Kawasan Ekonomi Perikanan: Antara Retorika Pembangunan dan Ilusi Kebijakan

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 14 Mei 2025 - 08:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 802 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yohanes Don Bosco Ricardson Minggo

Yohanes Don Bosco Ricardson Minggo

WACANA pengembangan Kawasan Ekonomi Perikanan (KEP) kerap menjadi jargon pembangunan yang digaungkan dalam berbagai forum resmi, seolah-olah menjadi kunci masa depan pertumbuhan ekonomi maritim Indonesia.

Dengan retorika yang mengundang optimisme, KEP digambarkan sebagai episentrum aktivitas perikanan nasional mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga ekspor yang terintegrasi dalam satu kawasan berbasis infrastruktur moderen dan ditopang oleh sistem logistik yang efisien serta regulasi yang mendukung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Narasi ini bukan hanya membangun harapan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi branding pemerintah dalam mendorong investasi sektor kelautan dan perikanan.

Secara teoritis, konsep KEP memang memiliki daya tarik yang besar. Ia menjanjikan efisiensi rantai pasok, peningkatan nilai tambah produk perikanan, penciptaan lapangan kerja, hingga pemberdayaan ekonomi lokal berbasis sumber daya laut yang melimpah.

Dalam berbagai strategi KEP disebut sebagai model kawasan strategis yang mampu mengonsolidasikan potensi ekonomi perikanan dari hulu ke hilir dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Namun demikian, ketika narasi ini dihadapkan pada realitas empirik di berbagai daerah, terutama di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil, bayang-bayang pertanyaan besar tak dapat dihindari: Apakah KEP ini benar benar nyata dan sedang berjalan? Ataukah hanya sebatas ilusi kebijakan alias “halu” yang belum menapak ke bumi?

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 23:58 WITA

6 Janji Jenderal Suyudi Awali Langkah Jadi Kapolri

Kamis, 17 September 2026 - 22:07 WITA

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Jumat, 11 September 2026 - 08:50 WITA

Ciri-ciri Pelaku Penembakan di Papua Sudah Diketahui, Polisi Sita Selongsong Peluru

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WITA

KKB Pimpinan Egianus  Kagoya Tembak Mati 3 WNI, 1 Korban Asal Sikka

Senin, 7 September 2026 - 19:54 WITA

BPJS Kesehatan Bangun Standar Customer Excellence melalui CX126

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:35 WITA

Melchias Mekeng Resmi Pimpin Komisi XII DPR RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:33 WITA

NADI JKN, Solusi Jaga Keaktifan Peserta JKN

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:12 WITA

Sambut HUT ke-81 RI, Asosiasi Penambang Nikel Ajak Perkuat Hilirisasi dan Tata Kelola Mineral demi Wujudkan Negara Adidaya

Berita Terbaru

Daerah

Femi Bapa Resmi Jadi Sekda Sikka

Rabu, 7 Okt 2026 - 15:35 WITA