Sebab pada hakikatnya, persoalan utama bukan terletak pada Sambut Baru itu sendiri. Sambut Baru hanyalah wadah. Yang menentukan adalah bagaimana masyarakat menghayati dan merayakannya. Tradisi yang sama dapat menjadi ungkapan syukur yang indah, tetapi juga dapat berubah menjadi beban apabila kehilangan keseimbangan dan makna dasarnya.
Padahal jika melihat angka 5.359 calon Komuni Pertama tahun 2026, yang seharusnya pertama-tama dilihat bukanlah potensi biaya yang akan dikeluarkan. Yang seharusnya dilihat adalah ribuan anak yang sedang dipersiapkan untuk menerima Sakramen Mahakudus. Ada ribuan keluarga yang masih menempatkan iman sebagai bagian penting dari kehidupan mereka. Ada ribuan orang tua yang masih mendampingi anak-anak mereka bertumbuh dalam kehidupan menggereja.
Perspektif inilah yang sering hilang ketika perdebatan hanya berpusat pada angka dan pengeluaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tentu masyarakat perlu terus didorong untuk merayakan Sambut Baru secara bijaksana dan sesuai kemampuan. Gereja pun memiliki peran penting untuk mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam kemewahan yang berlebihan. Namun upaya itu sebaiknya dilakukan dengan membangun kesadaran, bukan dengan menyalahkan tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat selama berabad-abad.
Ironisnya, kesadaran untuk menyederhanakan perayaan sering muncul setelah seseorang tidak lagi berada pada fase itu. Ketika anak-anak mereka telah menerima Komuni Pertama, ketika pesta keluarga telah selesai dilaksanakan, atau ketika mereka sendiri pernah menikmati kemeriahan yang sama. Di situlah muncul pertanyaan: mengapa kesadaran itu tidak lahir lebih awal, ketika mereka sendiri masih menjadi bagian dari tradisi tersebut?
Di situlah letak paradoksnya. Kita mulai menghitung ketika semuanya sudah terjadi. Kita mulai mengingatkan ketika giliran kita telah lewat. Kita mulai berbicara tentang kesederhanaan setelah pernah menikmati kemeriahan yang sama.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












