak, selalu berada pada level kompleksitas. Dan itu terlihat dari akar masalah, proses penanganan, proses pendampingan, hingga penyelesaian masalah. Karena begitu kompleks, sehingga tidak semua harus tereksplor secara vulgar ke publik.
Belum lagi kalau dilihat dari dampak psikologis perempuan dan anak yang menjadi korban dalam sebuah kasus.
Dan untuk itulah Suster Esto selalu mempertimbangkan secara matang dan cerdas, mana yang harus dibuka ke publik, dan mana yang menjadi konsumsi sendiri.

Komitmen
Senin, 8 Nopember 2021, orang ramai mengabarkan kematian Suster Esto. Berita ini mengejutkan jika mengikuti perjalanan aktifitas pejuang kemanusiaan itu dalam satu pekan terakhir.
Dua hari berturut-turut, Selasa-Rabu, 2-3 Nopember 2021, Suster Esto terlibat dalam demonstrasi yang digelar dengan cara aksi damai.
Bersama Jaringan Anti Perdagangan Orang, mereka merangsek Mapolres Sikka dan Kejaksaan Negeri Sikka, pada hari pertama, lalu hari kedua ke DPRD Sikka dan Bupati Sikka. Misi utama mereka terkait dugaan perdagangan 17 anak di bawah usia.
Dengan usia mendekati 80 tahun, Suster Esto kelahiran Nggela 26 Desember 1941 tampil memimpin ratusan pendemo. Usia menua tidak membatasi semangatnya mengepalkan tangan bersatu melawan tindak pidana perdagangan orang.
Meski kesehatan kurang mendukung, jalan agak tertatih-tatih, Suster Esto tidak kendorkan perjuangan. Raga dan nyawanya sudah dibulatkan untuk misi kemanusiaan.
Aksi damai ini menggambarkan bagaimana “kegelisahan” para aktifis hak-hak azasi manusia — Suster Esto dan jaringan — atas permasalahan perdagangan orang.
Mereka menyoroti produk hukum yang dianggap tidak berkeadilan, karena Polda NTT baru menetapkan 1 tersangka dari 3 pemilik pub.
Mereka juga mempersoalkan regulasi yang dipakai penyidik untuk menjerat pelaku, terutama dorongan agar memaksimalkan UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang.
Tidak cukup dengan itu, Suster Esto dan jaringan juga menggugah perhatian pemangku kepentingan atas isu perdagangan orang. Isu besar ini seolah lepas dari perhatian, padahal kasus perdagangan orang cukup marak terjadi di Kabupaten Sikka.
Bukan baru kali ini Suster Esto turun ke jalan. Dalam momen lain, dia juga ikut terlibat memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Setiap tanggal 10 Desember, peringatan Hari HAM, hampir pasti Suster Esto punya agenda untuk kampanye hak-hak azasi manusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Suster Esto dan pegiat kemanusiaan di TRuK gencar melakukan upaya pencegahan kasus kekerasan terhadap perempuan.
Mereka intens berkampanye secara virtual, mengusung materi “Gerak Bersama: Jangan Tunda lagi, Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual”. Untuk memudahkan sosialisasi, mereka menggunakan hastag #GerakBersama #JanganTundaLagi #SahkanRUUPKS.
Pada berbagai tempat, Suster Esto selalu mengajak komitmen dan konsistensi untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta tindak pidana perdagangan orang. Komitmen perjuangannya tidak pernah luntur.

