Kedua, sekolah dan universitas perlu menjadi pusat riset kecil berbasis masyarakat. Siswa dan mahasiswa sebaiknya tidak hanya belajar teori, tetapi juga meneliti realitas di sekitarnya. Contohnya, siswa SMA di Lembata bisa meneliti pola musim ikan, atau mahasiswa di Kupang bisa menulis laporan etnografi tentang cara masyarakat menjaga sumber air.
Ketiga, penting memberi insentif bagi guru dan pendidik yang berinovasi secara lokal. Saat ini, banyak guru kreatif yang justeru terhambat birokrasi. Pemerintah daerah harus memberi ruang bagi inovasi pendidikan yang berakar pada kearifan lokal.
Keempat, sekolah harus membuka diri terhadap kolaborasi dengan komunitas adat dan organisasi lokal. Di banyak kampung di Flores dan Alor, pengetahuan tradisional tentang musim, tanah, dan ternak bisa dijadikan bahan ajar. Sekolah tidak boleh berdiri di atas masyarakat, tapi menjadi bagian darinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akhirnya, pendidikan NTT perlu diarahkan bukan hanya untuk mencetak tenaga kerja, melainkan melahirkan manusia merdeka — yang sadar akan tanahnya, budayanya, dan masa depannya sendiri. Sebab seperti kata Freire, “pendidikan sejati adalah tindakan mencintai dunia dan berjuang mengubahnya.”
NTT tidak butuh sekadar lebih banyak sekolah, tetapi sekolah yang membuat anak-anaknya berpikir, berakar, dan berani mencintai tanahnya sendiri. Di sanalah awal dari pembangunan yang sesungguhnya — pembangunan yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga memerdekakan.***
Ditulis oleh Laurensius Bagus, mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta


Ikuti Kami
Subscribe












