
Perjalanan kepemimpinan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diego Idong — sering disapa Robi Idong — dan Wabup Sikka Romanus Woga yang dikenal dengan Paket Roma (Robi-Romanus), sudah selesai pada tahun ke-4 sejak 20 September 2022.
Era Roma penuh dengan dinamika yang menarik pada hampir setiap aspek. Salah satunya, yakni isu hubungan kurang mesra antara Bupati dan Wabup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar buruk yang tersiar, inharmonisasi ini mulai terasa ketika pemimpin dari jalur independen ini memasuki tahun ketiga perjalanan roda pemerintahan.
Dampak politis inharmonisasi, pada hemat saya, berbias kepada sikap harap-harap cemas masyarakat. Terutama menjelang Pilkada 2024 mendatang. Kenapa? Bisakah Roma berlanjut pada periode kedua?Jawaban hanya pada mereka berdua yang tahu.
Kini perjalanan Roma sudah memasuki tahun kelima. Kurang lebih tinggal 10 bulan lagi keduanya mencapai garis finish.
Menyimak perjalanan politis selama 4 tahun lebih, warga Sikka tentu saja dapat merekam bagaimana hubungan kemesraan orang nomor satu dan dua di Sikka.
Kabar yang terendus bahwa Bupati Sikka ternyata tidak komitmen dengan apa yang sudah disepakati.
Dalam rekaman publik, penyelenggaraan tata kelola Pemkab Sikka, sungguh dimonopoli Bupati Sikka.
Terbukti bidang-bidang tugas dan tanggung jawab yang sudah disepakati yang menjadi wewenang Wabup Sikka, tidak ditepati alias diambilalih semua.
Jika kabar tidak sedap ini sungguh benar, maka sudah sangat pasti Paket Roma pecah kongsi menuju Pilkada 2024.
Kondisi pecah kongsi bisa saja membuat Roma pincang menuju perhelatan suksesi tahun 2024.
Ingkar Janji
Selain persoalan pecah kongsi, ziarah politik Roma juga membersitkan pertanyaan-pertanyaan substantif terkait penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan.
Apa saja keberhasilan yang sudah diraih? Apa saja yang gagal? Apa saja yang hanya penuh dengan janji?
Pemimpin publik mulai dari Presiden sampai Gubernur, Bupati/Walikota, jangan sekali-sekali suka ingkar janji terhadap rakyatnya sendiri.
Keberhasilan Bupati dan Wakil Bupati Sikka wajib diukur dari visi misi sang pemimpin yang dalam sistem administrasi terdokumentasi pada Perda RPJMD.
Visi misi itu lalu diwujudkan sepenuhnya dalam APBD. Kemudian dieksekusi dalam tata kelola administrasi pemerintahan.
Nah, selama empat tahun, dan sekarang sedang memasuki tahun kelima, apakah pemanfaatan APBD Sikka sudah menjawab visi misi Roma?
Publik sudah tidak asing lagi dengan main issues yang menjadi jualan utama paket Roma yakni pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Nian Sikka. Dalam konteks ini, pertanyaan lanjutannya yakni apakah hak-hak dasar masyarakat sudah terpenuhi? Atau hanya sekadar jualan belaka?
Pendidikan, pembukaan lapangan pekerjaan, kesehatan, peningkatan ekonomi, transportasi serta terpenting penyelenggaraan pemerintahan, apakah sudah terpenuhi?
Begitu juga korupsi, apakah sudah berakhir? Atau bisa jadi korupsi makin membabi buta pada dinas atau badan di Pemkab Sikka?
Hanya masyarakat Nian Tana Sikka sebagai penerima pelayanan tata kelola administrasi Pemkab Sikka yang bisa menjawab hal-hal tersebut di atas. Benar sungguh dilaksanakan, ataukah penuh janji melulu.
Pada era otonom dengan konsep desentralisasi, ruang kreativitas kepada pemimpin di daerah seharusnya lebih fleksibel.
Termasuk bagaimana pemimpin mengeksekusi dana bantuan pusat dan terutama menggali potensi-potensi yang ada di daerahnya menjadi barang jadi yang mempunyai nilai ekonomis demi menaikkan PAD.
Apakah Roma sudah mampu melakukannya selama empat tahun, dan sekarang masuk tahun kelima? Atau hanya bekerja berdasarkan belas kasihan pusat berupa DAK dan DAU?
Jika hanya mengandalkan bantuan pusat, itu artinya Roma untuk sementara bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang belum sepenuhnya memenuhi ekspetasi warga Nian Sikka.
Waktu bagi Roma tersisa 10 bulan lagi. Masih ada waktu dan belum terlambat bagi Roma untuk menaikkan kepercayaan publik Sikka. Roma harus lebih mengoptimalkan tata kelola pemerintahan sehingga memenuhi rasa kepuasan publik Sikka.
Jika tetap seperti sekarang ini, maka sangat terasa sekali tingkat kepercayaan terhadap Roma akan turun drastis hingga menjelang Pilkada Sikka 2024.***
Ditulis oleh Marianus Gaharpung, dosen FH Ubaya, tinggal di Surabaya















