Soter Parera, Pergi Tapi Tidak Dilupakan

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 15 Januari 2022 - 14:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Dibaca 113 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Georgius Soter Parera (Almarhum), mantan Kepala BKKBN Propinsi NTT

Georgius Soter Parera (Almarhum), mantan Kepala BKKBN Propinsi NTT

“De mortuis nil nese bene — Katakan hal-hal yang baik saja mengenai orang yang sudah meninggal”

Tanggal 21 Januari 2022 mendatang, akan genap 1 tahun meninggalnya Georgius Soter Parera, 72 tahun, seorang saudara dan sahabat yang baik hati, ramah, perhatian, hangat, bersimpati dan empati kepada sesama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Soter Parera, SH, MPA, pernah menjabat sebagai Kepala BKKBN Propinsi NTT, 2002-2008, dan sebelumnya Kepala BKKBN Kota Blitar di Jawa Timur 2001-2002.

Selain dikenal sebagai seorang pejabat pemerintah yang sangat concern terhadap masalah-masalah keluarga berencana, dia juga aktif dalam banyak kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan.

Lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Brawaijaya Malang, dan Master of Public Administration dari University of Pittsburgh, Pennsylvania Amerika Serikat ini juga pernah menjadi dosen di Universitas Negeri Nusa Cendana Kupang dan Universitas Negeri Airlangga Surabaya.

Soter Parera wafat akibat terpapar Covid-19, meninggalkan seorang isteri, Sabina Gero dan 2 orang putra dan 2 orang menantu wanita, dan 3 cucu.

Berita Facebook
Pada awal Januari 2021, kami berdua masih saling kontak lewat telepon. Dari Kupang dia bercerita bahwa masih ingin mengunjungi Pater Alex Beding SVD di Ledalero. Sudah kangen, ingin bertemu saat ulang tahun ke-97 Pater Alex pada tanggal 13 Januari 2021.

Sesudah itu beberapa hari tidak ada kontak. Tiba-tiba saya membaca pada laman Facebook seorang teman bahwa Soter meninggal dunia. Saya terkejut dan mencoba menghubungi nomor teleponnya, tapi tidak aktif.

Kontak ke nomor Klemens, adiknya, juga tidak aktif. Mencoba ke nomor beberapa teman Alsemat (Alumni Seminari Mataloko) di Kupang, juga tidak berhasil. Akhirnya saya pasrah, menunggu saja mungkin ada kabar yang lebih jelas tentang Soter.

Dua hari berikutnya, saya menerima panggilan telepon Pater Alex Beding dari Ledalero. Dengan nada suara yang sedih, Pater bilang, “Pa Soter meninggal. Ans sudah tahu?” Saya jawab, “Ya Pater, saya sudah tahu dari membaca tulisan di Facebook. Saya sudah coba menghubungi nomor teleponnya dan juga Klemens adiknya, tapi tidak berhasil. Jadi praktis saya belum tahu sakit apa dan bagaimana”.

“Kita kehilangan seorang sahabat yang baik, yang penuh perhatian, punya simpati dan empati yang besar. Kalau Soter tidak ada, bagaimana dengan hubungan pertemanan kita, apakah Alsemat 60-70 masih akan jalan?” kata Pater.

“Ya, Pater. Orang baik ini memang telah pergi. Kita doakan agar jiwanya mendapat tempat yang layak di Surga. Kalau soal Alsemat, saya rasa akan tetap jalan, karena banyak teman kita yang masih ada, dan mereka juga pasti ingin berkomunikasi dan betnostalgia dengan sesama,” kataku mencoba meyakinkan Pater.

Belakangan saya menerima pemberitahuan/undangan dari Ense Solapung, seorang kerabatnya di Jakarta untuk mengikuti Misa life streaming pada Sabtu, 27 Pebruari 2021 dalam Misa Arwah Sumana Lima (doa minggu kelima menurut tradisi Sikka) dari Gereja Santo Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta. Dari informasi yang disampaikan Ense, saya mengetahui lebih detil mengenai peristiwa meninggalnya Soter Parera.

Soter Parera (Almarhum) bersama istri

Tetangga di Lela
Sejak remaja, kami sudah saling mengenal di Lela, Flores, karena rumah kami bersebelahan, hanya berjarak 20 sampai 30 meter. Waktu itu saya tinggal di rumah keluarga Bapak Felix Parera, meneruskan sekolah di SDK Lela I, setelah sebelumnya saya sekolah di SDK Hebing, kampung halaman saya.

Tetangga rumah sebelah, keluarga Inang Marta, adalah seorang ibu janda yang ramah, baik hati, suka tegur sapa termasuk dengan kami anak-anak. Dua orang putra Inang Marta yaitu Soter Parera dan Klemens Parera sekolah di Seminari Mataloko. Di rumah kami, Kakak Elly Moritz Parera, anak sulung Bapak Felix, juga sekolah pada seminari yang sama.

Karena mereka sekolah di tempat yang jauh dan baru berlibur ke rumah setahun sekali, maka pada kesempatan itulah kami bisa bertemu.

Sebagai remaja yang ingin masuk Seminari Mataloko, saya senang mendengar cerita mereka tentang seminari, tentang perjalanan dengan naik kapal motor Santa Theresia dari Lela ke Aimere, kemudian naik truk atau traktor ke dataran tinggi Mataloko yang udaranya sejuk dan nyaman.

Sesekali mereka juga bercerita tentang keadaan asrama di seminari, tentang main sepak bola, basket, voli, tentang ruang kelas, guru-guru yang kebanyakan orang bule (misionaris asing: Belanda, Jerman, Austria, Amerika).

Semua cerita tentang Seminari Mataloko pasti menarik, apalagi bagi saya yang memang sangat ingin masuk seminari.

Selain itu saya juga ingin bersekolah di tempat yang jauh, ada jiwa merantau pada diri saya. Dan sesekali pulang bertemu keluarga. Harus ada rasa kangen untuk bertemu dan melepas rindu. Bagi saya kalau kumpul-kumpul terus dekat keluarga, rasanya kok kurang sreg begitu.

Ketika pada akhir Kelas 6 SDK Lela I, saya diterima masuk Seminari Mataloko, betapa senangnya hati saya. Mimpi saya akan terwujud, yakni sekolah di seminari. Dengan diterimanya saya masuk seminari, maka saya akan bergabung dengan mereka yang sudah jadi siswa seminari.

Hubungan Baik
Di lingkungan terdekat kami, ada 3 orang siswa Seminari Mataloko: Soter, Ely, dan Klemens. Di Kampung Lela sendiri, waktu itu seingat saya, cukup banyak siswa Seminari Mataloko.

Sebut saja Sefni da Rato (Romo, almarhum), tiga bersaudara: Melanus dan Pit (almarhum) serta Fredy Conterius, juga Konradus Keupung (almarhum), Michael Ambong (Romo, almarhum), Remigius Kosmas dan Martinus Dalo, Paulinus Soge (kini Profesor Unika Atma Jaya, Jogja) dari Ililewa, Joachim Heret dari Napungnao, Moses Kuremas (Romo) dari Rengsina.

Pada angkatan kami, pertengahan 1965, bertambah beberapa siswa baru yaitu Eliseus Parera (Elu), Fransiskus da Gomez (Sisko), Veranus da Silva dari Ililewa, Petrus Ferdinandus Lado dari Rengsina, dan saya.

Setelah diterima masuk Seminari Mataloko pada pertengahan 1965, maka saya mulai bergabung dengan mereka.

Hubungan kami baik, khususnya dengan Soter, karena dia ramah, mudah bertegur sapa, punya simpati dan empati terhadap anak-anak lain, termasuk saya, ‘anak udik’ yang merantau ke Lela untuk melanjutkan sekolah agar bisa masuk Seminari Mataloko.

Di Asrama Seminari Mataloko, kami tidak banyak bergaul dan berinteraksi karena beda kelas dan beda asrama. Sepertinya ada peraturan dan larangan bahwa anak-anak SMP dan SMA tidak boleh bergaul. Jadi ada jarak yang cukup jauh antara kami anak-anak culun di SMP dengan kakak-kakak yang hebat-hebat di SMA.

