Apabila ditambahkan kebutuhan cadangan pangan pemerintah daerah sebesar 10-20 persen, maka total kebutuhan sistem pangan Kabupaten Sikka berada pada kisaran sekitar 31.000 hingga 36.800 ton per tahun.
Kabupaten Sikka memiliki luas baku sawah sekitar ±2.078 hektar (Sikka Dalam Angka 2024), dengan indeks pertanaman (IP) pada kisaran 1-1,3. Dengan produktivitas rata-rata nasional 5-5,5 ton GKG per hektar dan konversi BPS 0,62-0,65 menjadi beras, maka kapasitas produksi beras daerah secara teknis berada pada kisaran ±6.400 hingga 9.650 ton per tahun. Artinya, dibandingkan dengan kebutuhan aktual, Kabupaten Sikka masih menghadapi kesenjangan struktural yang sangat besar.
Dalam konteks ini, defisit pangan yang disampaikan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka pada kisaran 24.000-30.000 ton per tahun tetap relevan sebagai gambaran ketergantungan daerah terhadap pasokan luar. Bahkan dengan koreksi demografi terbaru, tekanan kebutuhan pangan menjadi semakin tinggi, mempertegas bahwa persoalan pangan Sikka merupakan persoalan struktural, bukan sekadar fluktuasi produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam situasi tersebut, Bendungan Napung Gete di Kecamatan Waiblama menjadi infrastruktur strategis. Berdasarkan data Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, bendungan ini memiliki kapasitas ±11,9 juta m³. Jika alokasi untuk irigasi dengan volume 7,5 juta m³/ tahun dan kebutuhan air irigasi ±12.000 m³ per hektar per tahun, maka bendungan ini mampu melayani sekitar ±950 hektar sawah aktif. Dalam skema indeks pertanaman IP 2, potensi tanam meningkat menjadi ±1.900 hektar per tahun dengan produksi beras sekitar ±11.900 hingga 12.500 ton per tahun. Dengan tambahan ini, kapasitas produksi beras Kabupaten Sikka meningkat menjadi sekitar ±18.300 hingga 22.100 ton per tahun.
Namun jika dibandingkan dengan kebutuhan sistem pangan terbaru sebesar ±31.000 hingga 36.800 ton per tahun, maka masih terdapat kesenjangan sekitar ±8.900 hingga 18.500 ton per tahun.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan infrastruktur baru, tetapi sangat ditentukan oleh optimalisasi lahan eksisting melalui peningkatan indeks pertanaman dari IP 1-1,3 menjadi IP 2. Jika optimalisasi ini berhasil, maka produksi dari lahan eksisting dapat meningkat menjadi sekitar ±12.800 hingga 19.300 ton beras per tahun.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












