Di mimbar misa perdana itu, sang pengkotbah menyemangati Imam baru dan umat yang hadir untuk menjadi pelayan yang berkarya mengikuti jejak Sang Kristus Yesus. Sambil menyimak kotbahnya, saya berimajinasi tentang model kepemimpinan Asta Brata dalam buku Ananda’s Neo Self Leadership yang ditulis Anand Krishna.
Tulis Anand, “Untuk menjadi pemimpin-pelayan sejati, di manapun dan di bidang apa pun, serta dalam skala apa pun, tak ada jalan lain selain memulai dari dalam diri sendiri. Dengan belajar memimpin dan menguasai serta mengendalikan diri. Jika belum mampu memimpin diri sendiri, jangan harap kita bisa menjadi pemimpin bagi orang lain.”
Mungkin di lain kesempatan kita akan membahas model kepemimpinan yang diuraikan Anand Krishna dalam buku tersebut di atas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemimpin yang telah memiliki pengendalian diri, semangat untuk melayani, kemampuan untuk mengoreksi diri, serta menguasai the art of leadership niscaya akan membuat masyarakat, bangsa dan negaranya menjadi lebih beradab dan sejahtera.
Kita mesti sungguh teliti memilih pemimpin-pelayan di setiap periode 5 tahun. Pasangan pemimpin yang betul-betul sudah makmur sejahtera. Mereka telah memperoleh berkah alam semesta yang disediakan Tuhan bagi manusia. Kini mereka bersyukur dan menyembah Dia dengan melayani sesama. Rakyat maju sejahtera, mereka meraih nama baik dan kemuliaan jiwa. Mereka pemimpin sekaligus pelayan dalam arti sesungguhnya.
“Engkau sudah jadi Imam. Engkau sudah milik Tuhan dan Gereja. Di mana pun engkau bertugas, jangan kirim kami uang, apalagi uang gereja. Jangan kirim kami barang-barang yang diambil dari gereja. Jangan pikirkan keluarga, Tuhan sudah atur dan jaga kami. Satu-satunya permintaan, kirimkan kami “nama baikmu” Ini sudah cukup bagi kami,” Romo Laurens mengakhiri kotbah dengan mengutip pesan ayahnya, saat ia merayakan misa perdana imamatnya 30 tahun silam.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