Bertemu Lagi di Ende
Pada pertengahan tahun 1968, Soter meninggalkan seminari. Hubungan persahabatan kami terputus. Akan tetapi kemudian pada akhir 1971, waktu saya mulai bekerja pada Penerbit Nusa Indah di Ende, saya bertemu lagi dengan Soter. Saya dengar dia menjadi guru pada STM Ndona, kemudian pindah ke Ende, dan bekerja pada Persekolahan Katolik Dioses Agung Ende di bawah pimpinan Pater Hendrikus Djawa SVD. Di Kantor Yayasan Pendidikan Katolik Ende-Lio (Yasukel), Soter adalah sekretaris sedangkan kepala kantornya Josef Ilmoe Hs.

Kami beberapa karyawan Nusa Indah menempati sebuah rumah misi di Kompleks BBC (Biara Bruder St Conradus), dekat asrama tentara Wirajaya. Soter dan beberapa temannya tinggal di sebuah rumah di Jalan Diponegoro, seberang Susteran CIJ.

Di sini, kami jadi akrab lagi, terutama juga setelah El Morits Parera kembali ke Ende dari studinya di Jakarta, untuk bersama kami bekerja di Nusa Indah, dan kemudian merangkap pada majalah Dwimingguan Dian.

Kami sering kumpul-kumpul di rumah Soter, main bersama, rekreasi, dan menghadiri pesta yang diselenggarakan keluarga dan kenalan di kota itu.

Kami juga sempat mengikuti kursus Credit Union, bersama senior Guido Abong, ex seminarist Mataloko, dan kemudian sama-sama aktif pada Credit Union Jayakarta, CU pertama yang didirikan di Flores dan NTT.

Tahun Baru di Hotel Borobudur
Pada akhir Desember 1974, El Morits dan saya berangkat ke Jakarta, mengadu nasib di ibukota. Pada malam sebelumnya, kami buat acara sederhana di rumah Soter. Makan-makan sambil bercanda dan ngobrol tentang masa depan. Esok siangnya kami dua naik kapal Stela Maris, berlayar menuju Surabaya, untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Hubungan saya dengan Soter terputus karena pada masa itu komunikasi memang sulit. Belum ada telepon, internet, google, twitter, instagram, WA, FB, dan sebagainya seperti sekarang. Paling hanya bisa mengirim surat atau kartu pos, dan itu pun baru sampai ke alamat setelah berminggu-minggu, bahkan banyak juga yang tidak sampai ke alamatnya.

Pada 15 Pebruari 1975 saya mulai bekerja pada Harian Suara Karya, mula-kula sebagai translator (English-Indonesia), kemudian reporter Bidang Hankam/ABRI, Setneg/Istana dan Departemen Luar Negeri. Dan terakhir saya Redaktur Luar Negeri selama 2 tahun, 1980-1982.

Tidak disangka-sangka, pada tanggal 31 Desember 1976, Soter muncul di Kantor Redaksi Suara Karya di Gedung AKA di Jalan Bangka II Kebayoran Timur Jakarta Selatan. Dia sedang libur dari kuliahnya di Universitas Brawijaya Malang, dan tengah mengunjungi kerabatnya di Jakarta. Dia sengaja datang untuk menemui saya.

Kebetulan waktu itu saya mendapat undangan untuk menghadiri Pesta Melepas Tahun Lama 1976 dan Menyambut Tahun Baru 1977 di Hotel Borobudur Jakarta. Saya ajak Soter untuk bersama-sama menghadiri pesta tersebut, dan dia dengan senang dan gembira mau hadir. Pada acara pesta yang meriah dengan musik dan tarian, serta makanan dan minuman yang berlimpah, para hadirin dan undangan menikmati sambil menari dansa-dansi.

Saya bukan seorang penikmat pesta, dan cenderung duduk menonton atau mengamati saja orang-orang yang menari dan berdansa. Tetapi Soter yang mudah bergaul, gampang bersosialisasi, tampak asyik menari dan berdansa dengan orang-orang yang hadir malam itu.

Baru pada jam 2 dinihari tanggal 1 Januari 1977, kami pulang ke tempat kos saya di Mampang Prapatan untuk beristirahat. Siang harinya saya antar Soter naik motor ke Matraman ke tempat tinggal kakaknya, Petrus Parera.

Bertemu di Kupang
Lama tidak ada kabar berita dan tidak bertemu. Beberapa tahun kemudian, mulai pertengahan tahun 1978, dalam tugas sebagai wartawan Hankam/ABRI, saya biasa mengikuti kunjungan kerja Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Yusuf ke berbagai pelosok tamah air.

