


STADION Marilonga mendadak berubah. Riuh ribuan penonton di venue berkapasitas 7.000 orang itu pelan-pelan menghilang. Para penikmat bola berjersey merah tidak lagi bersuara.
Hanya terdengar gedebuk drum dan chan penyemangat dari Red Boys 58. Kelompok supporter militan ini masih setia di 2 menit akhir. Setia di belakang Perse Ende, tim kebanggaan. Mereka baru berhenti berekspresi setelah pluit panjang mengakhiri laga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorak berisik justeru muncul di kubu pendukung setia Persena Nagekeo. Militan berjubah kuning yang jumlahnya tidak terlalu banyak menari riang di atas tribun. Dua menit seolah sangat lama sekali. Ada kekuatiran lahir gol penyeimbang.
Adalah Oan Teguh, sosok “pembunuh” malam itu. Pemain dengan nama lengkap Yohanes Cahya Nugraha Je Teguh itu tidak sia-siakan bola rebound hasil tangkapan tidak sempurna penjaga gawang. Tandukannya merobek jaring Putra Awaludin persis di menit ke-90.
Anang Halid mengayunkan dua tangannya ke udara. Seolah meminta pendukung Laskar Sekatalo untuk terus memberi semangat. Provokasi positip seperti ini sering terlihat di lapangan pertandingan. Dia tampak begitu emosional. Gol tercipta justeru lahir dari eksekusi tendangan bebas dirinya di depan bench Perse.
Perse tumbang di Babak 16 Besar. Tim tuan rumah seakan tidak bernyali dalam sisa waktu 2 menit. Kapten kesebelasan Adi Baba menangis tersedu. Dia tidak mampu sembunyikan wajah sedih. Jauh berbeda dengan kegarangannya mengklaim nyali Perse hanya di semifinal dan final.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe











