Menurut arsip Vatikan dan kesaksian diplomat era awal kemerdekaan, Soegiyopranata menjalin komunikasi dengan Tahta Suci, mengirimkan pesan-pesan tentang realitas Indonesia yang sedang bangkit dari kolonialisme. Dukungan moral Vatikan menjadi sinyal penting bagi negara-negara lain, terutama di Eropa dan Amerika Latin yang mayoritas Katolik.
Vatikan kemudian menjadi salah satu negara pertama di dunia dan paling pertama di Eropa yang menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia. Fakta ini mendorong Presiden Soekarno melakukan lima kunjungan resmi ke Vatikan, dan memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada uskup Albertus Soegiyopranata dan menjalin hubungan erat dengan para Paus, dan menegaskan bahwa Indonesia menghargai kekuatan moral Vatikan sebagai penjembatan dunia.
“Soegiyopranata adalah diplomat Tuhan yang menjahit kemerdekaan dengan doa dan strategi sunyi,” ujar Franz Magnis-Suseno, filsuf Katolik Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Soegiyopranata adalah jembatan diplomatik senyap antara Jakarta dan dunia Katolik internasional,” ungkap sejarawan Vatikan, Prof Giovanni Miccoli. “Ia bukan sekadar uskup, tapi negarawan dalam jubah.”
“Saya 100% Katolik, 100% Indonesia,” kata Uskup Soegiyopranata
Runtuhnya Komunisme: Paus sebagai Bintang Penuntun
Ketika Tembok Berlin runtuh pada 1989, banyak orang merayakan kemenangan demokrasi dan pasar bebas. Namun, di balik layar, sosok yang tidak boleh dilupakan adalah Paus Yohanes Paulus II. Dialah, Paus asal Polandia, yang menjadi inspirasi dan pelindung gerakan perlawanan damai seperti solidaritas.
“Tanpa Paus, komunisme tidak akan runtuh secara damai,” kata Lech Walesa, peraih Nobel Perdamaian dan Presiden Polandia.


Ikuti Kami
Subscribe