Pada suatu hari di akhir 1979, rombongan Menhankam/Pangab mengunjungi Kupang. Sore itu ada pertemuan dan briefing di Rumah Jabatan Gubernur, yang dihadiri Gubernur Ben Mboi dan para pejabat lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam sekaligus merayakan Natal Bersama. Di sini saya bertemu lagi dengan Soter, yang saat itu bekerja pada Biro Ekonomi Setwilda Propinsi NTT.

Setelah acara resmi selesai dan rombongan Menhankam/Pangab kembali ke penginapan, saya diajak Soter untuk bertemu kakak ipar saya, Mas Dokter Agus Partatmo, asal Solo, yang bertugas sebagai Dokter PTT di Weetabula Sumba Barat, dan sedang mengikuti rapat koordinasi di Kupang. Mbak Titik, istri Dokter Agus adalah kakak kandung Naniek, istri saya.

Nama Soter Disebut di Bandara Hawai
Bertahun-tahun kami tidak saling kontak, karena kesibukan masing-masing. Saya meninggalkan surat kabar dan profesi jurnalistik pada akhir 1982, dan mulai menggeluti bidang Public Relations, yang dewasa ini lebih dikenal sebagai Corporate Communications.

Saya bergabung dengan perusahaan konsultasi PR, kemudian bekerja dengan konglomerasi nasional Gunung Sewu Group, dan pindah ke PT Freeport Indonesia pada awal 1993.

Pada Agustus-Oktober 1994, kami 8 orang staf senior PT Freeport Indonesia, masing-masing bersama istri, dikirim ke New Orleans, Louissiana, Amerika Serikat, untuk mengikuti Management Study Program pada Executive Education selama 3 bulan di University of Loyola yang diasuh para Imam Jesuit. Selesai trainning, kami kembali ke Indonesia melalui Los Angeles, setelah mengunjungi destinasi wisata Universal Studios di Hollywood dan sekitarnya.

Dari Los Angeles kami menumpang Garuda yang akan ke Jakarta, lewat Hawai dan Biak di Irian Jaya (sekarang Papua). Pada waktu tengah malam pesawat mendarat di Hawai untuk mengisi bahan bakar.

Di ruang tunggu yang luas dan ramai itu, saya bertemu dengan Welem Kabesu, seorang pria muda dari Kupang. Dia bercerita kalau baru pulang studi S2 di Amerika, dikirim oleh Kantor BKKBN Propinsi NTT.

Saya beri tahu dia kalau saya punya saudara dan sahabat di Kupang, namanya Soter Parera. Dia terhenyak dan menjawab, “Soter Parera? Ooo, itu senior saya di Kantor BKKBN. Dia juga lulusan S2 di Amerika, dan setelah itu saya dikirim kuliah S2. Ini juga atas rekomendasi Pa Soter. Saya berterimakasih kepada BKKBN dan Pa Soter pribadi”.

Kami ngobrol mengenai pengalaman belajar di Amerika, dan ketika ada pengumuman untuk naik pesawat, kami berpisah. “Tolong sampaikan salam saya kepada Pa Soter ya,” kata saya, dan dia mengatakan akan menyampaikan salam saya tersebut, dan akan menceritakan pertemuan kami malam itu kepada Soter.

Pada awal 1999, saya bersama istri dan anak-anak mau mudik ke Flores. Kami mendapatkan jadwal penerbangan ke Maumere via Kupang, dan harus bermalam di kota itu. Saya menelepon Soter dan mengabarkan rencana ini, dan keinginan untuk bertemu. Dan kami bertemu dan ngobrol di Hotel Kristal, tempat kami menginap.

Menulis Buku
Saya baru berkomunikasi lagi dengan Soter sekitar pertengahan tahun 2013, ketika ada gagasan dari Alsemat 60-70 Kupang untuk menulis sebuah buku catatan pengalaman mereka bersama Pater Alex Beding SVD (PAB), mantan Rektor dan Prefek Seminari Mataloko. PAB adalah guru, pendidik dan mentor kami para alumni Seminari Mataloko angkatan 1960-1970.

Soter di Kupang menjadi penghubung (contact person) dengan para narasumber atau kontributor tulisan, sedang saya di Bogor untuk menjadi editor buku tersebut.

