“Dengan demikian saya tidak memulai karya kegembalaan ini dari nol, tetapi berjalan di atas jejak para pendahulu yang telah mewariskan satu pijakan kuat bagi karya kegembalaan kami saat ini,” ungkap dia.
Dia mengatakan mendiang Uskup Sensi menginspirasi umat dan karya kegembalaan dengan semangat pewartaan yang tidak kenal lelah, mewartakan firman, baik atau tidak baik situasinya.
Menurut Uskup Ewal hal ini merupakan spirit bagi seorang pewarta militan yang memberi semangat untuk merasul dan bersaksi di tengah dunia. Apapun situasinya, sabda kebenaran dan cinta mesti terus didengungkan, diperdengarkan, dihayati dan dijalankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Uskup Sensi memberikan dasar untuk mendengarkan dan menghidupi sabda Sang Sabda,” ujar Uskup Ewal.
Setelah Uskup Sensi diangkat menjadi Uskup Keuskupan Agung Ende, umat Keuskupan Maumere digembalai oleh Mgr Kheru. Uskup Ewal menyebut Uskup Kheru merupakan salah satu uskup senior di Indonesia kala itu.
Pengalaman kegembalaan Uskup Kheru di Tana Sumba selama kurang lebih 22 tahun, menurut Uskup Ewal, menjadi perekat yang kuat untuk kegembalaan di Keuskupan Maumere.


Ikuti Kami
Subscribe












