“Tentu tidak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Musibah bisa datang kapan dan di mana saja tanpa kita duga, untuk itu kita melakukan ritual menghanyutkan perahu yang mengangkut simbol hal negatif, perbuatan tidak baik, dengan maksud agar kita dihindarkan dari marabahaya atau bencana yang merugikan kita,” jelad Haji Ibrahim.
Dia menambahkan manusia tidak bisa menolak apapun yang telah ditakdirkan Allah. Karena itu umat Muslim dianjurkan untuk berikhtiar, berdoa, dan memohon keselamatan dari segala musibah.
Salah satu caranya yakni dengan melantunkan doa agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ritual Padongka diawali dengan upacara Hekombi Kampo dengan Rhatibi atau berdoa. Para pemangku adat dan tokoh agama di Pemana selama 1 minggu berjalan keliling kampung sambil berdoa.
Selama ritual Hekombi Kampo berlangsung, masyarakat dilarang membunyikan kendaraan, musik dan melakukan aktifitas lainnya yang dapat mengganggu kesakralan ritual.
Hekombi Kampo mulai dilaksanakan pada Malam Jumat 5 Desember 2024 hingga Malam Jumat 12 Desember 2024. Setelah itu keesokan harinya digelar ritual Padongka.*** (eny)
Halaman : 1 2


Ikuti Kami
Subscribe












