




Raja Don Thomas peletak dasar pembangunan Kota Maumere, atas anjuran Mo’ang Boer Pareira da Rato menamakan titik lokasi di ujung Kampung Kabor itu dengan nama Madawat yang berarti pintu gerbang (gateway).
Pada tahun 1960-an Bupati Paulus Samador da Cunha membangun sebuah stadion untuk penyelenggaran giat olahraga sedaratan Flores. Itu stadion termegah se NTT di masa itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Stadion Madawat kemudian berubah menjadi Gelora Samador untuk mengenang jasa PS da Cunha, Bupati Sikka pertama.
Di tempat inilah Paus Yohanes Paulus II pernah hadir membawakan misa dan memberkati orang Flores pada tahun 1988. Sebuah peristiwa kunjungan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia yang belum tentu akan berulang kembali.
Perkembangan Terakhir
11 bulan meninggalkan lubang galian besar menganga di Gelora Samador, lubang eks peletakan batu pertama oleh Bupati Robby Idong bersama Uskup Maumere itu bak sebuah prank sebagaimana dikatakan Vicky da Gomez, wartawan senior Maumere.
Ini prihatin, memeangkan dan bisa jadi catatan cacat sejarah Maumere. Bupati Robby Idong secara sistemik maupun dengan kewibawaan sebagai Kepala Daerah, apalagi didukung oleh Uskup Maumere, sesungguhnya memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi dan gagasan yang baik itu.
Alih alih fokus membangun Menara Lonceng Yohanes Paulus II, Bupati justeru pernah mengekspose perlombaan pacuan kuda di lokasi tersebut. Apakah itu tindak pengalihan, atau?
Di masa lalu, Kaisar Roma yang tidak tahu lagi harus berbuat apa, mungkin karena tidak mampu, lalu dengan semangat carpe diem, menghibur warga Kota Roma dengan pertarungan gladiator. Agar rakyat tetap bodoh dan kehilangan daya kritis terhadap penguasa sembrono.
Pembiaran selama 11 bulan dan seterusnya itu sekaligus menunjukkan kegagalan dalam banyak hal.
Pertama, kegagalan dalam hal perencanaan dan manajemen yang sepertinya kacau balau. Isu kas daerah yang gelok alias iwa latu belakangan ini, adalah bukti tak terbantahkan dari mismanajemen seperti itu.
Seluruh stakeholders seperti Bupati dan DPRD Sikka, Bapa Uskup Maumere dan lain-lain semestinya berani tampil berbicara klarifikasi ke hadapan publik Maumere terkait penelantaran ini. Lopa tesu poi ko Baba.
Kedua, hal lain yang bisa diklaim sebagai kegagalan adalah ketidakmampuan dalam membangun komunikasi kemitraan dan jejaring (networking).
Bupati sebagai pencetus gagasan rasanya sangat lemah dalam hal konsolidasi ataupun promosi kepada berbagai pihak potensial baik lokal internal warga di Maumere, maupun kepada sumber-sumber pembiayaan dari luar seperti pemerintahan propinsi dan pusat, anggota DPR RI, investor, diaspora Maumere, pemerhati ataupun pecinta Maumere, jaringan misionaris, dan lain sebagainya.
Sekedar pembanding (lopa moro), Bupati seperti L. Say atau D.W. Palle, di saat negara belum punya uang pada era 1970-an mampu membangun Pensip, jembatan sandaran kapal di Sadang Bui, pasar, sekolah, dan infrastruktur lainnya justeru karena adanya komunikasi dan kemitraan kolaboratif yang sangat baik dengan Frans Seda, Pater Bollen, van Doormal, dan lain-lain.
Kalau kiriman uang gaji pegawai terlambat atau belum datang dari Jakarta, biasanya Bupati bisa pergi minta kasbon dulu dari Baba Amun atau Baba Kuda Mas misalnya.
Situasi dan kondisi Maumere sekarang jauh lebih baik dan berkembang. Mestinya pembangunan seperti Menara Lonceng Yohanes Paulus II itu mudah saja dan sudah tuntas.
Lihat kondisi Gelora Samador, kita Maumere jadi malu sama Lapangan Marilonga di Ende itu misalnya.
Pembangunan Berbasis Wisata Religius
Roma, Lourdes, Fatima, Mekkah, adalah contoh kota dan wilayah yang dibangun dengan donasi atau uang yang dikeluarkan para peziarah. Bukan dari hasil tambang atau industri.