TRuK
Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) resmi terdaftar pada Kementerian Hukum dan HAM dengan register Nomor AHU-000887.AH.01.07 Tahun 2015 tanggal 13 Oktober 2015, dengan Akte Pendirian Nomor 05 Tahun 2015 tertanggal 5 Oktober 2015.
Jauh sebelum itu, lembaga ini sudah berdiri pada tahun 1998 dengan nama Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F). Suster Esto merupakan sosok penting di balik kehadiran lembaga ini.
Divisi Perempuan TRuK memiliki visi “Memperjuangkan hak-hak perempuan agar diakui dan dihargai secara utuh”.
Visi ini kemudian diterjemahkan ke dalam dua misi, memberdayakan kaum perempuan agar mengetahui hak-haknya, dan mendorong kaum perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar bebas dari belenggu penindasan, kekerasan, dan diskriminasi.
TRuK mengemban tiga tujuan. Pertama, membantu perempuan korban kekerasan berbasis gender agar memperoleh hak atas kebenaran, keadilan, dan jamin tak berulang,
Kedua, mengembangkan kesadaran dan inisiatif dari pemerintah dan masyarakat sipil untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan, menyelenggarakan perlindungan dan pemulihan bagi perempuan korban kekerasan.
Ketiga, mewujudkan kerja sama dengan lembaga atau organisasi lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama dan sejalan.
Dalam karya-karya kemanusiaan, TRuK bersandar pada 6 prinsip penting. Pertama, organisasi non pemerintah yang independen dan mandiri, dan bukan merupakan bagian atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga negara atau pemerintah.
Kedua, organisasi nirlaba dengan orientasi tidak mencari keuntungan untuk dibagi-bagikan kepada pendiri dan pengurusnya, melainkan untuk mengabdi kepada kemanusiaan.
Ketiga, organisasi non partisan, dan karena itu tidak merupakan bagian atau berafiliasi dengan partai-partai politik atau aliran tertentu, dan tidak menjalankan politik praktis dalam arti mengejar kekuasaan.
Keempat, organisasi non sektarian dan membebaskan dirinya dari prasangka-prasangka atas segala dasar perbedaan, termasuk agama, suku, ras, golongan, dan gender.
Kelima, berpegang teguh pada prinsip-prinsip prmanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Dan keenam, keanggotaan TRuK bersifat terbuka bagi semua orang yang bersedia dan mampu memajukan maksud dan tujuan lembaga dengan memperhatikan prinsip-prinsip dan kesetaraan gender.
Visi, misi, tujuan, dan prinsip TRuK, tidak tersandera oleh kalimat-kalimat manis di atas kertas. Suster Esto dan kawan-kawan mengaplikasikan secara total dengan komitmen dan konsistensi yang terukur dan terjaga.
TRuK selalu hadir di tengah masyarakat dalam upaya menegakkan keadilan dan kebenaran bagi para korban kekerasan, baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, maupun korban perdagangan orang.
Sejak 1997 hingga akhir tahun 2019, lembaga ini telah membantu dan memperjuangkan 2.410 korban kekerasan, di mana 615 di antaranya merupakan korban seksual.

Spirit
Suster Esto meninggal di Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante, dalam usia hampir 80 tahun.
TRuK dan karya kemanusiaan yang diukir berpuluh-puluh tahun, seakan memberikan napas tambahan dan memperpanjang usia Suster Esto.
Sudah tiga kali dia divonis bakal meninggal. Terakhir, tahun lalu, ketika jantungnya hanya berfungsi 10 persen. Dalam situasi kritis seperti itu, roh TRuK menjadi suplemen penyegar, hingga ajal menjemputnya
Senin 8 Nopember 2021, sekitar pukul 02.15 Wita.
“Bagi saya, mati dan hidup adalah rahasia Tuhan. Saya hanya berdoa agar saya mati dalam keadaan sangat baik, berkenan kepada Allah dan berkenan kepada manusia,” ungkap Suster Esto pada suatu kesempatan.
Jenazah pejuang kemanusiaan itu disambut isak tangis histeris ketika disemayamkan di Kapela Biara SSpS Maria Pembantu Abadi di Jalan Ahmad Yani.
Suster Esto akhirnya pergi selamanya, meninggalkan satu tagihan penting akan komitmen polisi, jaksa, dan elit kekuasaan terhadap penuntasan kasus tindak pidana perdagangan orang.
Suster Esto boleh saja pergi selamanya, tetapi sejatinya spirit perjuangannya tidak pergi bersamanya. Spirit itu harus tetap hidup dan tertanam nyata dalam diri semua orang yang peduli akan hak-hak azasi manusia.
Teladan Suster Esto, harus menjadi bagian penting dalam diri para pejuang kemanusiaan.
Selamat jalan Suster Esto, selamat jalan pejuang, teruslah berjuang dari Surga.*** (vicky da gomez)















