Nelson Mandela, ikon perdamaian dunia, pernah berkata setelah kunjungannya ke Tahta Suci, “Kami mungkin berbeda dalam keyakinan, tapi kami bertemu dalam penderitaan dan harapan yang sama akan martabat manusia“.
Bahkan Vladimir Putin, pemimpin Rusia yang dikenal keras, selalu meluangkan waktu bertemu Paus setiap kali berkunjung ke Eropa Barat, karena “pengaruh Vatikan melampaui kebijakan, ia menyentuh batin bangsa-bangsa,” katanya.
Tidak hanya pemimpin Kristen, pemimpin dari dunia Islam pun turut berkunjung: Raja Abdullah II dari Yordania, Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, hingga raja UEA, Bahain dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas datang secara reguler.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka tidak datang sekadar untuk protokoler tetapi untuk berdialog dengan kekuatan moral yang dipercaya oleh berbagai bangsa untuk membahas perdamaian dan keadilan. Abbas menyebut Vatikan sebagai “cahaya spiritual bagi perjuangan kami“.
Soegijapranata dan Diplomasi Sunyi untuk Indonesia Merdeka
Jauh sebelum Indonesia dikenal dunia, Vatikan telah menunjukkan kepekaannya. Dalam masa-masa genting setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, saat pengakuan internasional masih samar, Vatikan melalui Uskup Agung Albertus Soegiyopranata memainkan peran penting dalam diplomasi diam-diam.
Sebagai tokoh Gereja dan patriot, Soegiyopranata adalah pahlawan nasional yang menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya soal senjata, tapi juga pengakuan global. Melalui jaringan Gereja Katolik di Eropa dan Amerika Latin, ia melakukan lobi-lobi senyap, memperkenalkan pemimpin Indonesia dan memperjuangkan legitimasi Republik.


Ikuti Kami
Subscribe












