Sejarah dan Signifikansi Hari Rabu Abu

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 18 Februari 2026 - 09:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 213 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RD Quinn Galmin menandakan abu pada dahi umat Katolik di Gereja Thomas Morus Keuskupan Maumere, Rabu (18/2)

RD Quinn Galmin menandakan abu pada dahi umat Katolik di Gereja Thomas Morus Keuskupan Maumere, Rabu (18/2)

Abu ditaburkan pada para katekumen awal ketika mereka memulai masa persiapan untuk pembaptisan. Orang-orang berdosa yang mengaku dosa pada era itu juga ditandai dengan abu sebagai bagian dari proses pertobatan publik. Orang-orang Kristen yang telah dibaptis lainnya mulai meminta untuk menerima abu dengan cara yang mirip dengan para katekumen dan orang-orang yang bertobat.

Pria Kristen ditaburi abu di kepala mereka sementara abu digunakan untuk menggambar salib di dahi wanita. Dengan demikian, penggunaan abu sebagai tanda pertobatan, sebagai persiapan untuk Paskah, menjadi praktik yang meluas di Gereja.

Selama masa kepausan Santo Gregorius Agung, praktik ini diperluas lebih lanjut dan disebutkan dalam Sakramentarium Gregorian abad keenam. Sekitar tahun 1000, Kepala Biara Aelfric dari biara Eynsham, Inggris, menulis: “Kita membaca dalam kitab-kitab baik dalam Hukum Lama maupun Hukum Baru bahwa orang-orang yang bertobat dari dosa-dosa mereka menaburkan abu pada diri mereka sendiri dan mengenakan kain karung pada tubuh mereka. Sekarang marilah kita melakukan hal kecil ini di awal Masa Prapaskah kita, yaitu menaburkan abu di atas kepala kita, untuk menandakan bahwa kita harus bertobat dari dosa-dosa kita selama perayaan Prapaskah.”

Ritual yang sama tentang menaburkan abu pada hari Rabu yang menandai dimulainya Masa Prapaskah ini direkomendasikan untuk digunakan secara universal oleh Paus Urbanus II pada Sinode Benevento pada tahun 1091.

Jadi, ketika umat Kristiani pergi Misa pagi di hari Rabu Abu dan menerima abu yang diberkati di dahi, itu artinya mengulangi tindakan khidmat dan saleh yang telah dilakukan umat Katolik selama lebih dari 1.500 tahun. Seperti yang tertulis dalam “Tahun Liturgi, Septuagesima,” karya Abbot Benediktin Gueranger, yang ditulis pada pertengahan dekade 1800-an: “Kita memasuki, hari ini, kampanye panjang peperangan yang dibicarakan oleh para rasul: 40 hari pertempuran, 40 hari pertobatan. Kita tidak akan menjadi pengecut, jika jiwa kita dapat terkesan dengan keyakinan bahwa pertempuran dan pertobatan harus dilalui. Marilah kita mendengarkan kefasihan ritus khidmat yang membuka Masa Prapaskah kita. Marilah kita pergi ke mana pun Bunda Maria menuntun kita, yaitu, ke tempat kejatuhan.”

Baca Juga :  Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Seperti semua orang sebelumnya, umat Kristiani tanpa ragu menerima undangan menuju kesucian ini, saatnya untuk berpaling dari dosa. “Kita adalah bagian dari kumpulan saksi agung yang sepanjang zaman telah mengenakan abu, secara terbuka mengakui bahwa kita adalah orang Kristen yang telah berdosa dan berusaha untuk bertobat. Kita mengakui bahwa kita adalah debu dan kepada debu kita akan kembali.*** (*/eny)

Berita Terkait

Dinas PKO Sikka Diduga Membiarkan Pungutan di Sekolah
Pernah Hilang Saat Tsunami 1992, Mata Air di Talibura-Sikka Muncul Lagi Usai Gempa Bumi Tektonik
Fenomena Langka! Gempa Susulan Flores Nyaris 10 Ribu Kali, Mengapa Sesar Lain Ikut “Terbangun”?
Jello Sadipun Harumkan Sikka di Kejurnas Tarung Derajat, Sabet Emas dan Petarung Favorit Terbaik
Meski Masa Tanggap Darurat, Sekolah di Sikka Mulai Tatap Muka, Prioritaskan Keselamatan dan Fokus Hilangkan Trauma
Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026
Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT
Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 19:58 WITA

Dinas PKO Sikka Diduga Membiarkan Pungutan di Sekolah

Kamis, 3 September 2026 - 09:40 WITA

Pernah Hilang Saat Tsunami 1992, Mata Air di Talibura-Sikka Muncul Lagi Usai Gempa Bumi Tektonik

Selasa, 1 September 2026 - 19:26 WITA

Fenomena Langka! Gempa Susulan Flores Nyaris 10 Ribu Kali, Mengapa Sesar Lain Ikut “Terbangun”?

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:32 WITA

Jello Sadipun Harumkan Sikka di Kejurnas Tarung Derajat, Sabet Emas dan Petarung Favorit Terbaik

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:13 WITA

Status Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik di Sikka Diperpanjang Hingga 11 September 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:41 WITA

Kemdikti Gratiskan UKT 5.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:10 WITA

Ruang Tunggu Ambruk, 3 Orang Meninggal Dunia, PMKRI Maumere Desak Audit Forensik Pelabuhan Laurens Say

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:13 WITA

Rehab-Rekon Pascagempa Bumi di Sikka, Golkar Serukan Pakai Bantuan Presiden Rp 20 Miliar, BTT Jangan Diganggu

Berita Terbaru

Suasana Rapat Badan Anggaran DPRD Sikka, Kamis (3/9)

Daerah

Dinas PKO Sikka Diduga Membiarkan Pungutan di Sekolah

Kamis, 3 Sep 2026 - 19:58 WITA