Gambaran lain dapat ditemukan di Glasgow melalui rivalitas sepakbola Celtic dan Rangers. Celtic secara historis kuat diasosiasikan dengan komunitas Katolik-Irlandia, sedangkan Rangers secara tradisional diasosiasikan dengan komunitas Protestan dan Unionis. Rivalitas kedua klub tersebut menjadi salah satu hal yang paling sering dikaitkan dengan sektarianisme di Glasgow.
Penelitian pemerintah Skotlandia menunjukkan bahwa identitas budaya, agama, dan politik dapat dibaca melalui afiliasi klub, sementara penanda seperti lagu, pakaian, bendera, sekolah, bahkan nama keluarga dapat memperoleh makna sektarian. Dampaknya tidak selalu berhenti di stadion, tetapi dapat memasuki hubungan sosial dan dalam kasus tertentu berkaitan dengan pengalaman diskriminasi, pengucilan, pelecehan, atau ancaman.
NTT tentu bukan Glasgow dan bukan Irlandia Utara. Sejarah, budaya, struktur sosial, dan pengalaman politiknya berbeda. Namun, perbandingan tersebut penting bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai peringatan terhadap sebuah mekanisme sosial: perbedaan doktrin dapat berubah menjadi identitas kelompok, identitas kelompok dapat melahirkan prasangka, prasangka dapat menghasilkan diskriminasi, diskriminasi dapat memperkuat segregasi, dan segregasi yang dibiarkan dapat menjadi bahan bakar konflik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itu, persoalan perdebatan agama di ruang publik tidak boleh dilihat hanya dari siapa yang menang secara argumentatif. Dua orang dapat selesai berdebat, tetapi ribuan pengikut dapat membawa emosi perdebatan tersebut ke dalam keluarga, lingkungan, sekolah, tempat kerja, dan hubungan sosial. Konflik besar sering kali tidak dimulai dari kekerasan, tetapi dari bahasa, ejekan, label, stereotip, dan kebiasaan memandang kelompok lain sebagai pihak yang harus dilawan.
Di sinilah tanggung jawab para tokoh agama dan para pengikutnya menjadi penting. Setiap tokoh tentu memiliki hak untuk menjelaskan dan mempertahankan keyakinannya, tetapi semakin luas pengaruh seseorang di ruang publik, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang menyertainya.
Ukuran keberhasilan sebuah perdebatan agama seharusnya bukan jumlah penonton, viralitas, atau banyaknya pendukung yang menyatakan seseorang menang, melainkan apakah masyarakat menjadi lebih dewasa memahami iman sekaligus semakin mampu menghormati sesamanya. Para pengikut pun perlu memahami bahwa perdebatan beberapa orang tidak boleh berubah menjadi permusuhan ribuan orang.


Ikuti Kami
Subscribe