Sekitar 6 sampai 7 bulan kami mengerjakan buku ini dengan 32 narasumber/kontributor tulisan dari mantan anak didik dan ‘anak buah’ PAB, dan dari kerabat, rekan kerja dan mereka yang terinspirasi dan termotivasi oleh hidup dan karya PAB.

Buku berjudul “Yang Terpanggil Yang Melayani — 90 Tahun P. Alex Beding SVD — 13 Januari 2014”, diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah Ende.

Terkumpulnya begitu banyak narasumber/kontributor tulisan ini tentunya merupakan hasil upaya Tim Alsemat Kupang dengan Soter Parera dan Frans Sowo dalam menghubungi, mendorong dan meyakinkan teman-teman Alsemat di seluruh Indonesia untuk menyumbangkan tulisan bagi buku tersebut.

Dalam waktu-waktu inilah komunikasi dengan Soter sangat intens. Setiap hari kami bisa saling menelpon 4 sampai 5 kali.

Kami sepakat untuk saling kontak melalui telepon setiap saat bila ada ide, isu atau informasi baru yang berhubungan dengan penulisan buku ini.

Jadi kadang-kadang kami saling menelpon tengah malam atau pagi buta untuk segera menyampaikan pesan, ide atau informasi yang berkaitan dengan buku tersebut. Kami sengaja tidak menunda, kuatir akan lupa atau terlewatkan oleh hal-hal lain yang juga memerlukan perhatian kami.

Buku setebal 362 halaman itu terbit tepat pada waktunya dan dapat didistribusikan untuk merayakan 90 tahun usia PAB, 13 Januari 2014.

Setelah jeda beberapa tahun, pada Juni 2016, tersiar kabar bahwa Romo Johanes Bosco da Cunha, O.Carm, mantan Sekretaris Eksekutif Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), meninggal dunia di Malang. Romo Bosco adalah adik kandung Almarhum Mgr Abdon Longinus da Cunha, mantan Uskup Agung Ende, teman sekelas dan sahabat karib Soter sewaktu Seminari Mataloko.

Soter dan Romo Bosco keluar dari seminari pada waktu bersamaan, dan menempuh jalan hidup masing-masing. Soter menjadi PNS atau sekarang disebut ASN dan pejabat BKKBN Propinsi NTT di Kupang, Bosko masuk seminari lagi dan menjadi Imam Ordo Karmelit dan merupakan salah satu pakar Liturgi Katolik Indonesia.

Soter lalu memberitahu Pater Alex Beding mengenai wafatnya Romo Bosco. Dalam pembicaraan itu PAB menyarankan sebaiknya dibuatkan sebuah buku kenangan akan Almarhum.

Maka Soter menghubungi saya dan membicarakan ide dan usul PAB tersebut. Kami sepakat, saya menjadi editor sedangkan Soter koordinator proyek dan contact person dengan narasumber dan kontributor tulisan.

Ada tiga kelompok narasumber/kontributor tulisan yakni kolega Almarhum dari para Imam Ordo Carmel, SVD, dan Projo, lalu dari anggota keluarga, serta dari kerabat, teman dan kenalan Almarhum.

Berkat komunikasi yang baik dan efektif dari Soter kepada para narasumer, 28 tulisan terkumpul, dan saya melakukan editing.

Dan dalam waktu 1 bulan buku berjudul “Ite Missa Est — Pergilah, Misa Sudah Selesai” tersebut kami terbitkan dan di-launch pada Perayaan Ekaristi mengenang 40 hari wafatnya Romo Bosco da Cunha di Panti Vincentius Putra, Kramat, Jakarta.

Buku Frans Cornelissen
Pada awal 2018, Soter mengabarkan bahwa Pater Alex Beding sedang menyusun buku biografi Pater Frans Cornelissen SVD, pendiri seminari di Sikka yang kemudian dipindahkan ke Mataloko.

Lagi-lagi saya diminta jadi editor, dan Soter sebagai koordinator proyek dan contact person. Buku ini makan waktu hampir 2 tahun akibat hal-hal non teknis.

Untuk isi buku itu sendiri saya lebih banyak berkonsultasi dengan penulisnya, PAB. Sedangkan dengan Soter lebih kepada hal-hal teknis yang berkaitan dengan upaya mencari dana untuk membiayai ongkos cetak dan distribusi.

