Bagi Nusa Tenggara Timur, kecenderungan ini patut diperhatikan karena Katolik dan Protestan bukan dua komunitas yang baru bertemu hari ini. Keduanya telah hidup berdampingan dalam sejarah yang panjang dan menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat. Perbedaan denominasi tidak menghapus hubungan keluarga, perkawinan, persahabatan, pendidikan, pekerjaan, kehidupan bertetangga, maupun ikatan adat.
Dalam banyak komunitas, orang dapat berbeda Gereja tetapi tetap menjadi saudara, menghadiri acara keluarga satu sama lain, saling membantu ketika berduka, menghadapi bencana, maupun mengalami kesulitan hidup. Kehidupan bersama semacam ini tidak lahir dari keseragaman iman, tetapi dari kemampuan masyarakat menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hilangnya perbedaan teologis, melainkan agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi permusuhan sosial.
Untuk memahami persoalan itu secara lebih mendalam, sejarah kehadiran Katolik dan Protestan di Nusa Tenggara perlu dibaca kembali secara serius. Keduanya tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang berkaitan dengan jaringan misi, pelayaran dan perdagangan, kekuasaan kolonial, mobilitas penduduk, pendidikan, politik, adat, serta interaksi dengan masyarakat lokal. Karena itu, sejarah tersebut tidak semestinya dipersempit menjadi pertanyaan mengenai siapa yang lebih dahulu datang atau siapa yang lebih benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Justeru kompleksitas sejarah itulah yang seharusnya mendorong generasi muda NTT melakukan pekerjaan intelektual yang lebih penting daripada perang komentar di media sosial: menyusun sejarah Katolik dan Protestan di Nusa Tenggara secara kritis, berimbang, dan berbasis sumber.
Sejarah Katolik di kawasan ini berkaitan erat dengan jaringan pelayaran Portugis dan misi Dominikan yang bergerak melalui Solor, Larantuka, Bola, Sikka, Paga, Ende, Numba, Lena hingga pulau Timor sejak abad ke-16. Miguel Rangel OP memiliki jejak dokumenter yang kuat dalam penguatan misi Solor-Larantuka. Dia mengirim João das Chagas ke Larantuka pada 1617 dan kemudian datang sendiri pada 1630 bersama para misionaris baru.
Nama Antonio Tavares juga muncul dalam sejumlah historiografi dan tradisi mengenai kedatangan awal Portugis dan Katolik di Timor. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah NTT harus dibangun dengan kritik sumber, membedakan antara tradisi, historiografi, dan bukti dokumenter, bukan memilih cerita yang paling menguntungkan kelompok tertentu.


Ikuti Kami
Subscribe












