Saya ingat kotbah RD Laurens Noi pada misa perdana RP Bogdan Bata, SVD, 18 Oktober 2024. Meski tidak spesifik merujuk Markus 10:43-45, pesannya tegas, Imam adalah pelayan.
I know Father Laurens in person, and dare to say he is pastor bonus. Saya kenal Romo Laurens secara pribadi, dan berani mengatakan dia adalah pastor bonus — gembala yang baik. Beliau Pastor Paroki St. Gabriel, Waioti, Maumere.
Karena itu, dari pesan kotbahnya, saya membayangkan Imam adalah cahaya dan kekuatan di tengah kesuraman dan penderitaan hidup. Ia, Sang Imam, menolong dan memberi jalan keluar bagi umat yang sedang berkesulitan. Ia pendoa yang mensucikan diri dan umat. Ia tidak menghindar saat umat miskin memintanya untuk misa arwah. Dan seterusnya, dan sebagainya lakon seorang pelayan umat sejati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah kualifikasi Imam, pemimpin dan pelayan. Kualifikasi ini mesti dimiliki seorang Gubernur, Bupati, dan Walikota. Namun, acap kali kita mudah kagum untuk kemudian tertipu oleh penampilan fisik dan mulut manis. Sehingga Pilkada hanya melahirkan pembobol brankas daerah dan pedagang jabatan strategis di pemerintahan.
Mereka yang sudah khatam dengan urusan kesejahteraan dan kemakmuran pribadi, dan mau membaktikan hidup untuk melayani malah terdepak. Jangan sampai ini yang akan terjadi besok 27 Nopember 2024.
“Seandainya Imam dipilih langsung oleh umat, akan ada baliho berisi foto dan mottonya terpampang di sekitar gereja, di tepi dan tikungan jalan, dan di tempat-tempat strategis lainnya. Tapi, belum tentu Bogdan akan mendapat suara terbanyak,” demikian Romo Laurens mengandaikan pemilihan Imam seperti di musim Pilkada.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe











