Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan agama telah menjadi bagian dari realitas sosial yang harus diperhitungkan dalam pengaturan politik dan kolonial pada masa itu. Karena itu, memahami sejarah tersebut seharusnya membuat para pemimpin agama masa kini semakin menyadari bahwa Katolik dan Protestan memiliki perjalanan panjang dalam ruang sosial yang sama.
Perbedaan keduanya bukan alasan untuk membangun permusuhan baru, apalagi menjadikan ruang publik sebagai arena pertarungan identitas. Memahami sejarah dengan benar justru dapat membantu kita melihat bahwa kehidupan bersama jauh lebih tua dan lebih penting daripada perdebatan yang sedang viral hari ini.
Karena itulah, akan jauh lebih bermanfaat apabila kecerdasan generasi muda NTT diarahkan untuk menghasilkan sebuah buku mengenai sejarah Katolik dan Protestan di Nusa Tenggara. Buku tersebut tidak perlu menjadi arena pembuktian mengenai siapa yang lebih dahulu, siapa yang lebih unggul, atau siapa yang paling benar. Ia harus menjelaskan bagaimana kedua tradisi hadir, siapa saja yang terlibat, bagaimana respon awal masyarakat, bagaimana agama berinteraksi dengan adat dan kekuasaan, bagaimana pendidikan dan migrasi ikut membentuk komunitas, serta bagaimana dua tradisi kekristenan tersebut akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sosial NTT hari ini. Sumbernya pun harus beragam: arsip Portugis dan Belanda, dokumen gereja, catatan sekolah, sejarah kerajaan, silsilah keluarga, tradisi lisan, kesaksian masyarakat, dan penelitian akademik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah semacam ini akan jauh lebih berguna bagi generasi mendatang daripada mempertahankan pertengkaran yang tidak menghasilkan pengetahuan.
Peringatan mengenai bahaya perubahan identitas agama menjadi identitas sosial dapat dilihat dari pengalaman Irlandia Utara. Konflik di sana tidak lahir semata-mata karena perbedaan doktrin Katolik dan Protestan, tetapi berkembang dari persilangan sejarah kolonialisme, nasionalisme, politik, persoalan status konstitusional, serta ketimpangan sosial. Dalam proses tersebut, identitas Katolik dan Protestan menjadi salah satu penanda kelompok yang berhadapan.
Ketika agama berubah dari persoalan iman menjadi tanda “siapa kita” dan “siapa mereka”, perbedaan dapat berkembang menjadi prasangka, segregasi, diskriminasi, kekerasan, dan konflik berkepanjangan. Karena itu, Irlandia Utara bukan contoh bahwa Katolik dan Protestan pasti bermusuhan, melainkan peringatan tentang apa yang dapat terjadi ketika perbedaan identitas tidak lagi dikelola secara dewasa.


Ikuti Kami
Subscribe