Target kami adalah buku harus terbit pada awal September 2019, untuk di-launch pada Pesta 50 Tahun STFK Ledalero dan 90 Tahun Seminari Mataloko.

Puji Tuhan, buku berjudul “Pater Frans Cornelissen SVD — Pahlawan Pendidikan di Flores dan Nusa Tenggara Timur” yang diterbitkan oleh Sabda, Jakarta itu bisa selesai pada waktunya.

Bersama adik saya Marsel da Iry, kami terbang ke Kupang pada dinihari 7 September dari Soekarno-Hatta, dan dari Kupang ganti pesawat ke Maumere. Soter dan adiknya Mikhael yang menjemput kami di Bandara Frans Seda, ternyata sudah punya jadwal padat untuk kami hari itu, dari pagi sampai malam.

Soter Parera bersama Ans da Iry bertemu Uskup Emeritus Keuskupan Maumere

Dari Bandara, kami langsung ke kompleks Lepo Bispu, bertemu Mgr Kherubim Parera, Uskup Emeritus Keuskupan Maumere, kemudian bertemu dan berbincang dengan Mgr Edwaldus Sedu, Uskup Maumere, dan Vikjen Romo Teleforus Jenti OCarm.

Setelah makan siang di rumah Gaby Parera, kakaknya Soter, kami ke Nita, ke Pusat Koperasi Kredit Pintu Air, bertemu dan berbincang-bincang dengan Ketuanya Yakobus Jano mengenai hal-hal yang berhubungan dengan koperasi kredit.

Selanjutnya kami ke Biara Simeon, menemui Pater Alex Beding, dan menyerahkan buku tentang P. Cornelissen yang baru terbit. Kami juga membicarakan rencana peluncuran buku tersebut yang akan dilangsungkan keesokan harinya selesai Perayaan Ekaristi memperingati 50 Tahun STFK Ledalero. Soter dan saya akan mendampingi PAB dalam acara tersebut.

Pagi hari berikutnya, setelah sarapan, kami berangkat ke Ledalero, mengikuti Perayaan Ekaristi Syukur 50 Tahun STFK Ledalero.

Perayaan misa yang mulia dengan 3 Uskup dan puluhan Imam, diisi dengan lagu-lagu yang merdu dan doa umat dalam berbagai bahasa dan tarian-tarian daerah yang indah, menyemarakkan perayaan hari itu.

Ratusan undangan, dari pemerintah dan DPRD, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat serta umat hadir dalam perayaan itu.

Selesai makan siang, dilangsungkan acara peluncuran buku “Pater Frans Cornelissen SVD — Pahlawan Pendidikan di Flores dan Nusa Tenggara Timur”.

Pater Alex.Beding menyerahkan buku kepada Pater Otto Gusti

Penulis buku, PAB, menjelaskan maksud dan tujuan penulisan buku. Kemudian buku tersebut dibagikan kepada para hadirin, termasuk Uskup Maumere Mgr Edwaldus Sedu, Uskup Larantuka Frans Kopong Kung, Superior General SVD P. Paul Budi Kleden, Provinsial SVD Ende P. Lukas Jua, Ketua STFK Ledalero P. Otto Gusti N Madung, dan lain lain.

Seusai acara di Ledalero, kami pergi ke Lela, mengunjungi keluarga serta menghadiri pernikahan salah seorang cucu almarhum Bapak Felix Parera.

Saya dan Marsel kemudian kembali ke Maumere, sedangkan Soter bermalam di Lela. Saat akan berpisah, kami saling berpesan untuk bertemu di Seminari Mataloko pada 15 September 2019 saat perayaan ulang tahun ke-90 Seminari St Johanes Brechmans Mataloko.

Kami sama sekali tidak pernah berpikir bahwa itulah pertemuan tatap muka dan perbincangan langsung kami yang terakhir dengan Soter.

Saya dan Marsel batal ke Mataloko, karena Marsel jatuh sakit di Ende, dan dirawat di rumah sakit. Setelah 5 hari keadaannya membaik dan dokter mengizinkan pulang, dan meneruskan pengobatan di Jakarta.

