Padongka di Pemana, Ritual Hanyutkan Bencana

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 20 Desember 2024 - 18:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 249 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana ritual Padongka, menghanyutkan bencana, Jumat (13/12)

Suasana ritual Padongka, menghanyutkan bencana, Jumat (13/12)

“Tentu tidak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Musibah bisa datang kapan dan di mana saja tanpa kita duga, untuk itu kita melakukan ritual menghanyutkan perahu yang mengangkut simbol hal negatif, perbuatan tidak baik, dengan maksud agar kita dihindarkan dari marabahaya atau bencana yang merugikan kita,” jelad Haji Ibrahim.

Dia menambahkan manusia tidak bisa menolak apapun yang telah ditakdirkan Allah. Karena itu umat Muslim dianjurkan untuk berikhtiar, berdoa, dan memohon keselamatan dari segala musibah.

Baca Juga :  Idul Adha di Sikka, 214 Sapi dan 95 Kambing Jadi Kurban, Bisa Capai Rp 2 Miliar Lebih

Salah satu caranya yakni dengan melantunkan doa agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ritual Padongka diawali dengan  upacara Hekombi Kampo dengan Rhatibi atau berdoa. Para pemangku adat dan tokoh agama di Pemana selama 1 minggu berjalan keliling kampung sambil berdoa.

Baca Juga :  Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah Se-NTT Bangun Sekolah Rakyat

Selama ritual Hekombi Kampo berlangsung, masyarakat dilarang membunyikan kendaraan, musik dan melakukan aktifitas lainnya yang dapat mengganggu kesakralan ritual.

Hekombi Kampo mulai dilaksanakan pada Malam Jumat 5 Desember 2024 hingga Malam Jumat 12 Desember 2024. Setelah itu keesokan harinya digelar ritual Padongka.*** (eny)

Berita Terkait

SMKS Yohanes XXIII Maumere Beri Beasiswa Pendidikan Khusus Bagi Siswa Baru
Kontroversi Gaji PPPK Paruh Waktu di Sikka, Tergantung Kondisi Keuangan Daerah
Maria Angela Yohanista Lulusan Terbaik SMPK Yapenthom 1 Maumere
Terima Amplop Kelulusan, Air Mata Bahagia Tumpah di SMPK Yapenthom 1 Maumere
Sekolah Jadi Tempat Ideal Implementasi Pancasila, Perlu Anggaran Lebih Banyak untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan
Pesan Kepala BPIP: Jadikan Pancasila sebagai Idiologi Hidup
Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah Se-NTT Bangun Sekolah Rakyat
Idul Adha di Sikka, 214 Sapi dan 95 Kambing Jadi Kurban, Bisa Capai Rp 2 Miliar Lebih
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:06 WITA

SMKS Yohanes XXIII Maumere Beri Beasiswa Pendidikan Khusus Bagi Siswa Baru

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:43 WITA

Kontroversi Gaji PPPK Paruh Waktu di Sikka, Tergantung Kondisi Keuangan Daerah

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:35 WITA

Maria Angela Yohanista Lulusan Terbaik SMPK Yapenthom 1 Maumere

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:54 WITA

Terima Amplop Kelulusan, Air Mata Bahagia Tumpah di SMPK Yapenthom 1 Maumere

Senin, 1 Juni 2026 - 10:32 WITA

Pesan Kepala BPIP: Jadikan Pancasila sebagai Idiologi Hidup

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:31 WITA

Mensos Gus Ipul Ajak Kepala Daerah Se-NTT Bangun Sekolah Rakyat

Rabu, 27 Mei 2026 - 20:32 WITA

Idul Adha di Sikka, 214 Sapi dan 95 Kambing Jadi Kurban, Bisa Capai Rp 2 Miliar Lebih

Senin, 25 Mei 2026 - 20:00 WITA

8 Pelajar SMKS Yohanes XXIII Maumere Sabet 7 Piala FLS3N dan O2SN

Berita Terbaru