

ROBI IDONG tergolong kader karbitan PDIP Sikka. Dia masuk PDIP setelah terpilih menjadi Bupati Sikka 2018-2023.
Sebagai kader karbitan, Robi Idong dinilai tidak layak untuk dicalonkan kembali sebagai Bupati Sikka pada Pilkada 2024. Alasannya, karena terdapat dosa asal bawaan lahir yaitu “sifat congkak” yang bakal mengganjal pencalonannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika PDIP ingin menang pada Pilkada Sikka 2024, maka pilihan sikap yang tepat adalah tinggalkan Robi Idong.
Kembalikan Alex Longginus kader “tulen” PDIP untuk memimpin dan membangun kembali PDIP Sikka yang sudah hancur berantakan dibuat Robi Idong, kader karbitan yang tidak paham visi misi dan suasana kebatinan PDIP.
Terdapat 7 (tujuh) karakter buruk Robi Idong akibat dosa asal bawaan lahir, yaitu sifat “congkak” yang bakal mengganjal perjalanan politiknya di PDIP.
1. Karakter “preman” (menerapkan premanisme dalam tatakelola pemerintahan di Sikka).
2. Memiliki kepribadian ganda.
3. Gaya kepemimpinan one man show.
4. Rendah kapasitas dan tanggung jawab.
5. Karakter mythomania (suka berbohong).
6. Mudah ingkar janji.
7. Psikopat (tidak memiliki rasa menyesal dan bersalah).
Bukti-Bukti Kecongkakan
Beberapa contoh kasus bisa diangkat sebagai bukti atau setidak-tidaknya sebagai indikator kecongkakan Robi Idong.
1. Robi Idong menghasut Ketua DPRD Sikka untuk duel dengan anggota DPRD saat sidang DPRD pada 17 Pebruari 2022.
2. Tiga orang Satpol PP dipukul Robi Idong di kediaman pribadinya pada 24 Maret 2021.
3. Pengawas bangunan nyaris ditendang saat meninjau Puskesmas Waigete pada 24 Juni 2021.
4. Pada 20 Juni 2023, melarang Joni Nura, wartawan MNC Group untuk mengambil video, hingga terjadi adu mulut dan menjadi viral.
5. Disoraki sebagai Bupati pembohong karena tidak memenuhi janji kampanye 100 hari usai terpilih jadi Bupati untuk menyelesaikan masalah tanah eks HGU Patiahu.
6. Puluhan proyek mangkrak, termasuk Jaringan Air Bersih IKK Kecamatan Paga Mata Air Ijukutu senilai Rp 4.205.065.378 dan lain-lain.
7. Janji membangun Menara Lonceng Santo Yohanen Paulus II di Gelora Samador di Maumere, di hadapan Uskup, Pimpinan DPRD Sikka dan umat Katolik, dengan modus groundbreaking, namun diingkarinya tanpa merasa berdosa.
Tidak Tampak Watak Kader PDIP
Dari rentetan 7 (tujuh) karakter buruk yang dirangkum dari berbagai peristiwa selama Robi Idong menjadi Bupati Sikka, terlebih-lebih setelah menjadi kader PDIP, muncul watak asli Robi Idong yang congkak yang dipertontonkan secara liar tanpa rasa malu dan bersalah.
Timbul pertanyaan, apakah Robi Idong sedang mengidap “kepribadian ganda”? Apakah PDIP tidak melalukan tes kepribadian ketika Robi Idong masuk menjadi anggota dan diposisikan sebagai kader PDIP tanpa proses pendidikan kader? Karena itulah Robi Idong disebut kader karbitan.
Kecongkakan Robi Idong juga berdampak buruk pada pembangunan Menara Lonceng Santo Yohanes Paulus II di Gelora Samador.
Di situ, Robi Idong hanya sebatas melakukan groundbreaking pada 2 Pebruari 2022, mengundang Pimpinan Gereja, Pimpinan DPRD Sikka dan tokoh M
masyarakat Sikka. Namun kehadiran tokoh-tokoh itu hanya dimanfaatkan untuk melegitimasi dusta yang dipamer, hingga Robi Idong dijuluki sebagi sedang tipu Tuhan.
Begitu pula mengenai puluhan proyek mangkrak di Kabupaten Sikka selama era Robi Idong. Rasa-rasanya uang rakyat hanya dihamburkan untuk kepentingan lain di luar tujuan membangun Sikka, tanpa ada jaminan bahwa proyek yang mangkrak itu akan dilanjutkan pekerjannya hingga akhir masa jabatannya.
BPK Audit Robi Idong
Pada tahap ini masyarakat Sikka harus mendesak BPK RI untuk segera mengaudit investigatif secara menyeluruh proyek-proyek yang mangkrak.
Hal ini guna memastikan berapa kerugian negara yang ditimbulkan, apakah ada peristiwa pidana korupsi di dalamnya, dan apakah Robi Idong dan kroni-kroninya dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atau tidak.
Banyak pemimpin daerah yang membuat peristiwa di daerahnya menjadi viral, namun yang jadi viral itu tentang prestasi membanggakan dari Bupati yang bersangkutan, bukan sebaliknya berita viral karena arogansi, kecongkakan, dusta dan perilaku tercela lainnya sebagaimana yang dipertontonkan Robi Idong selama 5 tahun memimpin Sikka.
Peristiwa memalukan terbaru adalah pada 20 Juni 2023, ketika warga dari Suku Soge dan Suku Goban menggelar aksi demo di lokasi eks HGU di Patiahu, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.
Kedatangan Robi Idong bersama keluarga, dengan angkuhnya itulah yang memancing emosi dan amuk warga Suku Soge dan Suku Goban, karena Robi Idong datang bukan membawa “solusi” tetapi menjadi “biang” masalah.
Warga Suku Soge dan Suku Goban masih terngiang-ngiang mengingat janji palsu Robi Idong yang waktu kampanye bahwa dirinya akan menyelesaikan kasus tanah eks HGU milik Gereja yang bermasalah dengan kedua suku itu, hanya dalam waktu 100 hari setelah terpilih jadi Bupati. Namun tidak dipenuhinya.
Kepemimpinan Defisit Kapasitas
Kehadiran Robi Idong di ruang publik saat aksi demo massa, justeru memancing emosi warga hingga diteriaki pembohong.
Itulah yang membuat naluri wartawan MNC Group, Joni Nura arahkan kamera shooting ke Robi Idong saat masih di dalam mobil. Dan Robi Idong memberi reaksi congkak melihat Joni Nura dengan sapaan “kau”, tanpa adab, tanpa mengindahkan sopan santun sebagai rasa hormat terhadap sesama.
Kehadiran Joni Nura dari MNC Group dan kawan-kawan dari media di TKP, jelas karena di mata masyarakat, wartawan sebagai salah satu profesi yang dilindungi UU dan menjadi ujung tombak dalam perjuangan, bukan wartawan preman. Karena itu siapa pun dia harus hormati wartawan.
Robi Idong seharusnya ingat bahwa dirinya tidak lebih hebat dari wartawan Joni Nura dari MNC Group terutama soal tanggung jawab profesi.
Di sinilah nampak betapa terjadi defisit wibawa dan defisit kapasitas Robi Idong sebagai Bupati Sikka yang nampak berada di titik nadir. Dia tidak tahu di mana dia berada dan mau melalukan apa termasuk ketika berada di lokasi Patiahu.
Robi Idong datang dalam urusan dinas, tapi untuk apa bawa istri dan anak ikut serta dalam setiap urusan dinas Bupati. Apakah di Patiahu ada undangan pesta sehingga sekalian mau pamer kecongkakan?
Inilah ciri kepribadian ganda, ciri defisit wibawa dan defisit kapasitas Robi Idong.***
Ditulis oleh Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat Perekat Nusantara















