Ah, saya ingat Papua. Selain umbi-umbian, sagu adalah kekasih tanah di sana — adalah suatu kekeliruan serius “mengajak” orang Papua makan nasi, dan membuka lahan persawahan padi di pulau itu.
Alam semesta sungguh intelgen, cerdas dan cermat. Ia menyediakan segala sesuatu sesuai keadaan tanah tempat kita tinggal. Aneka umbi-umbian, biji-bijian seperti jagung, jawawut, ozo (Bahasa Ende) dan sebagainya, tersedia bagi kita yang tinggal di daerah yang cocok untuk mereka tumbuh dan hidup. Maka, kita, misalnya, tak perlu menanam apel atau bahkan kurma di Flores.
Perlu saya sampaikan di sini, sudah sejak lama Anand Krishna menganjurkan makan umbi-umbian dan kacang-kacangan selama apa yang disebut puasa Navaratri. Sepanjang sembilan hari puasa, orang tidak makan nasi. Pun, seingat saya, beliau menasehati kita untuk tidak perlu makan nasi tiga kali sehari — kebiasaan ini bermula di Majapahit, oleh imigran dari wilayah Asia lainnya yang mulai membudidayakan padi secara besar-besaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada Rabu pagi itu I got goosebumps. Saya merinding mendengar Pak Anand menyebut produk-produk tenun dengan bahan dan pewarna alamiah. Betapa tidak, praksis ini amat hidup pada beberapa komunitas adat di wilayah Kabupaten Sikka. Mereka membudayakan kerajinan tenun dengan pewarna alamiah. Dari sisi pariwisata, kebudayaan yang dirawat komunitas seperti Doka Tawa Tana, Bliran Sina dan Lepo Lorun menghidupkan dan memberdayakan diri mereka, sebagaimana Bank Dunia mendefinisikan culture is a medium for poverty alleviation.
Sejak terbitnya ensiklik Laudato Si, tobat ekologis menjadi tema sentral katekese tiap tahun di Keuskupan Maumere (KUM). Tahun lalu, kalau tidak salah ingat, tema katekese puasa adalah tentang menghormati dan mencintai Bumi. Dan, katekese puasa tahun 2024 bertema ekonomi ekologis.
Tobat ekologis, ajakan dan seruan moral spiritual memang mendesak dan terus-menerus dikampanyekan. Spiritualitas dan sikap kerja Gereja Keuskupan Maumere harus merasuki hati dan jiwa umat dan segenap pelayan pastoral. Apa gunanya kita rajin dan tekun dalam ibadah pribadi, sementara Bumi terus merintih dan gelisah karena pemanasan global yang terus memanggang dan meningkat dari tahun ke tahun.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