Pembangunan berbasis wisata (religius) terbukti bisa menghasilkan akselerasi multiplier effect.
Kebutuhan akan infrastruktur pendukung, kompetensi SDM di berbagai bidang terkait muncul dengan sendirinya.
Turn over economy segera bergerak cepat dan terbentuk dari need and supply chain. PAD meningkat drastis.
Kalau setiap tahun anggaran, pemerintah daerah hanya tahu beres untuk menghabiskan dana injeksi bagi hasil dari pusat, ata ngangan di newan ko Nong.
Maumere dengan segala potensi kepariwisataan, termasuk aset kutural dan historis serta wisata religius, sesungguhnya memiliki peluang besar untuk bisa berkembang secara cepat.
Untuk itu dibutuhkan political will seluruh stakeholders, juga design atau blue print prioritas pembangunan serta integritas man behind the gun (bisa mole ngasiang).
Dengan demikian, upaya menghadirkan monumen Menara Lonceng Yohanes Paulus II itu misalnya bukan hanya sekedar sebagai landmark kota atau bagian dari character and identity resistence, namun juga akan mampu produktif dalam perspektif pengembangan wisata religius.
Dukungan Diaspora
Selalu ada rasa cinta dan rindu kampung halaman dalam hati sanubari setiap orang Maumere yang pergi melarat di manapun.
Tidak sekedar rasa, kerinduan itu juga mengandung harapan sekaligus dorongan agar Nian Sikka dapat maju berkembang menjadi Maumere Manise.
Keluarga Besar Maumere di Jakarta (KBM Jaya) adalah sebuah komunitas perantau Maumere di Jakarta yang selalu menyertakan kepedulian kepada kampung halaman pada setiap program kegiatan dan aktivitas.
Secara konkrit tercatat bahwa KBM Jaya telah ikut memberikan kontribusi banyak hal bagi pembangunan Maumere. Patung Kristus Raja di tengah Kota Maumere itu misalnya, adalah sumbangan warga KBM Jaya.
Blasius Bapa, sesepuh, sekaligus mantan Ketua Keluarga Besar Maumere Jakarta adalah sedikit dari penyintas kaum diaspora Maumere yang selalu peduli dengan kemajuan Maumere.
Dalam sebuah acara keluarga di Kewapante berapa bulan lalu, Blasius Bapa melontarkan sebuah challenge untuk mendirikan Basilika di Maumere. Luar biasa brilian dan visioner.
Pesan sekaligus tantangan ini kiranya sudah sampai ke telinga Bupati yang waktu itu tidak hadir di acara tersebut.
Bupati Robi Idong sebagai kepala daerah mestinya dengan siap legowo bisa melepaskan ego, mau menangkap peluang ini dan segera membangun komunikasi atau pendekatan untuk tindak lanjut.
Otonomi Daerah memberikan wewenang lebih besar bagi suatu daerah untuk mengelola percepatan pembangunan.
Otonomi Daerah itu bukan untuk menjadikan Bupati sebagai raja kecil 5 tahunan yang bertindak sendiri semau gue, suka suka ikut selera sendiri.
Tidak perlu jauh belajar sampai ke Israel, bagaimana negara kecil itu berjaya dibangun oleh warga diasporanya.
Kemajuan Palue dan Pemana di depan mata itu juga sebagian besar ditunjang oleh kaum perantaunya.
Seperti orang Minang misalnya, alangkah baiknya kalau seluruh potensi diaspora Maumere bisa ikut diajak partisipasi bersinergi kolaboratif membangun Nian Tana.
Ada orang kita di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Batam, Bali, Malaysia dan mancanegara lain.
Maumere itu punya Melki Mekeng, AHP, Johnni Plate, Robert Ndona Palle, Porta Nggedi, Petrus Selestinus, Roy Rening, Ense Solapung, Lukas Sadipun, Marianus Gaharpung, Didi Gudipung, dan lain-lain tokoh muda yang berhasil di manapun.
Kok membangun sebuah basilika atau monumen menara lonceng saja seperti kesulitan banget sih?***
Ditulis oleh Drs. GF. Didinong Say, diaspora Maumere, tinggal di Jakarta























