Menjual Sikka melalui Festival Seni dan Budaya
Dibaca 81 kali
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sikka Frando da Lopez didampingi sejumlah kepala bidang sedang memberikan keterangan pers, Selasa (1211)
Maumere-SuaraSikka.com: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka akan menggelar Festival Seni dan Budaya Sikka. Kegiatan selama tiga hari, dilaksanakan sejak Kamis (14/11), bertempat di Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC) dan Kantor Bupati Sikka di Jalan Eltari. Festival ini adalah bagian dari strategi “menjual” Kabupaten Sikka ke panggung internasional.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sikka Frando da Lopez menjelaskan festival seni dan budaya dimaksudkan untuk mengangkat adat budaya lima etnis yang ada di Kabupaten Sikka. Lima etnis tersebut adalah Krowe, Muhan, PaluE, Lio, dan Tidung Bajo. Setidaknya terdapat 20 sanggar seni dan budaya di Kabupaten Sikka yang terlibat dalam festival ini.
Festival Seni dan Budaya Sikka akan diawali Pawai Budaya Sika yang dimulai dari halaman Gedung Sikka Convention Center (SCC) di Jalan Ahmad Yani pada pukul 15.00 Wita. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sikka Indah Pareira Mandalangi menuturkan dalam pawai tersebut akan diwarnai tarian kolosal. Tarian kolosal ini melibatkan 100 orang penari dari SMPN Tampil Maumere.
Hari pertama Festival Seni dan Budaya Sikka, akan disuguhkan berbagai pertunjukan dan atraksi seni dan budaya. Kelompok sastra STFK Ledalero akan membawakan doa dan musikalisasi puisi dalam 2 bahasa. Sanggar SMAK Bhaktyarsa menampilkan Nao Noang. Sanggar Bekon Bliran menyuguhkan teatrikal humanisme. Sanggar Raga Dara menggelorakan tarian tradisional Bebing. Sanggar Codo Sanda menampilkan Pesta Budaya Ata Nua Raja. Dan ditutup Sanggar Mawarani dan Rudun Blutuk Lero Bekor Nita yang memainkan Kesenian Togo dan Cerita Legenda Pohon Emas.
Eksplor kekayaan seni dan budaya di Kabupaten Sikka makin kuat pada hari kedua. Sanggar Sikka Haben Gawan mempertontonkan proses penyulingan minuman tradisional moke dan musik kampung. Lalu Sanggar Doka Tawa Tana meriwayatkan ritual Lodong Me. Kemudian Sanggar Bunga Key menampilkan ritual Tota Mitan Papa Telo Hura Maring.
Belum cukup di situ, Sanggar Lamalino dari Kojadoi menampilkan Pesta Budaya Masyarakat Etnis Tidung Bajo. Kemudian ada demo proses pengolahan makanan tradisional Bara Se dan tarian Penangkapan Ikan Se oleh Sanggar Gawi Ria. Ada juga proses pembuatan kain tenun ikat Sikka yang dipertunjukkan Sanggar Bliran Sina Watublapi.
Masih di hari kedua, akqan ditampilkan teknologi tradisional proses pembuatan Tudi Roding dan Musik Orkes Getaran Rimba dari Desa Nele Barat. Lalu ada Musik Sato dan Permainan Tradisional Sepa yang dibawakan Sanggar Bunga Nukak. Sanggar Bekor Bliran Kelurahan Beru mambawakan ritual Wua Mahe.
Kemudian ada lagi pertunjukkan permainan tradisonal Kotir dan Sanggeh dari Sanggar Nian Tanah. Lalu ada demo proses pembuatan garam tradisional oleh Sanggar Hogor Hini. Ddan ditutup dengan teatrikal Jong Lau Sadang Bui dari Sanggar Sadang Bui.
Di hari ketiga dilaksanakan lomba-lomba seperti lomba kuliner dan lomba tarian Gemu Fa Mi Re, dan diwarnai tarian Hegong tradisional massal. Festival Sinik dan Budaya Kabupaten Sikka ini akan ditutup dengan tarian Gemu Fa Mi Re massal.*** (eny)