Tidak ada “pembunuh” di PSN seperti Frans Sabon, Yoris Nono, dan Okta Pone. Tim Oranye hanya punya Adam Aby yang diboyong dari Borneo. Dalam beberapa laga, pemain benomor 10 ini belum kasih tunjuk taji. Tapi memang harus hati-hati karena Adam Aby licik dan lincah. Dia pandai mencari ruang kosong. Laurentius Billy perlu konsentrasi penuh mengikuti penetrasi dan akselerasi pemain ini.
Desmond Nenobais, senior yang dibawa Persena dari Rote Ndao, jangan dianggap remeh. Pergerakannya masih berbahaya. Striker jangkung ini masih bisa diandalkan untuk berduel bola-bola di udara.
Lini tengah sepertinya masih menjadi milik PSN. Heron Ago, kapten kesebelasan yang menjadi dirigen, cukup cermat mengatur aliran bola. Rahmat Saputro mesti lebih lihai mengimbangi dan menutup pergerakan “manusia” satu ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Duel di partai puncak ini, kembali kepada sejauh mana racikan menu siap saji dari dua pelatih bertangan dingin, Kletus Gabhe versus Erasmus Marianus Dewadjo Aja. Dengan motivasi lebih menjadi tim yang layak naik podium, publik tengah menantikan “perang” di belakang layar antara guru dan murid. Dua allenatore yang sama-sama memahami tipikal dan karakter musuh.
So, laga Grand Final malam ini, bukan sekedar urusan kakak adik. Ini Grand Final penuh gengsi. Mental juara menjadi pertaruhan serius. Marilonga yang berkapasitas 7.000 penonton bakal dipadati dua warna baju: Oranye dan Kuning. Stadion keramat itu akan menjadi saksi lahirnya sejarah sepak bola NTT.
Raksasa sepak bola PSN sepertinya terus menjadi unggulan sebagai kampiun. Dia melibas nama-nama besar seperti PS Kota Kupang, Perseftim Flotim, Persim Manggarai, Perss Soe, Persab Belu, hingga Bajak Laut.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