Riwayat Hidup
Georgius Soter Parera, lahir di Lela Kabupaten Sikka, 22 April 1949, dari Bapak Cornelis De Parera dan Ibu Martha Djebe Parera. Tamat SDK Lela, dia melanjutkan ke Seminari Mataloko pada tingkat SMP sampai SMA, 1962-1968. Pada 1970-1971 menjadi guru STM Katolik Bersubsidi Ndona, kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Persekolahan Katolik Ende-Lio (Yasukel), 1971-1975.

Selama di Ende, sambil bekerja, dia juga kuliah pada Fakultas Hukum Undana Kupang Cabang Ende, hingga meraih gelar sarjana muda hukum.

Kemudian berangkat ke Malang untuk kuliah pada Fakuktas Hukum Universitas Negeri Brawijaya, dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum pada tahun 1977.

Dia berangkat ke Kupang, diterima sebagai PNS, staf pada Biro Ekonomi Setwilda Propinsi NTT. Sambil bekerja sebagai PNS, dia juga menjadi dosen pada Fakultas Hukum Undana Kupang, 1978-1983.

Pada 18 Juli 1981, Soter menikah dengan Sabina Gero, dan dikaruniai dua orang putra yaitu Mario Emanuel Desipung, kini bekerja pada BLK Kanwil Nakertrans Kupang, dan Yoseph Mariano Cornelis Desipung, seorang dokter yang bekerja pada sebuah rumah sakit di Kota Kupang. Mereka juga sudah punya tiga orang cucu.

Pada 1983-1987, Soter bekerja sebagai pegawai Balai Litbang BKKBN Propinsi NTT di Kupang. Karena kinerja kerjanya bagus, dia dikirim studi S2 Bidang Public Administration di University of Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Setikat, yang diselesaikannya pada 1989.

Kembali dari Amerika, dia diangkat menjadi Kepala Bidang Bina Program Kantor BKKBN Propinsi NTT, dan sekaligus pada 1994 merangkap jabatan sebagai Kepala Bidang KB, hingga 1996.

Pada 1998-2001, Soter dipindahkan ke Propinsi Jawa Timur dengan jabatan Kepala Bagian Kepegawaian dan Supervisi. Selanjutnya dipercayakan menjadi Kepala Kantor BKKBN Kota Blitar sampai 2002.

Selama menjalankan tugas di Jawa Timur, dia juga merangkap sebagai Dosen Pembantu Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya.

Kemudian pada 2002 dia kembali ke NTT, dan diangkat menjadi Kepala BKKBN Propinsi NTT hingga memasuki masa purnabakti pada 2008.

Setelah pensiun, Soter mendapat tugas sebagai anggota Koalisi BKKBN Propinsi NTT, dan menjadi Kepala Juang Kencana BKKBN Propinsi NTT dan aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan Gereja.***

Ditulis oleh Ans dan Iry, tinggal di Kota Bogor

Berita Terkait

Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial
Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende
Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Napung Gete dan Jalan Panjang Kemandirian Pangan Kabupaten Sikka

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:31 WITA

Pedagang Pasar Alok Sempat Kejar, Bupati Sikka: Saya Tidak Melarikan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:17 WITA

Kecewa Bupati Sikka Melarikan Diri, Pedagang Pasar Alok Teriak Pemimpin Pengecut

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:44 WITA

Penertiban Brutal di Pasar Alok, Terpal Dirobek, Meja Dagangan Diinjak

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:50 WITA

Fraksi Partai Perindo Sikka Wanti-Wanti Pungli di Sekolah

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:30 WITA

Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di SMKS Yohanes XXIII Maumere, Juara LKS Tingkat Kabupaten Sikka

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:45 WITA

Rekanan Mengeluh, AWK Belum Bayar Pekerjaan 4 Titik Dapur SPPG di Sikka, Nilainya Mencapai Rp 754 Juta

Selasa, 9 Juni 2026 - 21:27 WITA

Sekolah Dihancurkan demi Koperasi Desa Merah Putih, AHP: Sangat Keterlaluan

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:51 WITA

10 Kali Dapat Opini WTP, Bupati Sikka: Berkat Komitmen Eksekutif dan Legislatif

Berita Terbaru

Daerah

Fraksi Partai Perindo Sikka Wanti-Wanti Pungli di Sekolah

Kamis, 11 Jun 2026 - 07:50 WITA