Namun, pendidikan di NTT masih jauh dari cita-cita itu. Banyak lulusan SMA dan universitas justeru ingin pergi meninggalkan desanya. Mereka belajar keras bukan untuk membangun tanah kelahiran, melainkan untuk keluar darinya. Ini bukan kesalahan mereka, melainkan akibat dari sistem pendidikan yang tidak menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal. Akibatnya, potensi besar NTT — tanah, laut, budaya, dan solidaritas komunal — tetap menjadi cerita pinggiran.
Ambil contoh di Manggarai Timur. Banyak sekolah memiliki lahan kosong yang dibiarkan terbengkalai. Padahal, jika siswa dilibatkan untuk mengelola kebun sekolah, mereka akan belajar tentang ilmu tanah, ekonomi, dan tanggung jawab sosial sekaligus. Pendidikan seperti ini bukan sekadar belajar bertani, tapi belajar berpikir dengan akarnya sendiri.
Beberapa inisiatif lokal sudah menunjukkan arah baru. Di Sumba Timur, komunitas pendidikan alternatif menggabungkan pelajaran sekolah dengan kearifan lokal dalam pengelolaan air dan ternak. Anak-anak belajar meneliti sumber mata air, membuat sumur tradisional, dan menulis kisah leluhur tentang tanah. Mereka belajar sains sekaligus menghargai nilai spiritual dalam menjaga alam. Model seperti ini sejalan dengan prinsip ecological education — belajar dari alam untuk hidup bersama alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
NTT sesungguhnya menyimpan falsafah hidup yang berakar pada harmoni manusia dan alam. Pepatah seperti “tanah adalah ibu” atau “air adalah berkat” mencerminkan kesadaran ekologis yang mendalam. Filsafat ini bisa menjadi dasar bagi pendidikan kontekstual yang membebaskan — pendidikan yang menanamkan tanggung jawab ekologis sekaligus membangun kesadaran sosial.
Solusi dan Arah Pembaruan
Untuk keluar dari jebakan pendidikan yang tidak kontekstual, ada beberapa langkah konkrit yang bisa ditempuh pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil di NTT.
Pertama, pemerintah daerah perlu merancang kurikulum berbasis wilayah (place-based education) yang mengaitkan pelajaran dengan kondisi alam dan sosial budaya setempat. Misalnya, di daerah kering seperti Timor atau Sumba, pelajaran IPA dan IPS bisa dipadukan dengan praktik konservasi air dan pertanian lahan kering. Langkah ini dapat dimulai dari muatan lokal wajib (Mulok) yang disusun bersama guru, tokoh adat, dan komunitas lokal.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












