Tantangan utama upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Sikka yaitu rendahnya upaya deteksi dini/penemuan kasus serta belum optimal menjangkau populasi kunci/berisiko serta menghubungkan individu terdiagnosa HIV AIDS ke pelayanan pengobatan dan mempertahankan terapi/pengobatan jangka panjang. Selain itu stigma dan diskriminasi yang menghambat akses tes, pengobatan dan layanan pencegahan.
TBC
Kasus TBC juga memberikan beban yang tinggi terhadap kesehatan. Kabupaten Sikka menempati peringkat 16 dalam kasus tertinggi TBC dari 21 kabupaten/kota di NTT.
Hingga Nopember 2025, terdapat 556 kasus, terdiri dari 4 kasus TBC Resistan Obat dan 552 kasus TBC Sensitif Obat. Kasus TBC yang ditemukan dan diobati sebanyak 42% masih di bawah target 90%.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Etha Bogar menyebut Data Succes Rate 2024, dari 528 kasus yang ditemukan dan diobati, yang sembuh dan pengobatan lengkap 432 kasus atau 81,8%. Selain itu masih ditemukan 19 kasus TBC-HIV, 18 kasus TB-DM, 4 kasus TBC kebal obat, 14 kasus TBC putus berobat, dan meninggal akibat TBC sebanyak 74 kasus.
Tantangan utama upaya penanggulangan TBC di Kabupaten Sikka yaitu masih rendahnya upaya deteksi dini/penemuan kasus secara aktif. Tingginya kasus kematian dan putus obat serta belasan TBC-HIV dan TBC-DM dan adanya kasus TBC kebal obat. Hal ini menunjukkan risiko penularan TBC terus berjalan di masyarakat.
Malaria
Penyakit malaria di Kabupaten Sikka, berdasarkan data kasus positif dalam 5 tahun terakhir bersifat fluktuatif dan menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada tahun 2022 sebanyak 915 kasus, tahun 2023 sebanyak 2 kasus dan tahun 2024 scbanyak 357 kasus. Hingga Oktober 2025, masih tersapat 91 kasus penularan setempat.


Ikuti Kami
Subscribe












