Beberapa catatan kritis terkait penyelenggaran Pemilu 2024. Pertama, Pemilu menjadi arena rivalitas tidak sehat antarcaleg.
Serangan fajar menjadi praktik terang benderang yang kian tren. Perilaku kotor ini sangat boleh jadi belum mampu melahirkan wakil rakyat berkualitas dan bertanggungjawab. Nanti diamati saja 5 tahun ke depan, apa yang diperbuat di ruang Kulababong.
Kedua, Pemilu mendorong moral pragmatisme, baik calon legislatif itu sendiri, penyelenggara Pemilu, maupun masyarakat yang harga dirinya mudah diperjualbelikan uang/barang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketiga, Pemilu mengekalkan oligarki kekuasan sekaligus melahirkan orang-orang yang kecanduan akan kekuasaan.
Belum lama terpilih sebagai wakil rakyat, bahkan belum dilantik, kemudian bernafsu lagi menjadi Gubernur, Bupati/Walikota serta pejabat publik lainnya.
Keempat, Pemilu menimbulkan persoalan anggaran, memicu politisasi birokrasi, serta rentan terhadap konflik antarelit politik dengan melibatkan massa.


Ikuti Kami
Subscribe












