Pada 3 kecamatan di Kota Maumere, yakni Alok, Alok Barat, dan Alok Timur, dengan jumlah pangkalan paling banyak dan jumlah kuota paling tinggi, harga jual juga tidak taat HET. Masyarakat harus beli di pangkalan dengan harga Rp 5.000/liter, dan lebih dari Rp 6.000/liter kalau belanja di pengecer.
Fakta-fakta ini sepertinya tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Tidak pernah terdengar pemerintah memberikan teguran tertulis atau pun lisan kepada agen. Begitu juga jarang terdengar agen “marah” terhadap pangkalan yang nakal, atau setidaknya menutup pangkalan yang sering bikin ulah.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Sikka Kandidus L Tolok mengaku pernah suatu waktu melakukan pemantauan untuk mencari tahu akar perasoalan kelangkaan minyak tanah dan harga yang meroket.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam upaya itu, dia sempat menemukan berbagai persoalan yang terjadi. Salah satu kasus yang ditemukan yakni sebuah pangkalan di Kota Maumere yang menjual minyak tanah ke Kecamatan Magepanda.
“Mereka jual pakai kendaraan tertutup. Saya pernah tegur,” ujar dia.
Kasus ini menunjukkan pengawasan terhadap aktifitas pangkalan belum dijalankan secara maksimal. Agen hanya menyalurkan minyak tanah, dan terkesan tanpa mau tahu alur yang terjadi dari pangkalan ke masyarakat dan harga jual dari pangkalan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












