Pendidikan Kontekstual untuk Pembebasan Sosial di NTT

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 21 Oktober 2025 - 21:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 170 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laurensius Bagus, penulis

Laurensius Bagus, penulis

Namun, pendidikan di NTT masih jauh dari cita-cita itu. Banyak lulusan SMA dan universitas justeru ingin pergi meninggalkan desanya. Mereka belajar keras bukan untuk membangun tanah kelahiran, melainkan untuk keluar darinya. Ini bukan kesalahan mereka, melainkan akibat dari sistem pendidikan yang tidak menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal. Akibatnya, potensi besar NTT — tanah, laut, budaya, dan solidaritas komunal — tetap menjadi cerita pinggiran.

Ambil contoh di Manggarai Timur. Banyak sekolah memiliki lahan kosong yang dibiarkan terbengkalai. Padahal, jika siswa dilibatkan untuk mengelola kebun sekolah, mereka akan belajar tentang ilmu tanah, ekonomi, dan tanggung jawab sosial sekaligus. Pendidikan seperti ini bukan sekadar belajar bertani, tapi belajar berpikir dengan akarnya sendiri.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Beberapa inisiatif lokal sudah menunjukkan arah baru. Di Sumba Timur, komunitas pendidikan alternatif menggabungkan pelajaran sekolah dengan kearifan lokal dalam pengelolaan air dan ternak. Anak-anak belajar meneliti sumber mata air, membuat sumur tradisional, dan menulis kisah leluhur tentang tanah. Mereka belajar sains sekaligus menghargai nilai spiritual dalam menjaga alam. Model seperti ini sejalan dengan prinsip ecological education — belajar dari alam untuk hidup bersama alam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

NTT sesungguhnya menyimpan falsafah hidup yang berakar pada harmoni manusia dan alam. Pepatah seperti “tanah adalah ibu” atau “air adalah berkat” mencerminkan kesadaran ekologis yang mendalam. Filsafat ini bisa menjadi dasar bagi pendidikan kontekstual yang membebaskan — pendidikan yang menanamkan tanggung jawab ekologis sekaligus membangun kesadaran sosial.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Solusi dan Arah Pembaruan
Untuk keluar dari jebakan pendidikan yang tidak kontekstual, ada beberapa langkah konkrit yang bisa ditempuh pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil di NTT.

Pertama, pemerintah daerah perlu merancang kurikulum berbasis wilayah (place-based education) yang mengaitkan pelajaran dengan kondisi alam dan sosial budaya setempat. Misalnya, di daerah kering seperti Timor atau Sumba, pelajaran IPA dan IPS bisa dipadukan dengan praktik konservasi air dan pertanian lahan kering. Langkah ini dapat dimulai dari muatan lokal wajib (Mulok) yang disusun bersama guru, tokoh adat, dan komunitas lokal.

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WITA

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Uskup Maumere Kunjungi 92 Pasien RSUD TC Hillers Maumere yang Dirawat di Tenda Darurat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:21 WITA

Pascagempa Bumi Tektonik, 777,7 Ton Bantuan Mengalir Melalui Maumere dan Labuan Bajo

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 14:09 WITA

Pascagempa Bumi, Belanja Modal di Sikka “Hilang” Rp 12 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:00 WITA

PDI Perjuangan Lepas Kapal RS Laksamana Malahayati Bantu Korban Gempa di NTT

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:20 WITA

Longsor Ekstrim di Palue Akibat Gempa Bumi, Balai Jalan PUPR Kirim 3 Unit Exavator

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:37 WITA

Diaspora Flobamora di Papua Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi

Berita Terbaru

Salah satu rumah warga mengalami rusak berat akibat guncangan gempa bumi tektonik di Flores

Bencana Alam

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agu 2026 - 10:45 WITA