“Terima kasih dan selamat jalan Bapak, Guru, Kakak dan pendahuluku. Engkau telah menyelesaikan pertandingan kehidupan di dunia ini dengan gemilang. Engkau telah meraih mahkota kemenangan. Kesetiaanmu sampai akhir hayat adalah kesaksian tentang cinta sang gembala sejati. Jadilah malekat pelindung dan pendoa bagi kami yang setia di hadapan Bapa di surga. Ragamu pergi, tapi jiwamu tetap tinggal bersama kami,”
Uskup Ewal juga tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat mengambil bagian dalam peristiwa duka ini.
Jejak Katolik
Sebelum memberikan pandangannya terhadap sosok Mgr Kheru, Uskup Ewal sempat menyinggung jejak-jejak Katolik di Keuskupan Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menyebut usia Keuskupan Maumere memang masih terbilang relatif muda. Tetapi, sejatinya, kata Uskup Ewal, jejak-jejak kekatolikan di Keuskupan Maumere telah hadir jauh sebelumnya.
Menurut catatan panglima Belanda yang bertugas pada tahun 1613, umat Katolik di maumere waktu itu sekitar 200 keluarga. Pada saat itu sudah ada pelayanan pastoral di Maumere, terutama di Kampung Sikka.
Uskup Ewal menyebut Stasi Maumere secara resmi menjadi sebuah Paroki pada tanggal 18 desember 1873, yang kini bernama Paroki Santo Yoseph. Sebelum menjadi Paroki, Stasi Maumere menjadi salah satu stasi dari Paroki Larantuka.


Ikuti Kami
Subscribe












